Kisah Teladan Abdul Qadir Jailani Kecil

7:23 PM
Sejak kecil Abdul Qadir Jailani sudah menunjukkan kelebihannya. Alkisah, dijelaskan bahwa ketika masih kecil, Abdul Qadir Jailani meminta izin kepada ibunya untuk menuntut ilmu di Baghdad. Pada malam hari keberangkatannya, sang ibu memberikan bekal uang sebesar 400 dinar yang ditaruh didalam baju Abdul Qadir Jailani kecil, dan dijahit dengan rapat sehinggga tidak ada orang yang mengetahuinya.

Kisah Teladan Abdul Qadir Jailani Kecil



Ketika kafilah dagang yang akan membawa serta Abdul Qadir Jailani kecil tiba dan siap untuk berangkat, sang ibu melepas kepergian Abdul Qadir Jailani dengan berat hati. Sebelum pergi, sang ibu berpesan untuk terakhir kalinya agar Abdul Qadir Jailani kecil selalu jujur dalam kehidupan. Sebagai anak yang diberkati, Abdul Qadir Jailani benar-benar mengingat pesan ibunya dan berjanji untuk selalu jujur.

Kafilah dagang itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan kampung halaman Abdul Qadir Jailani. Setelah setengah hari perjalanan, mereka sudah cukup jauh menempuh pejalanan hingga sampailah di sebuah tempat yang sepi dan jauh dari perkampungan penduduk. Tiba-tiba muncullah segerombolan perampok menghadang jalan mereka.

“serahkan semua barang yang kalian bawa !” kata seorang perampok dengan garang. Tanpa perlawanan berarti, para perampok itu berhasil menguasai semua barang-barang dagangan kafilah. Salah seorang perampok yang tampaknya merupakan pemimpinnya, mendekati Abdul Qadir Jailani dan bertanya, “Apa yang kau Punyai?”

“Ibuku menjahitkan uang 400 dinar didalam bajuku,” kata Abdul Qadir Jailani. Seketika itu sang perampok terkejut dengan pengakuan jujur Abdul Qadir Jailani.

“mengapa kamu berkara jujur padaku, padahal aku tidak akan mengetahui seandainya kamu tidak mengatakannya?” Tanya sang perampok. Dengan tenang Abdul Qadir Jailani menjawab, “ Sebelum berangkat ibu berpesan agar selalu jujur.”

Mendengar jawaban tersebut, sang pemimpin perampok tergetar hatinya dan seketika itu ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Ia pun kemudian bertobat dan mengizinkan kafilah untuk melanjutkan perjalanan.

Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah salah seorang ulama besar dan wali Allah SWT. Sejak kecil, beliau menampakkan kesalehan dirinya dan keutamaannya.

Dari kisah beliau diatas, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat diambil. Ketaatan dan kepatuhan kepada orang tua dan kejujuran akan mendatangkan keberkahan dan pertolongan Allah SWT. Ketaatan kepada orang tua adalah salah satu akhlak utama. Bahka Rasulullah SAW, pernah bersabda, “ Keridhaan Allah ada apa keridhaan orang tua. Kemurkaan Allah ada pula pada kemurkaan orang tua.” ( HR. Bukhari, At- tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-hakim.

Dalam hadits lain Rasulullah SAW mengkategorikan durhaka kepada orang tua sebagai salah satu dosa besar. Beliau bersabda, “ Maukah kalian aku kabarkan dosa yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan mendurhakai orang tua.”

Abdul Qadir Jailani berusaha untuk taat kepada ibunya, yaitu dengan melaksanakan pesan sang ibu untuk selalu jujur. Dalam hal ini, beliau melakukan dua kebajikan sekaligus, yaitu taat kepada orang tua dan bersikap jujur sehingga Allah SWT mendatangkan pertolongan dan menyelamatkan beliau. Allah SWT telah memerintahkan orang – orang beriman untuk selalu berkata jujur. Allah SWT berfirman :

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقولوا قَولًا سَديدًا

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab:70)

Secara sekilas apa yang dilakukan oleh Abdul Qadir adalah sebuah kebodohan, dalam pikiran orang awam. Jika saja beliau berbohong, mugkin perampok itu tidak akan mengetahui apa yang disembunyikannya. Namun beliau memilih untuk jujur dan dampaknya ternyata sangat luar biasa. Tidak hanya kejujuran telah menyelamatkannya dan rombongan kafilahnya, tetapi juga mendatangkan hidayah bagi orang lain.

Seandainya Abdul Qadir berbohong, maka hanya dirinyalah yang selamat, atau justru dia akan binasa apabila perampok tahu apa yang dibawanya. Sesungguhnya kejujuran benar-benar membawa keselamatan. Rasulullah SAW, bersabda , “perhatikanlah kejujuran. Apabila kamu memandang bahwa kebinasaan berada didalam kejujuran, maka sebenarnya didalamnya kejujuran adanya keselamatan.” (HR. Ibnu Abi Dunya).

Jujur merupakan karakter seorang muslim sedangkan dusta adalah sifat orang munafik. Walaupun seorang musli diperbolehkan berbohong dalam kondisi tertentu, pada dasarnya Rasulullah SAW sangat membaneci kebohongan Aisyah ra. Pernah., pernah berkata, “tidak ada akhlak yang paling dibenci Rasulullah SAW., lebih dari bohong. Apabila beliau melihat seseoran bohong dari segi apa saja , maka orang itu tidak keluar dari perasaan hati Rasulullah SAW., sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertobat. (HR. Ahmad)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon