Astagfirullah, Inilah Akibat Amal Yang Di Sertai Riya

11:19 PM
Suatu hari, seorang guru ingin mengajarkan kepapda murid-muridnya tentang hakikat ikhlas dan akibat amal yang disertai riya. Sang Guru memerintahkan muridnya mengambil sebuah karung untuk dibawa kepasar. Di tengah perjalanan, sang guru memerintahkan muridnya untuk memungut batu-batu dan dimasukkan ke dalam karung sampai penuh. Walaupun tidak mengerti dan bingung dengan perintah gurunya, namun sebagai murid, ia mematuhi perintah sang guru.
 
Astagfirullah, Inilah Akibat Amal Yang Di Sertai Riya

Sang guru kemudian mengajak muridnya meneruskan perjalanan sambil memerintahkan sang murid membawa karung yang berisi batu-batu. Sang murid merasa berat meneruskan perjalanan dengan beban batu dipundaknya, namun ia tetap tak bisa menolak perintah gurunya karena sangat hormat dan patuh pada sang guru.
 
Sesampainya di pasar, sang guru hanya melihat-lihat barang yang ada dan tidak membeli sesuatupun. Sang murid merasa heran dan bertanya, “kita tidak membeli apa-apa guru?”
“tidak,” jawab sang guru, “Karung mu kan sudah penuh.” Sang murid sekali lagi tidak bisa membantah sang guru. Saat berkeliling-keliling pasar itulah banyak orang yang memuji mereka.
 
“Mereka pasti orang kaya, belanjaannya banyak sekali,”kata seseorang yang ada dipasar, orang-orang terlihat kagum kepada mereka berdua . setelah puas berkeliling , sang guru mengajak muridnya pulang. Begitu sampai dirumah, sang murid segera meletakkan karung yang berisi batu tersebut dan bertanya kepada sang guru, “Untuk apa batu-batu ini guru.”
 
“Tidak untuk apa-apa,” jawab sang guru dengan tenang. Mendapat jawaban seperti itu, sang murid sangat kecewa karena merasa telah berbuat sia-sia. Sang guru akhirnya menjelaskan hikmah dari apa yang telah mereka lakukan. “Itulah gambaran orang yang beramal dengan riya. Banyak orang yang memuji karena banyaknya barang yang kamu bawa, padahal sebenarnya tidak ada harganya. Begitu juga dengan amalan yang dilakukan dengann riya, kita sudah bersusah payah beramal tetapi tidak ada harganya di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
 
Riya merupakan lawan dari ikhlas. Riya berarti melakukan amal perbuatan karena ingin dilihat dan dipuji orang lain. Riya adalah perbuatan yang sangat tercela, bahkan dalam sebuah hadisnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa riya merupakan bentuk syirik kecil. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam., bersabda, “sesungguhnya yang saya takutkan atas kamu adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu ya Rasulullah?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Riya.” Ketika menusia datang untuk meminta balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan, Allah berkata kepada mereka itu, “pergilah (dan) temui orang-orang yang karena mereka kamu beramal didunia, niscaya kamu akan sadar apakah kamu memperoleh balasan kebaikan dari mereka itu.”
 
Riya merupakan penyakit hati yang sangat halus menyusup kedalam hati sehingga kadang-kadang sipelaku tidak sadar dengan apa yang ada dalam hatinya. Mereka menyangka bahwa amalan mereka diterima dan diridhai Allah, padahal sebenarnya amal mereka tertolak. Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Allah tidak akan menerima suatu amalan yang didalamnya terdapat riya walaupun seberat zarrah.”
 
Menurut Imam Al-Ghazali, riya dibagi menjadi beberapa tingkatan, riya dalam tauhid yaitu lisannya mengakui Allah sebagai Rabb-nya dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan-Nya, tetapi dalam hatinya tidak mengakuinya, riya jenis ini adalah milik orang-orang munafik hakiki. Kedua, riya dalam amal ibadah yaitu melaksanakan amal ibadah dengan harapan dilihat dan dipuji orang lain. Ketiga, riya dalam menyebut kebaikan yang telah dilakukan. Keempat, riya dengan memperlihatkan sikap kesungguhan dan kekhusyukan dalam beribadah agar terlihat sebagai orang yang saleh.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon