Budaya Islam Indonesia "Tahlil" Serta Maknanya

7:07 AM

Tahlil atau tahlilan bukanlah tradisi baru bagi masyarakat muslim Indonesia, terutama untuk warga pedesaan. Meski sejak dulu menuai pro kontra, kenyataannya sampai sekarang tahlilan masih berlangsung dan digemari banyak kalangan.

Tahlil atau tahlilan bukanlah tradisi baru bagi masyarakat muslim Indonesia, terutama untuk warga pedesaan. Meski sejak dulu menuai pro kontra, kenyataannya sampai sekarang tahlilan masih berlangsung dan digemari banyak kalangan. Dari generasi ke generasi, tahlilan merupakan warisan yang senantiasa hidup di tengah-tengah masyarakat. Apabila ada seseorang yang meninggal dunia, maka anggota keluarganya mengadakan tahlilan dengan memberitahukan segenap kerabat dan masyarakat setempat. Umumnya tahlilan diadakan selepas shalat maghrib di kediaman keluarga almarhum. Adapun tujuannya untuk mendoakan agar almarhum yang telah tiada itu mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.
Untuk menghormati orang yang hadir, tuan rumah biasanya menyediakan makanan dan minuman, meskipun untuk hal ini memang tidak ada norma yang tertulis yang mengaturnya. Sayangnya, tuan rumah kerapkali ada yang memaksakan diri dalam menjamu mereka. Salah satu alasannya karena gengsi dan untuk menunjukkan status sosial dalam masyarakat.
Misalnya keluarga almarhum menyuguhkan makanan dan minuman yang terkesan mewah dan mahal, laksana sedang mengadakan pesta atau harus meminjam uang demi memuaskan tetangga yang mengaji. Padahal tidak harus demikian. Sejatinya kita menghormati mereka semampu yang kita punya atau ala kadarnya saja. Sebab, dengan meninggalnya salah seorang anggota keluarga, jelas menyisakan beban, meninggalkan kesedihan dan tentu mengeluarkan banyak biaya bagi yang di tinggalkan.
Biasanya tahlilan berlangsung selama tujuh hari kematian almarhum. Terkadang ada juga masyarakat yang menyelenggarakannya hanya pada hari pertama, hari ketiga dan hari ke tujuh. Setelah itu, kegiatan tahlilan dihentikan. Untuk mengenang kepergian almarhum kepangkuan Illahi Rabbi, keluarga mengadakan kembali pada hari ke empat puluh hari ke seratus, menginjak satu tahun, dan tiga tahun kemudian.
Diluar peristiwa kematian, masyarakat seringkali melaksanakan tahlilan dalam bentuk momen yang lain. Umpamanya tahlilan diadakan ketika ada orang yang ingin menempati tempat tinggal baru atau saat orang hendak ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dibarengi dengan acara selamatan,
Makna Tahlil
Istilah tahlil berasal dari bahasa arab hallala yang mempunyai beberapa pengertian. Diantara maknanya adalah menjadi sangat, gembira, mensucikan dan mengucap kalimat laa ilaaha illa Allah. Dari sekian arti yang ada, definisi terakhirlah yang dimaksudkan dalam pengertian tahlil. Jika ditarik lebih jauh, maka kegiatan tahlil ialah membaca kalimat laa ilaaha illa Allah ditambah dengan bacaan-bacaan tertentu yang mengandung fadhilah (keutamaan) dan pahala bacaannya ditujukan kepada orang muslim yang sudah meninggal dunia.
Cara tahlil berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Kiranya tidak masalah apabila teks dan gayanya pun sangat bervariasi. Secara umum, dalam kegiatan tahlil bacaan yang dibawakan antara lain surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Muawwidzatain, permulaan dan akhiran surat Al-Baqarah, ayat kursi, istighfar, tahlil (laa ilaaha illa Allah), tasbih (subhana Allah wa bihamdihi subhana Allah al-adzim), shalawat nabi dan do’a. mengingat dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang, maka selanjutnya acara itu biasa dikenal dengan istilah tahlilan.
Pada dasarnya, refleksi utama dari tahlil adalah do’a untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Tahlil berarti perbuatan yang mengandung kebaikan. Artinya, tahlil bukan hanya kepentingan bagi almarhum, tetapi juga bagi orang-orang yang mendo’akannya tentu mendapatkan pahiala karena kalimat-kalimat yang dibacanya. Beranjak dari sinilah kita harus memahami bahwa tahlil jelas memiliki nuansa berdimensi spiritual. Tradisi semacam ini dikategorikan dalam symbol-simbol sebagai media dakwah untuk melestarikan eksistensi agama sebagai ajaran maupun agama sebagai ideologis.
Jika kita mencermati keberadaan tahlil, maka tahlil bukanlah problem yang sangat mengganggu akidah seorang muslim dan buka pula sumber utama terjadinya konflik atau perpecahan dalam masyarakat. Maksudnya, biarlah umat Islam yang menyikapinya berdasarkan landasan hokum dan argumentasi yang diajukannya.
Dalam catatan penulis, sampai saat ini ada dua kelompok yang mempersoalkan beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan tahlil, yakni pihak yang pro dan kontra. Setidaknya terdapat titik tekan yang mereka perdebatkan . pertama, dasar hukum mengenai tahlil. Kedua, sampai atau tidaknya pahala tahlil kepada almarhum. Ketiga, menjamu orang-orang yang hadir. Kedua golongan ini sama-sama memiliki landasan hukum kuat yang berasal dari Al-Quran dan Hadits nabi. Meski mereka mengambil dalam sumber yang sama, namun cara pandangnya yang berbeda. Faktor ini lah yang menyebabkan tidak adanya benang merah dalam persoalan tahlil.
Kiranya tahlilan tidak sekedar aktivitas membaca beberapa ayat Al-Qur’an, dzikir dan kalimat thayyibah. Tahlilan bisa menjadi wahana untuk berkumpul bersama antara keluarga yang baru mengalami kesedihan dengan masyarakat. Dalam bahasa sederhana, tahlilan dapat mempererat ikatan emosional dan menghidupkan rasa persaudaraan antar personal. Ada juga kalangan yang memaknai tahlilan sebagai salah satu bentuk tanda bakti orang yang masih hidup kepada almarhum. Selain itu, penulis berharap agar tahlilan mampu menjadi tempat untuk mengingatkan sekaligus menyadarkan diri kita bahwa kematian akan menjemput setiap manusia yang bernyawa.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon