Celakalah Mereka Yang Shalatnya Sia-sia

12:12 AM
Kalau kita beramal tidak di terima oleh Allah, lalu apa yang kita harapkan? Padahal kita semua akan kembali kepada Allah. Semua yang kita miliki dan kerjakan akan ada perhitungannnya. Tentu kita akan menemui kerugian yang nyata.

Perlu diketahui, bahwa ketika Allah memerintahkan sebuah kewajiban kepada hambanya, bukan berarti Allah membutuhkan kita. Tidak ! Allah tidak membutuhkan apapun dari kita. Allah Maha Kaya dan seluruh makhluk di alam semesta semuanya fakir, butuh kepada-Nya. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi maha terpuji.” ( QS: Fathir:15). Untuk itu, sebenarnya semua manfaat ibadah itu dimaksudkan untuk kita sendiri, baik di kehidupan dunia maupun akhirat. Di akhirat, kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan dunia, yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun di kehidupan dunia, hamper seluruh ibadah mempunya efek kontan yang bisa kita rasakan.



Sebuah ibadah ritual yang Allah perintahkan, pastilah memiliki dimensi ibadah sosial sebagai salah satu bentuk implementasi dalam kehidupan dunia untuk menuju akhirat. Dengan kata lain, bahwa orang yang sukses dalam melaksanakan ibadah ritual, pastilah orang yang sukses dalam ibadah sosial. Jika tidak, maka dapat dikatakan ia gagal menggunakan dunia sebagai jembatan menuju akhirat.

Diantara ibadah yang sarat dimensi sosial adalah shalat. Shalat yang didirikan seseorang, selain bertujuan untuk peribadatan diri kepada Allah, juga sebagai sarana spiritual yang diharapkan mampu melahirkan kepribadian yang mulia, mencegah dari berbagai kemungkaran dan kemaksiatan.

Menurut dr.H. Ibin Kutibin Tadjudin Sp.Kj dalam bukunya, Psikoterapi Holistik Islami: 243, menyebutkan, “Shalat itu bisa mencegah manusia dari perbuatan munkar. Kalau ditinjau dari aspek kesehatan jiwa, mudah-mudahan orang tersebut memelihara kesucian jiwanya dan terhindar dari perbuatan yang akan merusak keharmonisan jiwa. Shalat wajib lima kali dalam sehari, memagari seseorang dari berbuat sesuatu yang bisa menimbulkan penyesalan.”

Allah berkalam, yang artinya: “Sesungguhna shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut:45)

Ketika seseorang melakukan shalat, tapi perilaku sosialnya tidak benar, maka dapat dikatakan shalat orang itu sia-sia. Sebagai contoh, misalnya ada orang yang rajin shalat, tapi suka menghalalkan segala cara dalam mencari harta, baik dengan korupsi atau menzalimi orang lain. Kenapa? Karena salah satu syarat mutlak di terimanya amal ibadah termasuk shalat, adalah makanan, minuman, dan pakaian yang dikenakan, didapat dari harta yang halal. Bukan dari harta korupsi, meperjualbelikan hokum, memanipulasi data, atau hasil transaksi riba misalnya.

Dalam sebuah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dikatakan, yang artinya” Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha suci dan tidak akan menerima kecuali yang suci. Dan sesungguhnya Allah menyuruh orang mukmin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul.” Rasul kemudian bersabda, “Allah berfirman : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mu’minuun :51), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.’ (QS. Al-Baqarah: 172) ( HR. Muslim)

Berdasarkan hadits ini, ulama sepakat bahwa sholat orang yang makan harta yang tidak halal, secara fikih ibadahnya sah, tetapi tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Kalau kita beramal tidak di terima oleh Allah, lalu apa yang kita harapkan? Padahal kita semua akan kembali kepada Allah. Semua yang kita miliki dan kerjakan akan ada perhitungannnya. Tentu kita akan menemui kerugian yang nyata.

Disebutkan bahwa salah satu ulama salaf yang bernama Wahb bin al-Ward berkata, “Sekalipun kamu berdiri bagaikan tiang, itu tidak ada gunanya bagimu sampai kamu memperhatikan apa saja yang kamu masukan kedalam perutmu, halal atau haramkah?

Begitulah para salaf mengajari kita cara agar shalat kita tidak sia-sia. Sungguh merugi orang-orang yang suka menghalalkan segala cara. Korupsi dan memanipulasi menjadi pekerjaannya. Riba menjadi sumber rezekinya. Sadarlah, bahwa shalat, haji,sedekah, dan seluruh amal yang dilakukan, pastilah sia-sia disisi Allah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang sisi sosialnya rusak, maka dapat dikatakan bahwa ibadah shalatnya juga sia-sia. Celakalah mereka itu.


Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon