Bagaimanakah Jabat Tangan yang diperbolehkan Menurut Syara' ?

5:40 PM

Bagaimanakah Jabat Tangan yang diperbolehkan Menurut Syara' ?
Hampir semua orang di dunia ini barang kali sudah menganggap wajar jabat tangan antara pria dan wanita. Dari masyarakat perkotaan hingga pelosok-pelosok masyarakat perkampungan. Semua tumpah menyemarakkan dan seakan melegalkan kebiasaan jabat tangan. Keberadaannya bukan saja identik dengan persahabatan, tetapi sudah menjadi sebuah simbol peradaban modern. Lihatlah sekeliling kita, tentu kita saksikan betapa ia telah menjadi pemandangan sehari-hari.
 
Di balik semua itu orang lupa dan cenderung mengabaikan makna jabat tangan (musafahah). Apakah dalam tinjauan agama, kebiasaan itu dibenarkan atau tidak? Bagaimanakah jabat tangan yang diperbolehkan menurut syara’? inilah yang tak disadari banyak orang. Orang seakan tidak perduli dengan nilai-nilai agama sehingga keberadaanya dinomorduakan.
 
Sebetulnya, jabat tangan antara pria dan wanita tidak dilarang asalkan kedua orang yang bersalaman tersebut masih saudara (mahram). Ketentuan mahram adalah sebagaimana yang tercantum dalam kitab fiqih, yakni orang-orang yang tidak halal dinikahi. Akan tetapi jika keduanya bukan mahram, maka islam mengharamkannya.
 
Ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa imam ash-shadiq ditanya, “Apakah boleh bagi laki-laki berjabat tangan dengan perempuan yang bukan mahram? “ beliau menjawab, “Tidak, kecuali memakai kain. Dan tidak menyentuh telapak tangannya.”
Oleh karena itu, ketika nabi berhadapan dengan perempuan-perempuan yang ingin membaiatnya, beliau berkata, “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan perempuan.”
 
Riwayat diatas menjelaskan bahwa sesuatu yang tidak dikehendaki rasul, meski hanya dengan gelengan kepala apalagi dengan kata “tidak”, bermakna larangan. Dan larangan adalah bagian dari sesuatu yang mesti dijauhi. Sama artinya jika tetap dilanggar maka konsekuensinya adalah dosa. Tapi kenyataannya, hal yang jelas dosa dimata agama malahan menjadi kebanggaan masyarakat sungguh ironis.
 
Kebanyakan kita tidak sadar bahwa setapak demi setapak, kita mulai menyenyampingkan sunah rasul. Apa yang semestinya di contoh, tak jarang kita abaikan. Sebaliknya, apa yang mestinya tak boleh dilakukan justru menjadi kebanggaan.
 
Sesungguhnya islam sangat realistis dalam mempelajari perasaan-perasaan pria dan wanita. Adalah hal yang wajar ketika wanita bersentuhan dengan pria, ia akan merasaka pengaruh seksual, sebagaimana pria merasakan hal yang sama ketika bersinggungan dengan wanita. Ini mungkin tidak jauh beda dengan perintah Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hambanya untuk menutup aurat. Tidak lain bertujuan untuk menghindarkan dari segala fitnah yang muncul. Begitu pula dengan jabat tangan. Kita tahu bahwa dibalik perintah menyimpan larangan. Demikian halnya sebaliknya. Kedua kutub ini memang saling berkaitan. Ada hokum kausalitas (sebab akibat) didalamnya.
 
Lantas bagaimana jika jabat tangan tidak mengandung perasaan apa-apa? Menurut Sayid Muhammad Husain Fadhlullah, ketika terdapat kesiapan jiwa untu menarik lawan jenis atau adanya keterbukaan (daya tarik) naluri seks kepadanya, maka jabat tangan menjadi langkah pertama untuk memuluskan langkah berikutnya.
 
Islam mengharamkan jabat tangan karena ia berupaya untuk menghindarkan manusia dari perbuatan-perbuatan yang lebih jauh dari sekedar pesentuhan tangan lawan jenis yang bukan mahram. Islam berusaha menjaga kebersihan perasaan dan sentimen melalui usaha menjauhkan manusia dari segala hal yang memperkeruh kebersihan spiritual dan jiwa. Dan masalah pengharaman ini tidak disebabkan oleh ketidakpercayaan denga dorongan-dororngan suci pada diri manusia, tetapi islam ingin agar dorongan-dorongan suci ini tidak terpengaruh oleh suatu eksperimen yang dapat memperburuknya. 
 
Wallahu a’lam.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon