Bagaimana Berdebat dengan Para Munafiq Sejati

2:11 AM

 Lalu bagaimana cara kita jika terlibat dalam suatu perdebatan bersama para munafik? Haruskan kita mengalah atau terus berargumen dengan ilmu yang ada sampai orang tersebut tak bisa mengelak lagi. Berikut pemaparannya !

Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat kadang terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Biasanya salah satu pihak tidak mau kalah dan terus berargumentasi bahkan terkadang membantah ilmu yang sudah ada dan memaksakan pahamnya sendiri. Meskipun pahamnya tersebut cenderung tak masuk akal dan terkesan berbelit-belit. Nah jika anda merasa demikian maka segeralah mohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebab bisa jadi anda terperangkap dalam 4 sifat munafik yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Abdullah bin Amr berkata Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa tertanam dalam dirinya 4 hal, maka ia benar-benar seorang munafik sejati. Dan barang siapa dalam dirinya terdapat salah satu dari 4 hal, maka dalam dirinya tertanam satu kemunafikan sehingga ia meninggalkannya. Yaitu pertama, apabila berbicara ia berdusta. Kedua, apabila membuat kesepakatan ia menghianati. Ketiga, apabila berjanji ia mengingkari. Ke empat, apabila berdebat ia tidak jujur.” (HR. Muslim)

Lalu bagaimana cara kita jika terlibat dalam suatu perdebatan bersama para munafik? Haruskah kita mengalah atau terus berargumen dengan ilmu yang ada sampai orang tersebut tak bisa mengelak lagi. Berikut pemaparannya !

Sikap Seorang Da’I dalam Menghadapi para Munafik

Biasanya ustad, penceramah atau Da’I menjadi orang yang sering terlibat debat dengan para munafik. Sehingga ada beberapa hal yang perlu disampaikan. Terkait sikap Da’I dalam menghadapi orang-orang munafik. Allah ta’ala berfirman yang artinya “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al’-A’raaf :199)

Berpaling dari orang-orang munafik


Ibnu Jarin berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah telah memerintahkan agar ia menyuruh yang ma’ruf pada hamba-hamba-Nya termasuk dalam yang ma’ruf itu adalah segala ketaatan dan menyuruh berpaling dari orang-orang munafik. Jadi bersikap dingin dalam menghadapi orang-orang munafik adalah di utamakan. Sebab Allah subhanahu wata’ala berkata bahwa “Memang sepeti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya dan mengubah sikapnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya : “ Dan jika dikatakan pada mereka, ‘Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan Allah dan kepada Rarulnya.’ Kamu pasti akan melihat orang-orang munafiq itu menghalang-halangi kamu dengan keras.” (QS. An-Nisa: 61)

Nasihat syekh al-Utsaimin dalam Ash-Shohwah Al-islamiyyah berkata bahwa cara berdebat lewat berdakwah ada 3 , yaitu :

1. Bashirah ‘ala Ilmi : pengetahuan atau penguasaan atas ilmu.

Ini jelas merupakan syarat dakwah yang pertama, mengenai hal ini syeh Utsaimin berkata beberapa orang menghukum beberapa perkara yang bukan merupakan kewajiban bagi perkara yang wajib. Sehingga apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi Al-qura’an dan As-sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya ia pun mencintainya.

2. Bashirah ‘ala Mad’u : pengetahuan atau objek yang sedang dibahas.

Hal ini dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Muadz bin jabal radiallahu anhu untuk berdakwah di yaman. Saat itu beliau bersabda : “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab.” (Muttafaqun ‘Alaih). Kata kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek dakwah sebelum berdakwah padanya. Kita tentu patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuan dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya. Supaya kemudian kita mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam.

3. Bashirah ‘ala Dakwah : pengetahuan atas dakwah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami di perintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing.” (HR. Muslim)

Ini penting ! sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. 
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan. Maka sekali-kali mereka tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 
Sudah seharusnya kita berhati-hati dalam bersikap dan berujar. Bisa jadi, jangan-jangan kita selama ini mempunyai satu diantara sifat munafik tersebut. Semoga senantiasa kita dijauhkan dari sifat Munafik sejati. Amin ya robbal ‘alamin.


Sumber photo : flickr dengan lisensi comercial use & mod allowed.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon