Detik-detik Wafatnya Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam

7:18 PM
Pagi itu rasulullah shalallhu 'alaihi wasallam, dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku dan kelak-orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Pagi itu rasulullah shalallhu 'alaihi wasallam, dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku dan kelak-orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh dan menatap sahabatnya satu per satu. Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, dada Umar naik turun menahan nafas dan tangisnya. Utsman menghela nafas panjang, dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua.” Desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menuaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir pasti akan menahan detik-detik berlalu, jika mereka bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar terdengar seorang yang berseru mengucapkkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah ayahku sedang demam,” Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu, wahai anakku?”

“Tak tahu, Ayah. Sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” Kata Rasulullah, Fatimahpun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. JIbril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Ternyata hal itu tidak membuat Rasulullah merasa lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, wahai Rasulullah?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku, kelak?: Rasulullah bertanya kembali.

“Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” Jibril menjelaskan.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan, ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-utar lehernya menegang. “JIbril betapa sakit sakaratul maut ini?” ujar Rasulullah menahan sakitnya.

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, JIbril?” Tanya Rasulullah kepada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah di renggut ajal?” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar, seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali lantas mendekatkan telinganya. “Uushikum bis-shalati, wama malaikat aimanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu.”

Diluar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, Ummatii. – umatku, umatku, umatku…..

Sumber gambar: Flickr dengan lisensi commercial allowed

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon