Inilah Siksa Azab Di Alam Kubur Serta Penyebabnya

11:28 PM Add Comment
Sesuai dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, kenikmatan-kenikmatan atau azab di alam barzah akan dirasakan jasad dan roh. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya ar-Ruh " Ketahuilah, mazhab salaful Ummah dan para imam sunnah bersepakat bahwa seorang hamba setelah mati berada dalam nikmat atau azab di alam kubur. hal itu menimpa roh dan jasadnya. Setelah roh berpisah dari badan, maka ia terus berada dalam nikmat atau azab. Terkadang hal itu juga menimpa badan. Kemudian, pada saat kiamat besar, roh-roh tersebut dikembalikan ke badan lalu semuanya bangkit dari alam kubur.”(ar-Ruh: Ibnu qoyyim:53)

MuslimHarian.com - Sesuai dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, kenikmatan-kenikmatan atau azab di alam barzah akan dirasakan jasad dan roh. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya ar-Ruh " Ketahuilah, mazhab salaful Ummah dan para imam sunnah bersepakat bahwa seorang hamba setelah mati berada dalam nikmat atau azab di alam kubur. hal itu menimpa roh dan jasadnya. Setelah roh berpisah dari badan, maka ia terus berada dalam nikmat atau azab. Terkadang hal itu juga menimpa badan. Kemudian, pada saat kiamat besar, roh-roh tersebut dikembalikan ke badan lalu semuanya bangkit dari alam kubur.”(ar-Ruh: Ibnu qoyyim:53)

Banyak hadits yang menjelaskan tentang berbagai gambaran siksaan yang diterima oleh orang yang durhaka dalam kuburnya, diantaranya adalah Hadits Abu Hurairah radhiallahu'anhu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Salam telah mengabarkan kepada kita mengenai orang yang terbunuh di medan jihad yang mengambil Mantel dari harta rampasan dan mantel itu berubah menjadi api yang membakarnya di dalam kubur. Orang ini sebenarnya juga mempunyai hak terhadap harta rampasan namun ia mengambilnya sebelum dibagi.( HR. Bukhari)

Jurus Langit Yang Membuat Rezeki Mengalir Deras

5:06 PM Add Comment

Allah telah memberikan rezeki bagi masing-masing hamba-Nya. Rezeki itu tidak akan tertukar satu sama lain, meskipun rezeki sudah tersedia tapi kita harus tetap berusaha menjemputnya. Tidak mungkin jika kita berdiam diri saja, kemudian rezeki itu datang dengan sendirinya. Dalam suatu surah dikatakan “apabila penduduk negeri ini beriman dan bertaqwa maka Allah akan memberikan berkah dari langit dan bumi pada mereka. Namun apabila mereka mendustakan ayat-ayat Allah maka Allah akan memberinya siksa karena perlakuan mereka sendiri.”  Lalu jurus-jurus apa saja yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan rejeki?

Allah telah memberikan rezeki bagi masing-masing hamba-Nya. Rezeki itu tidak akan tertukar satu sama lain, meskipun rezeki sudah tersedia tapi kita harus tetap berusaha menjemputnya. Tidak mungkin jika kita berdiam diri saja, kemudian rezeki itu datang dengan sendirinya. Dalam suatu surah dikatakan “apabila penduduk negeri ini beriman dan bertaqwa maka Allah akan memberikan berkah dari langit dan bumi pada mereka. Namun apabila mereka mendustakan ayat-ayat Allah maka Allah akan memberinya siksa karena perlakuan mereka sendiri.”

Lalu jurus-jurus apa saja yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan rejeki?

Sholat wajib tepat waktu

Shalat adalah kewajiban bagi setiap orang muslim. Apabila kita sholat di waktu yang tepat maka dapat memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena Shalat adalah salah satu sarana kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Abdullah Ibnu Mas'ud radhiallahu Anhu berkata aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “ Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “lalu apa lagi?” beliau menjawab, “ berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad dijalan Allah.”( HR. Bukhari)

Oleh karena itu hendaklah kita sebagai seorang muslim terus meningkatkan kualitas ibadah shalat yang kita lakukan setiap harinya dengan baik dan benar. Semata-mata demi mendekatkan diri dengan Allah sang pemegang rezeki hamba-Nya.

Silaturahim

Manfaat lain dari membina hubungan antar sesama atau dalam bahasa Islamnya adalah silaturahim bahwa ia bisa membuat rezeki seseorang menjadi bertambah luas dan memperpanjang usia. Hal ini disitir dari hadis nabi Shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi, “Siapa yang ingin rezekinya diperluas dan umurnya panjang maka hendaknya Iya bersilaturahmi.” (HR Bukhari)

Patuh kepada kedua orang tua

Kemudian patuh kepada kedua orang tua, tentu sebagian dari kita ada yang bertanya-tanya apa hubungannya rezeki dan patuh kepada orang tua. Sebelumnya kita juga sering mendengar bahwa ridho Allah ada pada ridho orang tua khususnya ibu. Maka dari itu, mintalah doa restu orang tua di setiap langkah dan mintalah didoakan yang terbaik. Sungguh doa orang tua pada anak adalah doa yang mustajab niscaya rezeki mengalir deras karena jurus ini namun lakukanlah dengan penuh keikhlasan dan rasa kasih sayang jangan sampai rezeki belum datang penghormatan kita justru menghilang tidak mendapatkan rezeki yang diharapkan

Shalat Tahajud

Siapa yang meragukan baiknya berdoa pada saat sholat sunah tahajud. Sholat ini memiliki waktu yang sangat baik untuk berdoa, sebab pada saat inilah malaikat Allah turun dan mengamini setiap doa orang-orang yang melakukan shalat Tahajud. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda “Allah turun ke dunia atau bumi ketika 1/3 malam yang akhir. dan Allah berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepadaku maka akan aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepadaku maka akan aku berikan.Dan barangsiapa yang meminta ampun kepadaku maka akan aku ampuni.” (HR Bukhari).

Sholat dhuha

Shalat dhuha merupakan salah satu amalan untuk memperlancar rezeki. Shalat sunnah ini dilakukan menjelang siang saat matahari sepenggalah naik. Rokaat yang berjumlah 2 sampai 12 rokaat dalam doanya terdapat permintaan tentang rezeki yang begitu luas. Jika sering melakukan shalat ini, Insyaallah bisa memperlancar rezeki dari arah yang tidak kita duga sebelumnya.

Menikah

Allah akan mencukupkan rezeki bagi kita yang menikah hal ini selaras dengan isi satu ayat yang memerintahkan bagi kita yang sendiri dan siap atau layak untuk menikah. Maka segeralah menikah! Apabila mereka miskin maka Allah akan membuatnya kaya dengan karunianya.

Sedekah

Perumpamaan balasan sedekah ialah seperti kita menanam sebuah biji. Dari satu biji itu akan tumbuh 10 batang, dari sepuluh batang akan tumbuh 10 ranting. Maka Allah akan melipatgandakan sedekah yang kita berikan dengan ikhlas dari satu biji menjadi 100 kali lipat.

Berprasangka baik

Sebagai hamba Allah Kita harus berfikir positif terhadap apa yang ditakdirkan untuk kita. Jika memang kita belum mendapat rezeki, mungkin Allah subhanahu wata’ala sudah menetapkan rezeki lebih besar dari yang kita harapkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Sesungguhnya Allah disisi persangkaan hambanya dan Allah bersama hamba-nya ketika ia berdoa.” (HR muslim)

Itulah jurus pamungkas dalam meraih rezeki. Rezeki memang sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta'ala tapi hal yang terpenting adalah bagaimana cara mendapatkan rezeki tersebut. Jangan sampai kita mendapatkannya dengan cara mengambil dan merampas hak orang lain bahkan hingga menyakiti hati orang lain. Perhatikanlah juga keberkahan rezeki yang kita peroleh.

sumber image: flickr with comercial and mod allowed

Alquran Menantang Umat Manusia

11:59 PM Add Comment

Sastra dan puisi telah menjadi sarana ekspresi dan kreativitas manusia. Di semua budaya dunia juga menjadi saksi di mana sastra dan puisi pernah menjadi Primadona dan kebanggaan pada masanya.Hal tersebut mirip dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi pada zaman sekarang.

Sastra dan puisi telah menjadi sarana ekspresi dan kreativitas manusia. Di semua budaya dunia juga menjadi saksi di mana sastra dan puisi pernah menjadi Primadona dan kebanggaan pada masanya.Hal tersebut mirip dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi pada zaman sekarang.

Baik muslim atau non muslim sepakat bahwa Alquran adalah literatur berbahasa Arab bernilai tinggi. Al-quran juga telah menduduki posisi sebagai sastra Arab terbaik di muka bumi.

Alquran menantang umat manusia seperti termaktub dalam ayatnya:

وَإِن ڪُنتُمۡ فِى رَيۡبٍ۬ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٍ۬ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٢٣) فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ‌ۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ(٢٤)

Artinya : "Dan jika kamu [tetap] dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami [Muhammad], buatlah satu surat [saja] yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (23) Maka jika kamu tidak dapat membuat [nya] dan pasti kamu tidak akan dapat membuat [nya], peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (24)  (QS Al Baqarah 23-24)

Tantangan dari Alquran adalah membuat satu surat yang semisal dengan apa yang ada di Alquran. Tantangan serupa diulangi dalam beberapa ayat dalam Al Quran beberapa kali bentuk tantangan ini adalah membuat sebuah surah yang paling tidak mirip dengan keindahan kefasihan kedalaman makna dengan surah-surah yang ada di dalam Alquran. Ternyata Sampai detik ini tantangan itu tidak pernah terpenuhi.

Pemikiran rasional manusia zaman sekarang tidak akan pernah menerima pendapat kitab suci suatu agama yang mengatakan bahwa dunia itu datar meski telah dikemas dengan bahasa yang puitis dan menarik itu. Karena kita hidup di era dimana manusia telah mengalami kemajuan dalam logika dan sains.

Tidak banyak orang yang menerima Al Quran sebagai kalam Ilahi begitu saja lantaran keindahan bahasanya. Setiap kitab suci yang diakui sebagai wahyu ilahi juga harus diterima akal dan logika manusia.

Menurut Fisikawan terkenal dan pemenang hadiah Nobel Albert Einstein mengatakan “ilmu tanpa agama itu lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta.” Maka dari itu marilah kita pelajari Al Quran dan menganalisanya apakah akan sejalan dengan ilmu pengetahuan modern atau tidak.

Alquran bukanlah sebuah buku ilmu pengetahuan tetapi kitab yang berisi tanda-tanda dalam bentuk ayat-ayat di dalam al-qur'an terdapat lebih dari 6000 tanda dan hingga saat ini sudah lebih dari 1000 tanda yang selaras dengan ilmu pengetahuan

Kita ketahui bersama bahwa sains adalah sesuatu yang terus mengalami perkembangan. Di muslimharian.com ini saya hanya menghadirkan ilmu sesuai dengan fakta ilmiah bukan sekedar hipotesis dan teori-teori yang hanya berdasar pada asumsi apalagi tidak didukung dengan bukti.

sumber photo: flickr with commercial and mod allowed

Kisah Nabi Idris Alaihissalam

1:00 AM 1 Comment

  " dan Ceritakanlah Hai Muhammad kepada mereka, kisah Idris yang tersebut di dalam al-quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan Seorang nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
Tidak banyak keterangan didapat tentang kisah Nabi Idris, di dalam Al Quran maupun kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab sejarah nabi-nabi. Di dalam al-quran hanya terdapat dua ayat tentang Nabi Idris yaitu dalam surat Maryam ayat 56 dan 57 yang berbunyi sebagai berikut artinya :
" dan Ceritakanlah Hai Muhammad kepada mereka, kisah Idris yang tersebut di dalam al-quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan Seorang nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."

Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam, putra dari yarid bin mihla'eil bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam alaihissalam dan dia adalah keturunan pertama yang dikaruniai kenabian menjadi nabi setelah Adam dan Syith.

Nabi Idris menurut sementara riwayat bermukim di Mesir, di mana ia berdakwah untuk agama Allah mengajarkan tauhid dan beribadah menyembah Allah serta memberi beberapa pedoman hidup bagi pengikut-pengikutnya agar menyelamatkan diri dari siksaan di akhirat dan kehancuran serta kebinasaan di dunia. Ia hidup sampai berusia 82 Tahun.

Diantara beberapa nasihat dan kata-kata mutiaranya ialah:
1. Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.
2. orang yang bahagia, ialah orang yang mawas diri dan mengharapkan Syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal salehnya.
3. Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa, maka ikhlaskanlah niatmu, demikian pula puasa dan sembahyang mu.
4. Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.
5. Berita adlah kepada raja-raja mu Dan tunduklah kepada pembesar-pembesar Mu serta penuhilah selalu mulut mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.
6. Janganlah mengirim orang-orang yang mujur nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kemujuran nasibnya itu.
7. Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.
8. Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya, seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.

Dalam hubungan dengan firman Allah bahwa Nabi Idris diangkat ke martabat tinggi, Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa Nabi Idris wafat tatkala berada di langit keempat, dibawa oleh seorang malaikat, Wallahu a'lam bishowab


sumber photo :flickr, comercial and mods allowed licensed

Ketika Dunia Tidak Lagi Berharga

12:37 AM Add Comment
Sebagaimana Allah tegaskan dalam banyak ayat, diantaranya dalam Surat Al Hadid: 20, " ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat( nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. "
muslimharian.com - Seorang mukmin harus sadar dan mengerti tentang hakikat dunia dan akhirat. Dunia bagi seorang mukmin adalah tempat yang fana dan sementara, layaknya seorang musafir yang pasti akan kembali. Semua akan berakhir dengan datangnya kematian dan hari kiamat. Apa yang kita peroleh dan kita miliki menjadi hak bagi pewaris. Sedang kita sendiri kembali menuju dunia keabadian dengan membawa bekal yang kita siapkan sendiri dalam bentuk investasi amal. Karena itu, Islam mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam sandiwara dan permainan dunia yang penuh tipu daya. 
Sebagaimana Allah tegaskan dalam banyak ayat, diantaranya dalam Surat Al Hadid: 20, " ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat( nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. "


Kehidupan dunia dapat menipu siapapun, apalagi yang mudah tertipu. Namun yang jelas, hari yang pasti itu akan terjadi Bagi siapapun. Usia bukan menjadi syarat. Gelar akademik dan kekayaan tidak bisa menghalangi. Banyaknya teman dan pasukan tidak mampu mengubahnya. Hari itu adalah hari kematian bagi setiap anak manusia.

Dikisahkan, suatu hari, seorang raja yang saleh, Harun ar-Rasyid, pergi berburu. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seseorang yang bernama Bahlul. Harun berkata, " Berilah aku nasihat, hai Bahlul!"

Lelaki itu berkata, " wahai Amirul Mukminin, Dimanakah Bapak dan Abangmu sejak Rasulullah hingga bapakmu?"
Harun menjawab, "semuanya telah mati."
" Dimanakah istana mereka?" Tanya Bahlul.
" Itu istana mereka," jawab Harun. " di mana kubur mereka?"
"Ini, disini kubur mereka," jawab Harun.
Bahlul kemudian berkata, "Di situ istana mereka, di sini kubur mereka. Bukankah sekarang istana itu sedikitpun tidak memberi manfaat bagi mereka?"
"Kamu benar. Tambahlah nasihatmu, Hai bahlul! " kata Harun.
" wahai Amirul Mukminin, engkau diberi kuasa atas perbendaharaan kisra dan umur yang panjang. Apa yang dapat Kau lakukan? Bukankah kubur adalah perhentian terakhir bagi setiap yang hidup, kemudian engkau akan dihadapkan dengan berbagai masalah?"

" tentu, " kata Harun ar-rasyid.

Setelah itu harus pulang dan jatuh sakit tidak lama kemudian. Setelah beberapa hari menderita sakit, ajal pun menjemputnya. Dalam detik-detik terakhirnya. Dia berteriak kepada pegawainya, "kumpulkan semua tentara ku."

Tidak lama kemudian, datanglah mereka ke hadapan Harun lengkap dengan pedang dan perisai nya. Sungguh ramai, sehingga tidak ada yang tahu jumlahnya kecuali Allah., semuanya di bawah arahan Harun. Melihat mereka, Harun menangis dan berkata, " wahai Dzat yang tidak pernah kehilangan kekuasaan, kasihanilah hambaMu yang telah kehilangan kekuasaan ini." Tangisan itu tidak berhenti hingga ajal mencabut nyawanya.

Demikianlah kematian mengakhiri semua kehidupan dunia dengan segala warna dan dinamikanya. Kematian adalah awal dari kenikmatan atau penderitaan. Bagi orang-orang saleh, kematian merupakan awal kenikmatan Hakiki yang akan mereka rasakan. Sebaliknya bagi hamba yang durhaka, kematian adalah prahara dan musibah yang memilukan tanpa batas. Tidak ada yang mampu menyelamatkan dari prahara kematian, kecuali amal saleh yang kita lakukan. Masing-masing kita akan merasakan balasan amalnya. Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan apa yang dilakukan oleh para hamba-Nya. 
Semoga Allah selalu memberikan pertolongan dan ampunan kepada kita semua dan memudahkan kita untuk kembali kepada-Nya dengan Khusnul Khotimah. Amin 
sumber photo : Flickr with commercial use allowed.

Kalimat Yang Terlarang Diucapkan Ketika Berdoa

11:25 PM 1 Comment
 
muslimharian.com - Seringkali ketika kita berdoa yang tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang sejatinya terlarang. Bisa saja karena kita mengucapkan kata-kata itu, doa kita tidak di kabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Penasaran kan ! Apa saja kalimat-kalimat terlarang itu? Nah langsung saja simak pemaparan berikut ini.
 
muslimharian.com - Seringkali ketika kita berdoa yang tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang sejatinya terlarang. Bisa saja karena kita mengucapkan kata-kata itu, doa kita tidak di kabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Penasaran kan ! Apa saja kalimat-kalimat terlarang itu? Nah langsung saja simak pemaparan berikut ini.

Ketika manusia sedang diberikan ujian dan cobaan atau sedang membutuhkan sesuatu yang penting. Seorang muslim pasti langsung memanjatkan do’a pada Allah subhanahu wata’ala. Tak lain untuk diberikan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang ada. Berdoa merupakan aktivitas spiritual dari seorang hamba untuk meminta sesuatu kepada sang pencipta. Bagi umat islam berdoa biasanya dilaksanakan seusai shalat baik itu shalat wajib maupun sunnah. Berdasarkan definisi doa memiliki arti yaitu memohon hajat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Berdoa dapat menyembuhkan penyakit

Selain dikabulkan ternyata berdoa juga bisa menyembuhkan penyakit. Pada tahun 1996, Nancy snyderman melakukan penelitian agama dan terapi penyembuhan penyakit dan ia mendapat kesimpulan bahwa terapi medis yang tidak diiringi dengan doa tidak dapat bekerja dengan maksimal, begitu pula do’a yang tidak di iringi dengan terapi medis. Berkaitan dengan ini Utsman bin Abil Ash radiallahu ‘anhu pernah meriwayatkan, “ Aku pernah mengalami sakit yang hamper membunuhku. Kemudia Rasulullah berkata: ‘Pijatlah dengan tangan kananmu tujuh kali, dan katakanlah : Aku minta perlindungan atas kekuasaan dan kehendak Allah, dari segala kejahatan yang aku temui.’ Kemudian Aku melakukannya dan Allah menghilangkan sakit yang kualami. Kemudian aku menganjurkan cara ini kepada keluargaku dan orang-orang lainnya.” ( HR. Abu Dawud)

Tapi berdoa tak hanya berdzikir lalu meminta, justru lebih dari itu dan ada adab yang mengaturnya. Hal inilah yang terkadang dilupakan oleh kita seperti berdoa di waktu yang mustajab, setiap sepertiga malam terakhir, saat sujud, antara adzan dan iqomah dan sebagainya. “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-KU akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Mu’min:60)

Ketika kita sudah bersungguh-sungguh dalamm berdoa dan selalu berdoa di waktu yang mustajab. Tetapi doa kita belum dikabulkan juga. Seketika setan langsung merayu kita sehingga kita langsung berburuk sangka pada Allah.sehingga berfikiran “Mengapa Allah tidak juga mengabulkan doa saya? Atau Allah tidak sayang kepada hambanya ini?” jika sudah memiliki pemikiran seperti itu, sebaiknya seorang muslim interospeksi diri dan ambill hikmahnya mengapa Allah belum juga mengabulkan doa kita. Atau bisa saja tanpa disadari ketika berdoa kita mengucapkan kalimat-kalimat yang terlarang. Dalam berdoa ternyata ada kalimat terlarang yang tidak boleh di ucapkan. Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam pun sudah menjelaskan bahwa kalimat ini sering di ucapkan namun sebenarnya tidak diperbolehkan. Lalu apa kalimat terlarang tersebut?

“Ya allah jika Engkau berkenan” itu adalah kalimat terlarang

Kalimat ini sering diucapkan oleh sebagian umat islam saat berdo’a, bahkan diantaranya beranggapan baiknya menggunakan kalimat ini ketika berdo’a. karena memang sepintas sepertinya tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Namun ternyata Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam lebih mengetahui kehendak Allah dari pada kita. Melalui Rasulullah Allah subhanahu wata’ala menyampaikan bahwa kalimat ini tidak disukai-Nya. Dan umat dilarang mengucapkan ini ketika berdoa. Kalimat itu adalah “ Ya Allah jika Engkau berkenan berilah hambamu uang yang banyak” atau “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki”. Itulah yang menjadi kalimat terlarang ketika berdo’a. sepintas tidak ada yang salah, bukan?

Mungkin diantara kita sering mengucapkannya seusai sholat, karena kalimat ini terkesan lembut dan tidak memaksa Allah ketika meminta dan bentuk ketidaksungguhan dalam memohon. Namun ternyata kalimat tersebut tidak boleh diucapkan. Rasululllah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa bila salah seorang dari kalian berdo’a, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon dan janganlah ia mengucapkan ‘Ya Allah jika Engkau berkenan maka berilah aku.’ Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya. ( HR. Bukhari) seorang ahli tafsir Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah menjelaskan tentang hadist tersebut. tersirat dari hadist tersebut bahwa menurutnya tidak ada yang dapat memaksa Allah subhanahu wata’ala. Allah hanya melakukan apa yang dikehendakinya dan Allah hanya mengabulkan apa yang dikehendakinya.

Ternyata ketika berdoapun ada adabnya dan ada peraturan yang harus kita tahu, karena jangan sampai ketika sudah berdo’a sungguh-sungguh tetapi kita mengucapkan kalimat yang tidak disukai oleh Allah subhanahu wata’ala. Ketika memanjatkan do’a, baiknya kita untuk bersungguh-sungguh dalam meminta, berdoa dengan hati yang amat khusuk, merendahkan diri kemudian merasa diri orang yang sangat fakir dan membutuhkan Allah. Serta jangan kita memaksa Allah untuk mengabulkan do’a kita. Karena Allah Maha Tahu apa yang dikehendaki-Nya.

Insya Allah dengan adanya informasi ini kita jadi semakin rajin shalat, berdoa dan mendekatkan diri pada Allah subhanahu wata’ala. Amin !


Celakalah Mereka Yang Shalatnya Sia-sia

12:12 AM Add Comment
Kalau kita beramal tidak di terima oleh Allah, lalu apa yang kita harapkan? Padahal kita semua akan kembali kepada Allah. Semua yang kita miliki dan kerjakan akan ada perhitungannnya. Tentu kita akan menemui kerugian yang nyata.

Perlu diketahui, bahwa ketika Allah memerintahkan sebuah kewajiban kepada hambanya, bukan berarti Allah membutuhkan kita. Tidak ! Allah tidak membutuhkan apapun dari kita. Allah Maha Kaya dan seluruh makhluk di alam semesta semuanya fakir, butuh kepada-Nya. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi maha terpuji.” ( QS: Fathir:15). Untuk itu, sebenarnya semua manfaat ibadah itu dimaksudkan untuk kita sendiri, baik di kehidupan dunia maupun akhirat. Di akhirat, kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan dunia, yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun di kehidupan dunia, hamper seluruh ibadah mempunya efek kontan yang bisa kita rasakan.

Ustadz Pun Harus Belajar Ikhlas Dalam Berdakwah

9:34 PM Add Comment
Pernah kita mendengar pendapat sebagian orang dalam mengkritisi seorang ustadz. Terutama yang sudah populer di layar kaca. Para ustad itu layaknya seorang artis dengan bayaran yang tinggi. Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini , wajar-wajar saja karena mengingat program televisi juga didanai oleh sponsor dalam menayangkannya. Akan tetapi bagaimana jika seorang ustadz ini berdakwah di tengah masyarakat diluar media televisi, Seenaknya memasang tarif yang tinggi diluar sewajarnya? bukankah kita diperintahkan untuk berdakwah tanpa mengharap imbalan apapun ? Berikut pemaparannya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi agar amal ibadah kita di terima oleh Allah subhana hu wata’ala. Yaitu pertama niat ikhlas karena Allah. Kedua, beramal harus sesuai dengan ketentuan syariat. Ikhlas adalah pokok ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan kunci deterimanya sebuah amal di sisi Allah subhanahu wata’ala. ( Ibnu Taimiyah, Majmu fatawa 10/49)

Ikhlas memiliki makna memurnikan seluruh niat amal kebajikan dan aktivitas yang akan, sedang, dan telah kita kerjakan, semata hanya karena Allah subhanahu wata ‘ala. Seseorang yang ikhlas karena amalnya harus berani memerdekakan dirinya dari segala harapan selain kepada allah subhanahu wata’ala. Ia hanya menjadi hamba Allah yang menciptakannya. Orang yang ikhlas harus pula berani membebaskan dirinya dari segala bentuk intervensi apapun yang bisa memperkeruh kemurnian amalnya. Orang yang ikhlas akan terus beraktivitas dalam kebaikan, baik dipuji atau di cela. Karena dia hanya mengharapkan balasan dari Allah. Untuk mencapai tahap itu, perlu latihan untuk mencapai puncak keihklasan.

Pernah kita mendengar pendapat sebagian orang dalam mengkritisi seorang ustadz. Terutama yang sudah populer di layar kaca. Para ustad itu layaknya seorang artis dengan bayaran yang tinggi. Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini , wajar-wajar saja karena mengingat program televisi juga didanai oleh sponsor dalam menayangkannya. Akan tetapi bagaimana jika seorang ustadz ini berdakwah di tengah masyarakat diluar media televisi, Seenaknya memasang tarif yang tinggi diluar sewajarnya? bukankah kita diperintahkan untuk berdakwah tanpa mengharap imbalan apapun ? Berikut pemaparannya.

Bagaimana Berdebat dengan Para Munafiq Sejati

2:11 AM Add Comment

 Lalu bagaimana cara kita jika terlibat dalam suatu perdebatan bersama para munafik? Haruskan kita mengalah atau terus berargumen dengan ilmu yang ada sampai orang tersebut tak bisa mengelak lagi. Berikut pemaparannya !

Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat kadang terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Biasanya salah satu pihak tidak mau kalah dan terus berargumentasi bahkan terkadang membantah ilmu yang sudah ada dan memaksakan pahamnya sendiri. Meskipun pahamnya tersebut cenderung tak masuk akal dan terkesan berbelit-belit. Nah jika anda merasa demikian maka segeralah mohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebab bisa jadi anda terperangkap dalam 4 sifat munafik yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Abdullah bin Amr berkata Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa tertanam dalam dirinya 4 hal, maka ia benar-benar seorang munafik sejati. Dan barang siapa dalam dirinya terdapat salah satu dari 4 hal, maka dalam dirinya tertanam satu kemunafikan sehingga ia meninggalkannya. Yaitu pertama, apabila berbicara ia berdusta. Kedua, apabila membuat kesepakatan ia menghianati. Ketiga, apabila berjanji ia mengingkari. Ke empat, apabila berdebat ia tidak jujur.” (HR. Muslim)

Lalu bagaimana cara kita jika terlibat dalam suatu perdebatan bersama para munafik? Haruskah kita mengalah atau terus berargumen dengan ilmu yang ada sampai orang tersebut tak bisa mengelak lagi. Berikut pemaparannya !

Jodoh dan Rezeki Takdir Allah atau Usaha Manusia

2:06 PM Add Comment

Sabar saja jodoh akan datang sendiri, jika sudah waktunya. Ungkapan ini memang cukup menentramkan hati. Meski belum juga menemukan seorang pendamping dalam hidup. Meyakini kalimat ini adalah cara paling ampuh untuk menenangkan diri sebagian orang. Ya, sama hal nya dengan jodoh yang diyakini telah ditentukan oleh Allah semenjak manusia belum diciptakan dan telah ditulis di Lauhul Mahfudz. Rezeki pun dianggap telah lama digariskan oleh Sang Maha Pencipta.

Sabar saja jodoh akan datang sendiri, jika sudah waktunya. Ungkapan ini memang cukup menentramkan hati. Meski belum juga menemukan seorang pendamping dalam hidup. Meyakini kalimat ini adalah cara paling ampuh untuk menenangkan diri sebagian orang. Ya, sama hal nya dengan jodoh yang diyakini telah ditentukan oleh Allah semenjak manusia belum diciptakan dan telah ditulis di Lauhul Mahfudz. Rezeki pun dianggap telah lama digariskan oleh Sang Maha Pencipta.

Makam Ahlul Bait di Damaskus Syiria

11:09 PM Add Comment
Tanah perkuburan Bab As-Saghir di pinggir kota damaskus merupakan salah satu pekuburan yang didalamnya terdapat makam ahlul bait, atau keluarga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejak ratusan tahun lamanya. Salah satu dari makam ahlul bait terkenal disini ialah makam Ummul Mukminin Hafsyah binti Umar bin al-Khathab.
 
Tanah perkuburan Bab As-Saghir di pinggir kota damaskus merupakan salah satu pekuburan yang didalamnya terdapat makam ahlul bait, atau keluarga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejak ratusan tahun lamanya. Salah satu dari makam ahlul bait terkenal disini ialah makam Ummul Mukminin Hafsyah binti Umar bin al-Khathab.

Hafsyah terkenal dengan sambungannya pada pengumpulan dan penyusunan Al-Qur’an untuk pertama kalinya di bawah khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan. Beliau diberi kepercayaan menyimpan Al-Qur’an yang siap terkumpul dirumahnya. Semasa pemerintahan Utsman bin Affan, Al-Qur’an yang disimpan oleh Hafsyah menjadi rujukan para sahabat yang ditugaskan untuk menyalin Al-Qur’an kembali ke dalam bentuk mushaf.

Perkawinan pertama Hafsyah dengan sabahat Nabi, Khumais bin Khuzaifah bin Qais bin ‘Adi as-Sahni al-Quraisyi berakhir dengan gugurnya Khumais di medan Uhud, ketika itu umur Hafsyah baru 18 tahun. Umar bin Khattab berduka cita melihat anaknya yang masih muda itu kehilangan suaminya. Setelah masa ‘iddah Hafsyah habis, Umar berniat mencarikan suami pengganti buat anaknya. Umar bertemu dengan sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan. Lalu menawarkan anaknya untuk dikawini oleh salah seorang di antara mereka. Akan tetapi keduanya tidak memberikan jawaban yang di harapkan. Umar begitu sangat kecewa, lalu menyuarakan perasaannya pada Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah menenangkan hati sahabatnya itu seraya bersabda, “Hafsyah akan menikah dengan laki-laki yang lebih mulia daripada Utsman, sedangkan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih mulia daripada Hafsyah.”

Sabda itu menenangkan hati Umar, karena maksudnya adalah Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam sendiri akan mengawini Hafsyah. Menjadi mertua Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Merupakan kebahagiaan yang tiada bandingannya buat Umar bin al-Khattab.

Perkawinan ini berarti memposisikan Umar setaraf dengan Abu bakar ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan yang bermenantu dan bermertuakan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Hafsyah dikawini Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam pada masa 625 M. ketika Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam. Wafat, Hafsyah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beribadah. Hafsyah meninggal dunia pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Istri baginda Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam lainnya yang di makamkan di Bab as-Shagir ini adalah Ummu salamah, ummul mukminin berbangsa Quraisy ini dari suku Bani Makhzum. Beliau berasal dari keturunan yang mulia. Ayahnya terkenal di kalangan pemuka Quraisy sebagai orang yang pemurah. Sebagaimana Hafsyah binti Umar al-Khattab, Ummu Salamah juga di timpa nasib yang sama. Suaminya, Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal mati syahid dalam pertempuran di uhud. Sebelum suaminya menghembuskan nafasnya yang terakhir, Ummu salamah berjanji tidak akan kawin lagi. Abdulla sendiri melarangnya berbuat demikian. Bahkan dia sempat berdoa semoga istrinya bisa mendapatkan suami lain yang lebih mulia di bandingkan dirinya. Doa suami yang beriman itu dikabulkan Allah subhanahu wata’ala.

Selesai iddah, Ummu salamah dilamar Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar al-Khattab, namun lamaran mereka tidak di terima. Ketika Nabi Muhammad mengirim pinangan, Ummu salamah memberikan alasan bahwa umurnya sudah cukup tua dan mempunyai beberapa orang anak. Akan tetapi Nabi sendiri tidak keberatan menerimanya. Maka berlangsunglah perkawinan Nabi dengan Ummu salamah pada bulan syawal tahun ke-4 Hijriah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan pendapat Ummu salamah karena sarannya kerap dipakai, seperti yang terjadi pada perjanjian Hudaibiyah. Ummu Salamah bersama Nabi menyaksikan perang Khaibar dan pembukaan kota Makkah (Fathu al- Makkah). Beliau turut serta dalam pengapungan Thaif, penggempuran khawazin dan Tsaqif. Beliau bersama Nabi di Makkah ketika Haji Wada’.

Allah memanjangkan umur Ummu Salamah sehingga sampai 84 tahun. Beliau merupakan istri Nabi yang terakhir meninggal dunia, yaitu sekitar tahun 63 Hijriah. Ummu Salamah di kuburkan bersama madunya, Ummu Habibah. Bersebelahan makan dengan Ummu Salamah, terdapat kubur Ramlah binti Abu Sufyan atau Ummu Habibah, seorang istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ummu Habibah juga anak Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah, seorang pemimpin musyrikkin Makkah yang sangat kuat menentang dakwah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Abu Sufyan memeluk Islam setelah Nabi berhasil menaklukkan kota Makkah pada tahun 8 Hijriah. Ibunya Hindun binti Uthbah, seorang wanita pendendam. Ketika peperangan Uhud, Hindun telah membelah dada dan mengeluarkan hati Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi, lalu dikunyah karena geram kepada Hamzah, yang membunuh bapak dan saudara lelakinya yang tewas dalam perang Badar. Walaupun begitu, anaknya Ummu Habibah, memeluk islam bersama suaminya Ubaidullah bin Yasin, yang berhijrah ke Habsyah bersama sebagian umat Islam ketika itu.

Di Habsyah terjadi sesuatu yang tidak di inginkan oleh Ummu Habibah, Ubaidullah murtad memeluk agama Nasrani sekaligus memutuskan tali perkawinan mereka. Sesungguhnya ketaqwaan Ummu Habibah benar-benar teruji. Setiap takdir ada hikmah yang tersembunyi. Dalam keadaan tidak menentu itulah, datang pinangan dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Raja Habsyah sendiri yaitu Raja Najasyi meminang untuk Rasulullah yang berada di Madinah. Raja Najasyi menyediakan uang 400 dinar sebagai mahar. Hokum itu bisa dijadikan dalil bahwa nikah bisa melalui wakil.

Ummu habibah meninggal dunia pada tahun 44 Hijriah. Kisahnya memberikan pelajaran bahwa ganjaran Allah akan diberikan setelah sabar dan taqwa benar-benar teruji. Sesungguhnya Allah memberikan hidayah buat siapa yang dikehendakinya.

Ditanah pekuburan Bab as-Saghir terdapat tidak kurang dari 10 orang keluarga Nabi, salah satunya adalah Aban bin Utsman bin Affan. Ada yang beranggapan, selain Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang lain adalah Aban bin Utsman bin Affan. Ada sejarawan yang mengatakan bahwa Aban merupakan hasil perkawinan antara Utsman dengan Anak Rasulullah, Ruqayyah. Dikatakan, Utsman menikah dengan dua anak Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum. Karena itu beliau dijuluki Dzun Nur’ain, yang artinya “Yang memiliki dua cahaya( yang menikah dengan dua putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam).

Aban adalah salah satu diantara umat Islam yang turut menyembahyangkan jenazah Ali bin Abi Thalib. Aban mendapatkan didikan agama yang sempurna dari bapaknya, Utsman bin Affan dan mendapatkan jabatan yang sangat tinggi pada masa pemerintahan Bani Umayyah.

Tanah pekuburan Bab as-Saghir Damaskus bukan saja menempatkan makam keluarga Nabi, tapi juga maka, seorang pembantu yang mulia, Fiddah, wanita terhormat. Beliau pembantu pada anak Nabi, Fatimah al-Zahrah. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Sayyidina Ali bukanlah seorang yang kaya dengan harta benda, miliknya yang paling berharga hanyalah Iman dan Islam. Karena ketaqwaan itulah beliau dipilih menjadi menantu oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mahar yang diberikan Ali buat Fatimah hanyalah sebuah baju besi yang dipakainya pada waktu peperangan Badar.

Fatimah adalah wanita biasa, sehari-harinya dihabiskan hanya untuk urusan rumah tangga tak mengenal letih dan lesu. Sayyidina Ali bukannya tidak bernah memperhatikan kesulitan yang dialami oleh istrinya, namun himpitan hidup membuatnya tidak berdaya untuk mendapatkan pembantu rumah tangga. Lalu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menghadiahkan kepada anaknya itu seorang pembantu, ternyata ia amat menggembirakan Fatimah. Walaupun Fiddah seorang pembantu, namun Fatimah melayaninya dengan sangat baik dan tidak bersikap kasar. Pekerjaan dibagikan sama rata diantara mereka berdua.

Suatu ketika cucu Rasulullah, Hasan dan Husein di timpa suatu penyakit yang tak kunjung sembuh. Fiddah kemudian bernazar jika keduanya sembuh. Begitulah cintanya Fiddah pada keluarga Rasulullah. Cintanya dibalas oleh Allah subhanahu wata’ala.

Di Bab as-Saghir, makan sayyidah Fatimah As-Sughrah adalah salah satu makam ahlul bait yang sangat ramai dikunjungi pengunjung. Makam cicit Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ini sering menjadi tumpuan para peziarah, terutama dari Negara iran. Fatimah as-Sughrah, salah seorang anak dari Husein bin Ali bin Abi Thalib. Beliau terkenal sebagai seorang yang taat bertaqwa dan kuat beribadah. Sering menjalankan shalat sunnah di malam hari dan berpuasa di siang harinya.

Fatimah dikawinkan dengan sepupunya, Hasan bin Hasan yang terkenal dengan panggilan al-Hasan al-Mutsanna. Fatimah dan suaminya turut dalam peristiwa karbala. Beliau bersama keluarganya dalam perjalanan menuju Kuffah irak dan diserang oleh 4000 tentara yang lengkap bersenjata.

Husein bin Ali di tarik ke Kuffah oleh penduduk disana untuk ditawarkan khalifah menggantikan Muawiyah bin Abi Sufyan yang telah meninggal dunia. Tuhan menakdirkan Husein dan sahabatnya meninggal di karbala.

Fatimah bukan hanya di timpa kesedihan akibat ayahnya meniggal dunia, bahkan suaminya turut mati syahid dalam tragedy 10 Muharram tahun 61 hijrah itu. Hidupnya bersama Hasan al-Mutsanna melahirkan 4 orang anak. Menurut riwayat Fatimah kemudian menikah lagi dengan Abdullah bin Amru bin Utsman dan melahirkan dua orang anak.

Fatimah binti Husein meninggal dunia pada tahun 110 Hijriah. Fatimah dianggap sebagai perawi hadits. Beliau telah meriwayatkan beberapa hadits dari pada neneknya, Fatimah al-Zahrah, bapaknya Husein dan bibinya Zaenab. Beliau juga meriwayatkan hadits dari Bilal bin Rabah, Abdullah bin Abbas, Asma bin Umayiz, dan Aisyah Ummul mukminin. Akidahnya kokoh, peranginya mulia, taqwa dan sabarnya tahan uji. Sesungguhnya keluarga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah keluarga yang di rahmati Allah subhanahu wata’ala.

Allah berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘And. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” ( QS. At-Taubah : 72).

Detik-detik Wafatnya Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam

7:18 PM Add Comment
Pagi itu rasulullah shalallhu 'alaihi wasallam, dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku dan kelak-orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Pagi itu rasulullah shalallhu 'alaihi wasallam, dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku dan kelak-orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh dan menatap sahabatnya satu per satu. Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, dada Umar naik turun menahan nafas dan tangisnya. Utsman menghela nafas panjang, dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua.” Desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menuaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir pasti akan menahan detik-detik berlalu, jika mereka bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar terdengar seorang yang berseru mengucapkkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah ayahku sedang demam,” Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu, wahai anakku?”

“Tak tahu, Ayah. Sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” Kata Rasulullah, Fatimahpun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. JIbril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Ternyata hal itu tidak membuat Rasulullah merasa lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, wahai Rasulullah?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku, kelak?: Rasulullah bertanya kembali.

“Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” Jibril menjelaskan.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan, ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-utar lehernya menegang. “JIbril betapa sakit sakaratul maut ini?” ujar Rasulullah menahan sakitnya.

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, JIbril?” Tanya Rasulullah kepada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah di renggut ajal?” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar, seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali lantas mendekatkan telinganya. “Uushikum bis-shalati, wama malaikat aimanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu.”

Diluar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, Ummatii. – umatku, umatku, umatku…..

Sumber gambar: Flickr dengan lisensi commercial allowed

Shalat Idul Fitri Di Negara Minoritas Islam

5:30 AM Add Comment

Idul Fitri merupakan hari raya besar bagi umat Islam. Sebuah momen penuh suka cita dimana setelah sebulan berpuasa umat muslim menyambut kemenangan yang nyata. Di Indonesia mungkin kemeriahan dan ketenangan dalam perayaannya sudah menjadi kelaziman. Mengingat Indonesia merupakan Negara dengan penduduk islam terbanyak didunia. Lalu bagaimana dengan perayaaan Idul Fitri Negara-negara dimana umat Islam menjadi minoritas? berikut pemaparannnya!

Idul Fitri merupakan hari raya besar bagi umat Islam. Sebuah momen penuh suka cita dimana setelah sebulan berpuasa umat muslim menyambut kemenangan yang nyata. Di Indonesia mungkin kemeriahan dan ketenangan dalam perayaannya sudah menjadi kelaziman. Mengingat Indonesia merupakan Negara dengan penduduk Islam terbanyak didunia. Lalu bagaimana dengan perayaaan Idul Fitri Negara-negara dimana umat Islam menjadi minoritas? berikut pemaparannnya!
Di negeri Ratu Elizabeth yang belakangan menjadi sorotan dunia, karena keluarnya Negara ini dari Uni Eropa. Tersiar kabar pembatalan sholat Ied sebagai bentuk sentimen terhadap Brexit. Namun pada kenyataannya perayaan Idul Fitri di negara ini berlangsung dengan khidmat dan luar biasa. Di Birmingham misalnya sekitar 85000 jamaah membanjiri salah satu taman publik untuk melaksanakan sholat Ied. Selain shalat Idul Fitri, di tempat tersebut juga disediakan sarana bermain untuk anak-anak serta diramaikan pula dengan berbagai menu masakan dari berbagai komunitas muslim yang ada di Inggris. Tak lupa, kaum muslim inggris juga menggalang dana sejak ramadhan hingga lebaran dan terkumpul sekitar 17,5 milyar rupiah yang disumbangkan untuk kaum muslimin suriah.
Di Southampton, shalat Idul Fitri dilanjutkan dengan makan bersama yang di prakarsai muslim Indonesia dan terbuka bagi masyarakat sekitar Shouthampton. Sedangkan di London festival Eid Mubarak dihelat pada tanggal 2 syawal dan dibuka langsung oleh walikota Shadiq Khan momen tersebut tak hanya menyambut Idul Fitri tahun ini tapi juga merupakan penyampaikan pesan perdamaian dari umat muslim bagi dunia.
200 ribu Umat Islam Shalat Ied di Moskow
Kemeriahan dalam perayaan Idul Fitri serta pelaksanaan sholat Ied juga hadir di negeri beruang merah Rusia. Diperkirakan sekitar 200 ribu umat muslim di Moskow tersebut menghadiri sholat Ied di 4 masjid besar termasuk masjid Katedeal Moskow dan beberapa alun-alun Ibu kota Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam siaran persnya resmi, Kremlin juga turut mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Dalam rilis menyambut Idul Fitri itu, Putin juga menyebut kontribusi komunitas muslim bagi dialog antar etnis dan antar agama. Lebih jauh dikatakan bahwa di Rusia Islam adalah agama kedua paling banyak penyebarannya. Jumlah muslim di Rusia mencapai 20 juta orang atau sekitar 15 persen dari total populasi.

Shalat Ied Ditengah Pandangan Negatif di Amerika
Di negeri paman sam sekitar 2000 umat Islam mengikuti shalat Ied di Washington DC. Di tengah sorotan tajam terhadap umat Islam di dunia dan tingginya sentimen anti muslim khususnya di Amerika, momentum Idul Fitri tahun ini diharapkan menjadi saatnya bagi muslim menegakkan ajaran agama dengan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan umat Islam menjadi duta besar bagi agamanya. Dalam khutbah yang disampaikan Muhammad Basyar Arafat umat muslim di Amerika diingatkan bahwa peran mereka di Amerika serikat bukan hanya sebagai pekerja melainkan juga berbagi dengan masyarakat lain.
Pembuktian Umat dan Momen Perkuat Persaudaraan
Ditengah berbagai pandangan negatif di dunia, pelaksanaan shalat Ied diberbagai Negara dimana Islam menjadi minoritas tetap bisa terlaksana dengan lancar dinegara-negara tersebut. Kita tentu mengetahui bahwa Idul Fitri merupakan perayaan penting dan kegembiraan tersebut bertambah dengan antusiasme warga muslim di negara minoritas. Terlebih lagi, berbagai sumber menyatakan bahwa perkembangan Islam diberbagai negara khususnya Negara barat menunjukkan hasil yang positif dan signifikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala : “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu. Dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. An-Nash:1-3)
Pelaksanaan Idul Fitri tersebut juga merupakan pembuktian bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Dan ditengah kegembiraan tersebut, persatuan umat yang terjalin juga terbukti secara hakiki.
Semoga apa yang MuslimHarian.com paparkan bisa memberikan manfaat serta manambah kecintaan kita terhadap Islam juga bisa menambah semangat bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 
Amin ya robbal ‘alamin !


Jangan Gunakan Bahasa Alay Untuk Mengubah Nama Allah Ta'ala

9:58 PM 1 Comment

Kita sering kali melihat, merasa atau mendengar orang berkata yang kurang baik, kurang pantas atau bahkan sama sekali tidak pantas. Terkadang hal tersebut diwajarkan karena memang manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan. Meski begitu, di zaman yang semakin berkembang ini, manusia justru memberi kesan lupa pada adat istiadat, sopan santun, tata krama dan sebagainya. Beragam sapa serta panggilan kerap terkesan merendahkan dan kebablasan. Tak hanya pada manusia, bahkan sebutan kepada Allah sang Kholik pun diplesetkan.

Kita sering kali melihat, merasa atau mendengar orang berkata yang kurang baik, kurang pantas atau bahkan sama sekali tidak pantas. Terkadang hal tersebut diwajarkan karena memang manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan. Meski begitu, di zaman yang semakin berkembang ini, manusia justru memberi kesan lupa pada adat istiadat, sopan santun, tata krama dan sebagainya. Beragam sapa serta panggilan kerap terkesan merendahkan dan kebablasan. Tak hanya pada manusia, bahkan sebutan kepada Allah sang Kholik pun diplesetkan.
Banyak orang mengidentikkan penulisan atau pengucapan yang tidak baku sebagai bahasa alay. Bahasa tersebut terus bertambah kosa-katanya seiring dengan banyaknya kata yang diplesetkan atau dirubah. Bahkan penulisannya benar-benar jauh dari kaidah penulisan yang seharusmya. Penggunaan bahasa seperti itu memang menjadi hak mereka yang menggunakannya. Karena hal tersebut tentunya menjadi tanggung jawab mereka. Namun, penggunaan tersebut perlu diperhatikan dan tentu saja di perbaiki. Jika penggunaanya sudah diluar batas hingga mengubah nama Allah dengan berbagai istilah keagamaan seperti “Ya Oloh” , “Ya Awoh”, “Astapiloh”.
Sebagai umat muslim sepatutnya kita merasa sedih, kesal dan kecewa melihat hal tersebut. Mereka yang menggunakan kata-kata tersebut mungkin sering berdalih bahwa hal tersebut merupakan guyonan dan candaan, tidak perlu dibawa serius. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua hal bisa dijadikan bahan candaan apalagi terkait dengan nama Allah. 
Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Hujuraat :11).
Dengan firman Allah tersebut dengan jelas tidak diperbolehkannya untuk mengolok-olok satu sama lain. Lantas, mengapa kita dengan lancangnya mengubah nama Allah dengan kata-kata dan panggilan yang tidak pantas.
Mempermainkan Nama Allah adalah kerusakan Tauhid
Hakikat tauhid adalah penyerahan diri, taat menerima dan mengagungkan Allah azza wazalla. Sedangkan bersenda gurau, mempermainkan nama dan mengolok-olok Allah, Al-Qur’an dan Rasul-Nya merupakan penentangan karena tidak menunjukan pengagungan.
Allah ta’ala berfirman : “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” ( At-Taubah:65-66).
Para ulama berpendapat bahwa hal tersebut merupakan bentuk dari mereka yang menentang atau membantah. Salah satu bentuk penentangan itu ialah dengan mengolok-olok atau hal-hal serupa lainnya. Mengolok-olok Allah, Rasul atau Al-Qur’an tidak mungkin keluar dari hati orang yang bertauhid. Tetapi menjadi kebiasaan orang-orang munafik atau orang kafir musyrik.
Allah ta’ala berfirman : “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman : 6).
Melalui ayat tersebut hendaknya kita berkaca, tidak takutkah kita akan azab Allah. Pantaskah kita menjadikan Allah ta’ala sebagai olokkan. Mungkin selama ini hal tersebut dilakukan seiring dengan kekhilafan. Maka dari itu amatlah perlu menjaga lisan.
Semoga pemaparan MuslimHarian.com bermanfaat dan semoga ampunan serta rahmat Allah subhanahu wata’ala selalu senantiasa terlimpah kepada kita. Amin ya robbal ‘alamin.


Masuk Surga Tanpa Shalat

8:14 PM Add Comment

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan Abu Hurairah radiallahu ‘anhu. Ada sebuah kisah tentang seorang bernama amr bin tsabit. Dia adalah seorang yang sangat membenci islam pada awalnya. Akan tetapi, ketika terjadi perang uhud, dia menjadi bersimpatik kepada umat Islam dan bergabung dalam peperangan di pihak kaum muslim.

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan Abu Hurairah radiallahu ‘anhu. Ada sebuah kisah tentang seorang bernama amr bin tsabit. Dia adalah seorang yang sangat membenci islam pada awalnya. Akan tetapi, ketika terjadi perang uhud, dia menjadi bersimpatik kepada umat Islam dan bergabung dalam peperangan di pihak kaum muslim.
 
Pada peperangan tersebut, ia terluka cukup parah. ketika ditemukan oleh orang-orang yang sekabilah (suku) dengan nya, mereka bertanya, “Apa yang membuat mu ikut berperang? Apakah karena kasihan pada kabilahmu, ataukah karena kau ingin masuk Islam?”
 
Amr bin Tsabit menjawab, “Aku ikut berperang karena Aku ingin masuk Islam, aku telah berjihad bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, hingga aku terluka seperti ini.” Mengetahui hal tersebut, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Sungguh dia adalah ahli surga.”
 
Dalam kisah lain dijelaskan, ada seorang budak hitam dari habasyah yang tinggal di daerah Khaibar. Saat itu dia sedang menggembalakan kambing milik tuannya. Ketika dia melihat penduduk Khaibar telah memegang senjata mereka, dia bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan?”
 
Mereka menjawab, “Kami akan memerangi seorang laki-laki yang mengaku sebagai nabi.”
 
Saat mendengar kata “Nabi” disebut, dia langsung pergi dengan kambingnya menghadap kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ia bertanya kepada beliau, “Kepada apa Anda mengajak orang?”
 
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, menjawab, “Aku akan mengajakmu kepada Islam kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah, dan bahwa aku ini adalah utusan Allah, dan aku juga mengajak agar kamu tidak menyembah kecuali kepada Allah.”
 
Kemudian sibudak kembali bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan bila aku mengikrarkan persaksian tadi dan beriman kepada Allah?”
 
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kau akan mendapatkan surga bila mati atas hal itu.”
 
Budak itu kemudian masuk Islam dan berkata kepada Rasulullah shalallahi ‘alaihi wasallam, “Wahai Nabi Allah, kambing-kambing ini adalah amanat yang ada padaku.”
 
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, menyarankan kepada budak tadi untuk mengeluarkan kambing-kambingnya dan melemparinya dengan kerikil agar berlari dan kembali kepada si empunya kambin. Atas pertolongan Allah, Kambing-kambing tersebut benar-benar kembali kepada tuannya hingga tuannya yang seorang yahudi itu mengetahui bahwa budaknya telah masuk Islam.
 
Dalam peperangan yang diikutinya, budak tersebut terbunuh. Kaum muslimin yang ada saat itu menggotongnya ke tempat berkumpulnya pasukan Islam, kemudian memasukkannya kedalam kemah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, menengok ke dalam kemah itu lalu berkata, “Sungguh Allah telah memuliakan budak ini dan menggiringnya menuju kebaikan. Agama Islam telah benar-benar berada dalam hatinya. Sungguh, aku telah melihat di sisi kepalanya dua bidadari cantik.”
 
Allah subhanahu wata’ala adalah dzat yang maha pengampun. Sebesar dan sebanyak apapun dosa hamba-hambanya, akan di ampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. Jika ia benar-benar bertobat dan berjanji tidak akan mengulanginya.
 
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
 
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha:82).
 
Orang-orang yang bertobat dari kejahiliahannya, akan di terima tobatnya oleh Allah subhanahu wata’ala. Tetapi Allah menolak tobat orang-orang yang telah datang ajalnya, seperti di tolaknya tobat Firaun menjelang kematiannya di laut. Dalam hal ini Allah subhanahu wata’ala berfirman:
 

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَـٰلَةٍ۬ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡہِمۡ‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَڪِيمً۬ا (١٧) وَلَيۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّى تُبۡتُ ٱلۡـَٔـٰنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمۡ ڪُفَّارٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمً۬ا (١٨) 
 Artinya : Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan [3], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (17) Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan [yang] hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, [barulah] ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak [pula diterima taubat] orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (18)  (QS. Annisa 17-18)
 
 
 ۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٲلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَ‌ۚ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَ‌ۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقًّ۬ا فِى ٱلتَّوۡرَٮٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِ‌ۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِ‌ۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعۡتُم بِهِۦ‌ۚ وَذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (١١١)
 
 
Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. [Itu telah menjadi] janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya [selain] daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (111) (QS At-taubah :111)

Hati-hati dengan Pendapat Orang Lain

7:08 PM Add Comment
 
Boleh saja anda mendengar pendapat orang lain, tetapi hendaknya berhati-hati, karena belum tentu pendapat mereka benar.
 
Boleh saja anda mendengar pendapat orang lain, tetapi hendaknya berhati-hati, karena belum tentu pendapat mereka benar.
 
Pendapat orang-orang yang dipeercayai bisa menjadi sumber motivasi dalam bersikap dan bertindak. Lihatlah para ahli seperti konsultan, juru dakwah, guru, dan yang lain. Pendapat-pendapat mereka sering mewarnai kehidupan kita. Lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat memberikan berbagai pengetahuan dan pengalaman baru bagi kita sejak kanak-kanak sampai dewasa.
 
Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Ali bin Abu Thalib Radiallahu ‘anhu, pernah memberikan nasihat, dalam hal pendapat orang lain. Anda tidak boleh menilai berdasarkan siapa yang menyampaikannya, tetapi isi dari pendapatnya. Kalau memang pendapat tersebut benar, Anda pun diminta mau membuka diri menerima kebenaran itu. Diibaratkan memakan sebutir telur. Telur ayam misalnya. Jikalau melihat asal mulanya telur tersebut keluar dari sesuatu buruk sekalipun. Akan tetapi jika kita memandang dari telur tersebut memiliki kandungan yang bermanfaat dan tentu saja halal dimakan. Maka tentu kita akan memakannya. Jadi. Jika Anda melihat siapa yang menyampaikan tentu anda tidak akan pernah memakan telur tersebut.
 
Kalau Anda ingin mendapat untung, manfaat, dalam kehidupan ini, Anda dianjurkan untuk saling memberi nasihat dengan kebenaran. Itu berarti Anda juga diminta untuk menerima pendapat orang lain kalau memang pendapat itu benar.
 
Dengan kata lain, Anda mesti menghargai orang lain. Setiap orang memiliki kedudukan yang sama di sisi Tuhannya. Yang membedakan kedudukan orang yang satu dengan yang lain adalah ketaqwaan kepada Tuhannya.
 
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
 
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” ( QS.49. Al-Hujurat :13)
 
Pendapat Anda terhadap orang lain akan memengaruhi bagaimana sikap dan tindakan Anda kepada mereka. Karena itu, Anda tidak boleh menilai berdasarkan persepsi Anda sendiri. Orang lain sering keliru kalau hanya menilai seseorang berdasarkan penampilan fisiknya.
 
Dalam ilmu komunikasi tedapat tiga tingkatan hubungan antar pribadi, yaitu :
  1. Tingkat biologis, hubungan Anda didasarkan pada informasi yang Anda ketahui tentang orang lain terbatas pada ciri-ciri biologis seperti warna kulit, warna rambut, ciri fisik, dan yang lain.
  2. Tingkat sosiologis, hubungan Anda dengan orang lain selain berdasarkan informasi biologis juga didukung oleh informasi tentang keluarga, nama istri/suami, serta anak-anaknya, Anda juga mengetahui bidang kerja, teman pergaulan, serta lingkungan sosialnya.
  3. Tingkat psikologis, hubungan tahap psikologis adalah yang paling baik karena didasarkan pada informasi biologis, sosiologis, hingga psikologis. Pada tahap ini, Anda mengenal seseorang lebih baik karena sampai di tingkatan psikologis. Hubungan antar pribadi yang saling memahami kondisi psikologis masing-masing seperti karakter, kebiasaan, visi, hingga hobi merupakan hubungan antar pribadi yang akrab.
 
Hubungan antar pribadi yang didukung dengan data psikologis akan lebih memudahkan dalam tukar pendapat maupun nasihat karena di landasi saling percaya.

Budaya Islam Indonesia "Tahlil" Serta Maknanya

7:07 AM Add Comment

Tahlil atau tahlilan bukanlah tradisi baru bagi masyarakat muslim Indonesia, terutama untuk warga pedesaan. Meski sejak dulu menuai pro kontra, kenyataannya sampai sekarang tahlilan masih berlangsung dan digemari banyak kalangan.

Tahlil atau tahlilan bukanlah tradisi baru bagi masyarakat muslim Indonesia, terutama untuk warga pedesaan. Meski sejak dulu menuai pro kontra, kenyataannya sampai sekarang tahlilan masih berlangsung dan digemari banyak kalangan. Dari generasi ke generasi, tahlilan merupakan warisan yang senantiasa hidup di tengah-tengah masyarakat. Apabila ada seseorang yang meninggal dunia, maka anggota keluarganya mengadakan tahlilan dengan memberitahukan segenap kerabat dan masyarakat setempat. Umumnya tahlilan diadakan selepas shalat maghrib di kediaman keluarga almarhum. Adapun tujuannya untuk mendoakan agar almarhum yang telah tiada itu mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.
Untuk menghormati orang yang hadir, tuan rumah biasanya menyediakan makanan dan minuman, meskipun untuk hal ini memang tidak ada norma yang tertulis yang mengaturnya. Sayangnya, tuan rumah kerapkali ada yang memaksakan diri dalam menjamu mereka. Salah satu alasannya karena gengsi dan untuk menunjukkan status sosial dalam masyarakat.
Misalnya keluarga almarhum menyuguhkan makanan dan minuman yang terkesan mewah dan mahal, laksana sedang mengadakan pesta atau harus meminjam uang demi memuaskan tetangga yang mengaji. Padahal tidak harus demikian. Sejatinya kita menghormati mereka semampu yang kita punya atau ala kadarnya saja. Sebab, dengan meninggalnya salah seorang anggota keluarga, jelas menyisakan beban, meninggalkan kesedihan dan tentu mengeluarkan banyak biaya bagi yang di tinggalkan.
Biasanya tahlilan berlangsung selama tujuh hari kematian almarhum. Terkadang ada juga masyarakat yang menyelenggarakannya hanya pada hari pertama, hari ketiga dan hari ke tujuh. Setelah itu, kegiatan tahlilan dihentikan. Untuk mengenang kepergian almarhum kepangkuan Illahi Rabbi, keluarga mengadakan kembali pada hari ke empat puluh hari ke seratus, menginjak satu tahun, dan tiga tahun kemudian.
Diluar peristiwa kematian, masyarakat seringkali melaksanakan tahlilan dalam bentuk momen yang lain. Umpamanya tahlilan diadakan ketika ada orang yang ingin menempati tempat tinggal baru atau saat orang hendak ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dibarengi dengan acara selamatan,
Makna Tahlil
Istilah tahlil berasal dari bahasa arab hallala yang mempunyai beberapa pengertian. Diantara maknanya adalah menjadi sangat, gembira, mensucikan dan mengucap kalimat laa ilaaha illa Allah. Dari sekian arti yang ada, definisi terakhirlah yang dimaksudkan dalam pengertian tahlil. Jika ditarik lebih jauh, maka kegiatan tahlil ialah membaca kalimat laa ilaaha illa Allah ditambah dengan bacaan-bacaan tertentu yang mengandung fadhilah (keutamaan) dan pahala bacaannya ditujukan kepada orang muslim yang sudah meninggal dunia.
Cara tahlil berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Kiranya tidak masalah apabila teks dan gayanya pun sangat bervariasi. Secara umum, dalam kegiatan tahlil bacaan yang dibawakan antara lain surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Muawwidzatain, permulaan dan akhiran surat Al-Baqarah, ayat kursi, istighfar, tahlil (laa ilaaha illa Allah), tasbih (subhana Allah wa bihamdihi subhana Allah al-adzim), shalawat nabi dan do’a. mengingat dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang, maka selanjutnya acara itu biasa dikenal dengan istilah tahlilan.
Pada dasarnya, refleksi utama dari tahlil adalah do’a untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Tahlil berarti perbuatan yang mengandung kebaikan. Artinya, tahlil bukan hanya kepentingan bagi almarhum, tetapi juga bagi orang-orang yang mendo’akannya tentu mendapatkan pahiala karena kalimat-kalimat yang dibacanya. Beranjak dari sinilah kita harus memahami bahwa tahlil jelas memiliki nuansa berdimensi spiritual. Tradisi semacam ini dikategorikan dalam symbol-simbol sebagai media dakwah untuk melestarikan eksistensi agama sebagai ajaran maupun agama sebagai ideologis.
Jika kita mencermati keberadaan tahlil, maka tahlil bukanlah problem yang sangat mengganggu akidah seorang muslim dan buka pula sumber utama terjadinya konflik atau perpecahan dalam masyarakat. Maksudnya, biarlah umat Islam yang menyikapinya berdasarkan landasan hokum dan argumentasi yang diajukannya.
Dalam catatan penulis, sampai saat ini ada dua kelompok yang mempersoalkan beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan tahlil, yakni pihak yang pro dan kontra. Setidaknya terdapat titik tekan yang mereka perdebatkan . pertama, dasar hukum mengenai tahlil. Kedua, sampai atau tidaknya pahala tahlil kepada almarhum. Ketiga, menjamu orang-orang yang hadir. Kedua golongan ini sama-sama memiliki landasan hukum kuat yang berasal dari Al-Quran dan Hadits nabi. Meski mereka mengambil dalam sumber yang sama, namun cara pandangnya yang berbeda. Faktor ini lah yang menyebabkan tidak adanya benang merah dalam persoalan tahlil.
Kiranya tahlilan tidak sekedar aktivitas membaca beberapa ayat Al-Qur’an, dzikir dan kalimat thayyibah. Tahlilan bisa menjadi wahana untuk berkumpul bersama antara keluarga yang baru mengalami kesedihan dengan masyarakat. Dalam bahasa sederhana, tahlilan dapat mempererat ikatan emosional dan menghidupkan rasa persaudaraan antar personal. Ada juga kalangan yang memaknai tahlilan sebagai salah satu bentuk tanda bakti orang yang masih hidup kepada almarhum. Selain itu, penulis berharap agar tahlilan mampu menjadi tempat untuk mengingatkan sekaligus menyadarkan diri kita bahwa kematian akan menjemput setiap manusia yang bernyawa.

Menghalau Gosip ( Ghibah), Membentengi Diri dengan Iman

11:03 PM Add Comment

Lidah tidak bertulang. Itulah ungkapan yang nampaknya paling mewakili dalam mengupas persoalan gossip. Dalam islam, perihal gossip dimasukkan dalam kategori ghibah. Karena bergosip, ngerumpi, dalam prakteknya sama dengan berghibah. Yakni, sama-sama membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan. Dan umumnya pembicaraan itu menyangkut aib atau keburukan objek yang dibicarakan.

Berkata-kata adalah hal yang paling mudah dilakukan setiap manusia. Bila yang terluncur adalah kata-kata manis tentu kebaikan dan manfaat bagi dirinyalah yang akan diterimanya. Sebaliknya, jika kta-kata kotor dan akan melukai orang lain, tentu kata-kata itu dengan mudah akan menyeretnya ke dalam lubang persoalan yang pada akhirnya malah menjerumuskannya.
 
Lidah tidak bertulang. Itulah ungkapan yang nampaknya paling mewakili dalam mengupas persoalan gossip. Dalam islam, perihal gossip dimasukkan dalam kategori ghibah. Karena bergosip, ngerumpi, dalam prakteknya sama dengan berghibah. Yakni, sama-sama membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan. Dan umumnya pembicaraan itu menyangkut aib atau keburukan objek yang dibicarakan.
 
Secara bahasa ghibah adalah mengatakan sesuatu yang benar tentang seseorang di belakang dia, tetapi hal itu tidak disukai oleh orang yang dibicarakan. Ibnu katsir mengatakan dalam tafsir surah Al-Hujurat bahwa ghibah dilarang berdasarkan kesepakatan( ijma’) dan secara umum tidak ada pengecualian tentang ini kecuali pada situasi yang mendesak untuk membicarakan seseorang.
 
Dalam redaksi Hadits yang diriwayatkan Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ahmad mengatakan bahwa “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakannya itu benar ada padana?” Rasulullah menjawab: “Kalau memang benar ada padanya. Itu ghibah namanya. Jika tidak, berarti engkau berbuat dusta.”
 
Para ulama sepakat bahwa ghibah adalah sebuah perkara penting yang harus disoroti. Karena ghibah termasuk ke dalam dosa besar dan si pelaku dosa ghibah harus bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 12: “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu lah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha penyayang.”
Alasan umum berghibah
 
Pada umumnya, seseorang termotivasi untuk berghibah bila ia sedang marah dan kesal pada orang yang ‘kebetulan’ membuatnya kesal. Karena ia merasa telah dirugikan, maka ia menumpahkan beban di dadanya dengan cara bercerita kepada temannya tentang hal itu. Sebagaimana firmat Allah subhanahu wata’ala:
 
Namun ada Kaul walaupun tidak dijelaskan dalil dan pendapat yang mengemukakannya yang membolehkan ‘bergosip’ dengan alasan ‘untuk melepaskan beban dari dadanya’. Karena dengan cara demikian, sedikitnya ia bisa melepaskan api amarah dalam dadanya.
Selain itu, alasan umum yang dilakukan si pegosip adalah untuk berusaha mengangkat status diri dengan cara menjatuhkan orang lain. Dalam hal ini bisa saja seseorang berkata; “Si Anu itu bego, dungu….,” dan sebaginya. Dengan ini, ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dan lebih pandai.
 
Namun yang paling menunjukkan yang kini dekat dengan keseharian kita adalah dengan bergosip, seolah kita mampu membuat orang lain bahagia dan tertawa. Dan terkadang kita tidak menganggap bahwa gossip itu adalah dosa. Parahnya, bahkan sebagian orang mencari nafkah dengan cara bergosip, sebagaimana maraknya tayangan infotainment-infotainment seputar gossip kehidupan artis,
Dalam buku gossip, Fitnah & Taubat an-Nasuha disebutkan bahwa hal ini bahkan pernah terjadi di zaman al-Ghazali dan bahkan lebih buruk lagi di zaman sekarang dengan begitu banyak tayangan-tayangan gossip di televisi. Sebuah gaya hidup yang bahkan tidak bisa ditinggalkan banyak orang.
 
Kendati alasan-alasan diatas sangat umum dilakukan, ada juga hal-hal kecil yang sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita, bahkan kita sering melakukannya. Misalnya karena kita sering merasa cemburu dan iri hati. Sebagai contoh, ketika ada seseorang yang dipuji-puji dalam suatu pertemuan dan ia disukai oleh banyak orang, bisa jadi secara kebetulan ada orang lain yang iri hati mendengarnya. Orang yang iri hati ini kemudian menghina orang tersebut sedemikian rupa, sehingga orang itu kehilangan status yang ia sandang sebelumnya.
Semestinya, orang yang iri hati itu ingat bahwa oleh karena iri hati dan penghinaannya, orang yang menjadi korban kecemburuannya itu akan berada diatasnya, tidak hanya didunia tetapi juga di akhirat.
 
Beberapa pengecualian dibolehkannya ghibah 
Kendati membicarakan orang lain dilarang bahkan termasuk ke dalam perbuatan dosa besar, namun ada beberapa alasan dimana seseorang boleh membicarakan orang lain, yakni diantaranya adalah orang yang dianiaya.
 
Oleh karena ia di dzalimi, maka ia boleh menceritakan keburukan orang yang mendzaliminya dalam rangka menuntut haknya, sebagaimana yang tertera dalam surat an-Nisa ayat 148: “Allah tidak mencintai orang yang suka menceritakan keburukan orang lain kecuali bagi orang yang teraniaya.
 
Ayat Al-Qur’an tersebut diperkuat lagi oleh hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah! Aku punya tetangga yang menggangguku.” Rasulullah berkata, “Pergi dan taruhlah barang-barang milikmu di jalan.”kemudian orang itu pergi dan menaruh barang-barang miliknya dijalanan. Orang-orang berkumpul dan bertanya, “Ada apa denganmu?” Ia berkata, “Aku punya tetangga yang menggangguku; aku menceritakannya kepada nabi dan beliau menyuruhku untuk pergi dan menaruh barang-barang milikku dijalanan.” Mereka mulai berkata, “Ya Allah kutuklah dia! Ya Allah hinakanlah dia!” (Tetangga itu) mendengar tentang ini, maka ia datang kepada orang itu dan mengatakan kepadanya, “Pergilah kembali ke rumahmu; demi Allah, aku tidak akan mengganggumu lagi.”
 
Alasan lain dibolehkannya seseorang membicarakan keburukan orang lain adalah jika dalam pembicaraan itu bertujuan membari nasehat pada kaum muslim tentang agama dan dunia mereka. Karena nasehat, sebagaimana hadits Rasulullah shalallu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’I, Ad-Darimi, dan Ahmad, adalah ini ajaran agama.
 
Jadi, memberikan nasehat itu wajib dalam rangka memelihara kemaslahatan agama, baik yang bersifat khusus maupun umum, seperti menceritakan sifat tercela para perawi yang cacat. Dengan mengetahui beberapa celah dibolehkannya berghibah, bukan berarti kita bisa melakukannya dengan leluasa. Hal-hal yang disebutkan itu sebenarnya merupakan pengecualian pada kasus-kasus tertentu dan dalam kesempatan-kesempatan yang mendesak.
 
Namun kita harus berhati-hati bahwa bisikan setan dan hawa nafsu yang menjerumuskan akan senantiasa menghembusi jiwa seseorang. Sehingga, tatkala ia sedang ‘bergosip’ dengan alasan yang dibolehkan, malah ia akan menyalahgunakannya. Bahkan, tanpa terasa dia menjadikan alasan itu sebagai alasan dibolehkannya gossip, padahal perbuata itu pada awalnya tidak diperbolehkan syara’. Pada akhirnya ia malah terus menerus bergosip.
 
Selaraskan antara hati ucapan dan perbuatan. 
Setiap amal yang dilakukan harus dilaksanakan sesuai dengan syariat. Meski pada awalnya bermaksud baik, namun tidak memperhatikan hal lainnya, maka tidak cukup menyelamatkan seseorang dari kemurkaan Allah. Karena, kaum musyrik dan kaum kafir mengklaim bahwa mereka memiliki maksud yang baik, tetapi Allah subhanahu wata’ala memberikan status yang jelas bagi mereka di dalam Al-Qur’an: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”(Az-Zumar:3)
 
Mereka mungkin memiliki niat yang mulia yaitu untuk menjadi lebih dekat dengan Allah subhanahu wata’ala tetapi tidak menghindarkan mereka dari kecaman Rasulullah dan para sahabatnya. Mengerjakan amal yang baik untuk kebaikan-kebaikan seseorang atau masyarakat, tidak dapat dicapai dengan bergunjing tentang seseorang atau menyebarkan gossip tentang masalah-masalah pribadi mereka.
 
Dalam hal ini, langkah yang paling aman kita lakukan adalah meluruskan dan menyelaraskan antara hati, ucapan dan tindakan. Karena setiap orang yang beriman yang berfikir dengan hati nuraninya, akan mengakui bahwa tidak aka nada manfaatnya bagi kaum muslim menggosipkan seseorang apalagi berusaha membuka kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya. Wallahu ‘alam bi al shawab.


Ketika Umat Nabi Muhammad Memasuki Pintu Neraka

12:20 AM 1 Comment
Siapakah yang dapat menjamin seorang ‘abid ( ahli Ibadah) terbebas dari petaka neraka? Apakah ketika si ‘abid sudah menunaikan shalat, puasa, zakat, haji atau membaca Al-Qur’an secara rutin, maka dia akan terlepas dari pintu-pintu azab Allah subhanahu wata’ala?

Siapakah yang dapat menjamin seorang ‘abid ( ahli Ibadah) terbebas dari petaka neraka? Apakah ketika si ‘abid sudah menunaikan shalat, puasa, zakat, haji atau membaca Al-Qur’an secara rutin, maka dia akan terlepas dari pintu-pintu azab Allah subhanahu wata’ala?

Imam ‘Alauddin Az-Zindusti menulis dalam kitabna Raudhatul Ulama, bahwa Sa’ad bin Muhammad al-Astarusyni, seorang ahli fikih yang zahid, mendapat cerita dari Kalabi, dari Abi Shalib, dan dari Ibnu Abbas, bahwa sebuah ayat Al-Qur’an dipertanyakan kepada Nabi yang berbunyi : “Kerap kali orang-orang kafir itu ingin menjadi orang muslim.” (QS.AlHijr:2)

Dan Nabi pun menjawabnya. Yakni sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, pernah bersabda, “Ketika berkumpul para ahli neraka termasuk didalamnya para ahlul qiblah (mereka yang shalat menghadap kiblat alias orang Islam). 

Bertanyalah orang kafir kepada ahli kiblat itu:

“Bukankah kau orang Islam?”

“Ya,” jawab mereka.

“ Lalu apa guna Islammu jika kau ternyata berkumpul dengan kami disini?”

“Kami punya dosa-dosa yang sangat banyak kepada Allah, maka kami di azab disini.”

Ust.Muhammad Utsman Anshori : Ternyata Islam Lebih Rasional dari Agama Yang Dianut Ayahku

9:57 PM Add Comment
“bagaimana mungkin aku harus menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemaslahatan apa-apa bagiku? Patung adalah patung . ia hanya bongkahan batu yang dipahat sedemikian rupa hingga menjadi berbagai bentuk. Setelah jadi pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap membisu. Mana mungkin hasil pahatan manusia bisa menjelma menjadi Tuhan melebihi pembuatnya sendiri?’’



Demikianlah kira-kira pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Liem Hai Thai ketika mendapati ketidak-logisan agama yang dianutnya sebelum menyatakan masuk Islam. Ia menangkap bahwa apa yang selama ini diagung-agungkan ayahnya tidak lebih dari benda-benda padat lainnya yang tetap diam seribu bahasa. Dia tak akan bergerak manakala tidak ada yang menggerakkan, dan akan rusak manakala tertimpa sebuah benda atau benturan lain. Betapa benda tak bernyawa tersebut sangat naïf untuk disembah-sembah. Kepada Herry Munhanif dari Majalah Hidayah, ia menuturkan perjalanan rohaninya menemukan islam berikut ini:


Pengalaman menarik


Aku dilahirkan di Dumai Riau pada tanggal 17 Januari 1979. Aku merupakan anak ke-7 dari 10 bersaudara. Nama pemberian orang tua ku Liem Hai Thai. Bagi keturunan Tionghoa, Liem adalah marga tertinggi. Semua anggota keluargaku semula menganut agama Buddha, namun perkembangan selanjutnya beragam agama tumbuh di lingkungan keluargaku. Kini, lima dari sepuluh diantaranya telah memeluk islam, termasuk aku empat Buddha dan satu katolik.


Dulunya aku juga penganut Buddha, mengikuti jejak orang tuaku. Karena itu, sejak kecil aku dikondisikan dan dididik di lingkungan Buddha. Ayahku, Liem Guan Ho, seorang biksu Buddha. Sedang ibuku, Lai Hua adalah sosok yang bisa mengerti anak-anaknya. Tak mengherankan, jika sejak lahir nilai-nilai Buddha telah ditanamkan dalam keluargaku. Hal ini bisa dilihat dari pernik-pernik sesembahan, hio dan dupa yang menghiasi rumahku.


Didalam rumahku terdapat tiga patung yang menjadi sesembahan. Dan semua anggota keluarga diharuskan bersembahyang di hadapannya minimal sehari sekali dan dilakukan menjelang petang( sebelum Maghrib). Ketiga patung yang dianggap Tuhan adalah Taupekong ( Tuhan yang terbesar), Caushekong (Tuhan yang sedang), dan Kuantekong ( Tuhan yang terkecil). Cara penyembahannya dimulai dari yang terbesar, sedang, baru kemudian yang terkecil. Anehnya, kewajiban sembahyang ini bisa dilakukan jika didalam rumah terdapat patung. Jika tidak ada, maka tak ada keharusan bersembahyang.


Dengan mencermati hal itu, tentu orang bisa menyimpulkan bahwa nuansa Buddha memang kental dalam lingkungan keluargaku. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, orang tuaku sebenarnya bersikap lebih toleran dan tidak kaku. Mereka tak mempersoalkan bagaimana anak-anaknya bergaul dan bersosialisasi denga lingkungan sekolah maupun masyarakat. Mereka juga tidak membatasi ruang komunikasi dengan siapapun. Semua anaknya pun dibebaskan memeluk agama apa saja sesuai dengan keyakinannya asalkan bukan agama Islam.


“silakan memeluk agama apa saja, tapi jangan sekali-kali agama Islam.” Begitu peringatan yang ditegaskan ayahku. Jika ini terjadi, maka jangan salahkan ancaman fisik dan deraan mental menerpa. Ini pernah dialami kakakku nomor dua, Liem Hai Seng (Muh abdul Nasir). Kenapa tidak diperbolehkan menganut agama islam? Aku tidak tahu pasti alasannya. Dalam hatiku memang tertanam kebiasaan Buddha, namun itu taklid semata pada orang tua. Esensi ajaran Buddha, belum bisa aku tangkap. Barang kali karena umurku yang masih belia dan belum tahu apa yang semestinya.






Justru pengekangan inilah membuatku lebih penasaran. Aku merasa termotivasi untuk mencari jawabannya. Aku semakin tertantang untuk mengetahui dan mempelajari Islam. Ada apa dengan Islam. Kok sampai orang tua ku melarang keras pada anak-anaknya sementara selain agama itu boleh-boleh saja.


Oleh karenanya, ketika disekolahku, SDN 014 Dumai Riau, ada mata pelajaran agama Islam, aku coba menyimak penjelasan dari guruku. Aku ingin tahu, Islam itu seperti apa. Padahal aku diberikan dispensasi untuk tidak mengikuti mata pelajaran agama Islam karena aku beragama Buddha. Bahkan dianjurkan untuk belajar di Vihara atau Klenteng biar nilai agama Buddha ku bagus.


Suatu ketika, guruku pernah bilang. “Bagi yang tidak beragama Islam boleh keluar ruangan.” Kebetulan satu kelas, ada empat siswa keturunan Tionghoa beragama non-muslim, aku tetap tinggal di kelas. “Bu, saya amu mendengarkan. Saya mau membandingkan pelajaran yang saya terima di Vihara dengan pelajaran di sekolah,” begitu jawabku waktu itu.


Aku juga masih ingat, tatkala Ibu Saniati menceritakan kisah Ibrahim yang berlainan keyakina dengan Azar, ayahnya. Nantinya, begitu aku masuk Islam dan telah menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Roudhotul Muhsinin pada tahun 1999-2001, baru aku tahu, ternyata kisah itu diceritakan dalam surat Al-An’am. Setelah masuk Islam, aku jadi berfikir, Nabi Ibrahim dilahirkan bukan dari keluarga Islam, kenapa isa bisa mendapatkan hidayah?


Cerita yang dipaparkan Ibu Saniati itu persis yang di alami keluargaku. Bedanya, Azar adalah pembuat berhala, sementara ayahku adalah penyembah berhala. Inilah yang cukup berkesan dihatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap menyimak agama Islam. Bermula dari situ, aku mulai mengerti bahwa Islam mengajarkan konsep Ketuhanan Yang Esa, Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wata’ala. Hanya Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Dan kepada-Nya kita memohon pertolongan, bukan kepada yang lain.


Berbeda dengan Buddha yang memerintahkan para pemeluknya untuk menyembah patung sambil memegangi Hio. Ritual seperti inilah yang mengganjal pikiranku. Kenapa manusia harus menggantungkan dan memuja-muja patung meski tak bernyawa sekalipun. Bukankah manusia lebih unggul daripada patung? Bagiku penyembahan terhadap patung sungguh tak bisa dinalar. Lha wong kepda patung, kok kita mengharapkan keselamatan hidup dan kedamaian dunia.


Perjalanan mencari kebenaran


Sebelum menjadi muallaf, aku melakukan pencarian panjang, belajar agama dari satu orang ke orang yang lain. Mulanya, kau menggeluti agama Buddha melalui tradisi Buddha yang dicontohkan orang tuaku, seperti sembahyang menjelang Maghrib. Sayangnya, tetap tak kudapatkan sesuatu yang bisa menentramkan hatiku. Bahkan lama-kelamaan kejemuan dan tak bersemangat yang kurasakan. Belajar di Vihara, justru membuatku bingung karena bukan ajaran isi kandungan kitab Tripitaka yang diajarkan, tetapi malah sejarah sang Buddha (sidharta Gautama). Oleh karena itu, secara berkala aku mengabaikan pelajaran-pelajarannya. Hinga aku hanya bertahan 12 pertemuan (sekitar 3 bulan).


Keraguan demi keraguan membuatku melalaikan tradisi-tradisi Buddha. Aku mulai berani meninggalkan sembahyang. Bila orang tua ku menanyakan kenapa tidak sembahyang, maka segudang alasan aku utarakan. Aku mulai tidak percaya pada Tuhan yang disimbolkan dalam ketiga patung dalam rumahku. Mustahil, patung-patung itu bisa mendengar keluh-kesah ku apalagi memberikan pemecahan atas persoalan yang menderaku.


Sebaliknya, aku mulai rajin mengikuti pelajaran agama Islam di bangku SD. Dari sinilah, awal perkenalanku dengan Islam. Saat itu memang belum ada keinginan masuk Islam. Terbatas baru sekedar simpati. Yang mengherankan, setiap kali ada acara-acara keislaman, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Muharram dan lainnya, aku selalu menghadirinya. Aku senang mendengarkan ceramah Islam yang disampaikan oleh para Muballigh di masjid walaupun itu aku dengar dari luar. Maklumlah, banyak temanku yang berkomentar sinis terhadapku. Menurut mereka aku masih najis, jadi tidak boleh masuk masjid dan kalau masuk masjid mesti Islam dulu.


Aktivitas “mencuri-curi” ilmu tersebut, tentu aku lakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab kalau ayahku tahu, sudah pasti kemarahan, caci-maki, tamparan aku terima.selain itu jika kakakku silaturahim ke rumah juga sering menceritakan azab kubur, hari kiamat, serta kisah para Rasul. Bagaimana azab kubur itu ditimpakan kepada manusia, bagaimana keadaan manusia nanti tatkala hari kiamat itu datang dan bagaimana pula perjuangan para Rasul dalam menyampaikan dakwah kepada umatnya. Hingga tidak jarang, kami terlibat obrolan-obrolan kecil sambil mengingatkan kembali pelajaran yang ku dapat di sekolahan.


Meski simpati, aku belum berani terang-terangan menyatakan keislamanku, karena masih takut menghadapi reaksi ayah dan kerabat keluarga. Akan tetapi rasa ingin tahuku tak pernah berhenti. Terus berlanjut sampai masuk sekolah lanjutan di SMP YLPI Mutiara Riau Duri, seiring dengan bergulirnya waktu, keinginan mendalam untuk masuk Islam mulai kurasakan. Namun Aku masih menunggu waktu. Ada satu jawaban yang belum ku peroleh jawabannya tatkala aku membaca sebuah ayat yang tertera dalam muqaddimah buku tuntunan shalat, yang kebetulan dibawa kakakku. Ayat itu artinya: “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran[3]:85).


Usai membaca ayat ini, selama lima hari aku berpikir. Lantas kutanyakan pada kakakku, “Bang… apakah benar ayat ini firman Tuhan?”


“Benar.ayat ini merupakan firman Allah yang tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya.”


“kalau demikian, agama yang saya anut tidak diterima disisi Allah?”


“Iya”


Diskusi-diskusi ringan dengan kakakku itu dan pelajaran agama dari sekolahan makin memperteguh keyakinanku untuk masuk Islam. Lalu setelah menimang-nimang dengan matang, kukatakan bahwa aku benar-benar siap masuk islam. Rasanya kebenaran telah aku dapatkan di agama ini. Niatku ini lantas diikuti saudaraku Liem Cien Cien dan Liem Hai Shon.


Sebenarnya Ibu berat melepaskan anak-anaknya, terlebih pindah ke agama Islam. Tapi ibu tak mau membaut kami kecewa. Akhirnya ia merelakan sembari berpesan:”Kalau sudah masuk Islam, tolong jangan lupakan ibu! Masuk Islam-lah secara total! Jangan setengah-setengah !


Menyadari bakal ada tekanan dan ancaman dari ayah yang sedari awal paling anti terhadap Islam, maka proses pengislamanku berada diluar. Bukan di Dumai tempat kami tinggal. Tanpa sepengetahuan ayahku, kami betiga hijrah ke Duri ikut sang kakak. Seminggu sebelum masuk islam, kami bertiga di Khitan lebih dulu. Tepat pada tanggal 21 Juli 1994 ba’da Isya’, secara resmi aku dan kedua saudara ku mengucapkan dua kalimah syahadat. Ikrar itu diucapkan dihadapan H.Arwan, Ketua BAKORISMA ( Badan Koordinasi Remaja Islam Mandau) dan beberapa tokoh masyarakat sekitar dengan disaksikan ribuan jamaah di Masjid Raya Pasar Duri Riau. Sejak saat itu namaku berganti Muhammad Utsman Anshori.


Ternyara hijrahku menjadi muslim kemudian diketahui ayah. Beliau begitu terkejut dan amat kecewa atas kepindahanku ke agama Islam. Aku dianggapnya sebagai anak yang tak tahu di untung, tak tahu bakti dan balas budi. Larangan yang sejak awal ditegaskan, justru aku langgar. Setelah aku memeluk Islam, hubunganku dengan ayah semakin renggang. Ayah tetap tak terima. Serta merta, ayahku berupaya memaksa agar kembali ke agamaku semula. Tantangan bukan saja datang dari ayahku, namun juga cemoohan, kebencian dan rasa permusuhan yang dibangun oleh saudara dari ayahku (paman dan bibi). Baru tiga bulan masuk Islam kau dipanggil bibiku kerumahnya dan ia menawarkan uang Rp. 3 juta. Tentu, uang sebesar itu merupakan jumlah yang besar. Tujuannya adala mengiming-imingi agar aku meninggalkan Islam. Aku tak goyah. Keyakinanku sudah mantap.


Pergulatanku masuk Islam telah aku jalani selama 7 tahun. Dari SD sampai SMP. Dan aku telah mantap, memasuki dan siap melakuka kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah menjadi keyakinanku, aku tak mau pindah begitu saja. Sama juga bohong, jika kembali lagi ke agama semula. “Jangankan uang 3 juta. Andaikan rumah ini dijadikan emas lalu di berikan kepada saya agar saya meninggalkan Islam, maka demi Allah saya tidak akan keluar dari Islam,” Kataku. Jawabanku membungkam bibiku.


Aku sadar, resiko lebih besar bakal aku terima jika tetap bertahan didalam rumah. Maka kuputuskan untuk tidak kembali ke rumah. Semula ikut kakak, tapi Alhamdulillah, ada yang berbaik hati menerimaku. Mereka Adalah Bapak HM.Ali Muhsin, BA dan Ibu Hj. Nurbaiti. Keduanya menampungku di tengah kegalauanku. Bahkan mereka menyemangati agar aku meneruskan pendidikan agama ke jenjang lebih tinggi. Selepas lulus SMP YLPI Mutiara Duri Riau tahun 1995, aku melanjutkan Ke MAN sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Dar el Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang Banten. Aku ingin belajar sungguh-sungguh. Persoalannya bukan karena tidak ingin mengecewakan orang tua asuhku, tapi semata-mata ingin mendalami Islam lebih serius.


Tujuh tahun setelah masuk Islam, aku mampu menghafal Al-Qur’an dalam tempo 20 bulan di pesantren Roudhotul Muhsinin Bululawang Malang Jatim pada tahun 1999-2001. Banyak teman heran, kenapa seorang muallaf dalam waktu relative singkat dapat menyelesaikan hafalan Al-qur’an genap 30 Juz.


Dorongan untuk menekuni islam tidak berhenti sampai disitu. Aku merasa ilmu yang aku ketahui barulah sejengkal. Aku baru mencapai satu titik didepan yang mesti aku tapaki kemudian aku memberanikan diri untuk mengikuti pendidikan kader Muballigh KODI ( Koordinasi Dakwah Islam) Tanah Abang Jakarta Pusat tahun 2001-2002. Dari tempat inilah, setidaknya pengetahuan dakwahku kian terasah.


Beberapa tahun melanglang buana dalam pencarian ilmu membuatku semakin dewasa. Aku harus mengamalkan ilmu yang kudapat. Keinginanku kedepan, berjuang mengibarkan panji Islam sembari mengabdi di pesantren Duri Riau bersama Bapak KH. Ali Muhsin, BA. Beliaulah yang berjasa besar membimbingku untuk menekuni Islam secara utuh.


Kini sikap ayahku tidak sekaku dulu. Sudah mulai lunak. Ia bisa menerima keberadaanku. Tak lagi mencerca dan menampakkan wajah garangnya didepan anak-anaknya yang muslim, tapi sebaliknya meperlihatkan rasa kasih sayang. Dan yang tak boleh ku lupakan, harapanku semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan hidayah-Nya kepada kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku yang belum muslim. Dakwah Nabi mulai dari keluarga dekat dulu, itulah yang menjadi peganganku.




sumber: disarikan dari majalah hidayah. edisi oktober 2004