Jangan Gunakan Bahasa Alay Untuk Mengubah Nama Allah Ta'ala

9:58 PM

Kita sering kali melihat, merasa atau mendengar orang berkata yang kurang baik, kurang pantas atau bahkan sama sekali tidak pantas. Terkadang hal tersebut diwajarkan karena memang manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan. Meski begitu, di zaman yang semakin berkembang ini, manusia justru memberi kesan lupa pada adat istiadat, sopan santun, tata krama dan sebagainya. Beragam sapa serta panggilan kerap terkesan merendahkan dan kebablasan. Tak hanya pada manusia, bahkan sebutan kepada Allah sang Kholik pun diplesetkan.

Kita sering kali melihat, merasa atau mendengar orang berkata yang kurang baik, kurang pantas atau bahkan sama sekali tidak pantas. Terkadang hal tersebut diwajarkan karena memang manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan. Meski begitu, di zaman yang semakin berkembang ini, manusia justru memberi kesan lupa pada adat istiadat, sopan santun, tata krama dan sebagainya. Beragam sapa serta panggilan kerap terkesan merendahkan dan kebablasan. Tak hanya pada manusia, bahkan sebutan kepada Allah sang Kholik pun diplesetkan.
Banyak orang mengidentikkan penulisan atau pengucapan yang tidak baku sebagai bahasa alay. Bahasa tersebut terus bertambah kosa-katanya seiring dengan banyaknya kata yang diplesetkan atau dirubah. Bahkan penulisannya benar-benar jauh dari kaidah penulisan yang seharusmya. Penggunaan bahasa seperti itu memang menjadi hak mereka yang menggunakannya. Karena hal tersebut tentunya menjadi tanggung jawab mereka. Namun, penggunaan tersebut perlu diperhatikan dan tentu saja di perbaiki. Jika penggunaanya sudah diluar batas hingga mengubah nama Allah dengan berbagai istilah keagamaan seperti “Ya Oloh” , “Ya Awoh”, “Astapiloh”.
Sebagai umat muslim sepatutnya kita merasa sedih, kesal dan kecewa melihat hal tersebut. Mereka yang menggunakan kata-kata tersebut mungkin sering berdalih bahwa hal tersebut merupakan guyonan dan candaan, tidak perlu dibawa serius. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua hal bisa dijadikan bahan candaan apalagi terkait dengan nama Allah. 
Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Hujuraat :11).
Dengan firman Allah tersebut dengan jelas tidak diperbolehkannya untuk mengolok-olok satu sama lain. Lantas, mengapa kita dengan lancangnya mengubah nama Allah dengan kata-kata dan panggilan yang tidak pantas.
Mempermainkan Nama Allah adalah kerusakan Tauhid
Hakikat tauhid adalah penyerahan diri, taat menerima dan mengagungkan Allah azza wazalla. Sedangkan bersenda gurau, mempermainkan nama dan mengolok-olok Allah, Al-Qur’an dan Rasul-Nya merupakan penentangan karena tidak menunjukan pengagungan.
Allah ta’ala berfirman : “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” ( At-Taubah:65-66).
Para ulama berpendapat bahwa hal tersebut merupakan bentuk dari mereka yang menentang atau membantah. Salah satu bentuk penentangan itu ialah dengan mengolok-olok atau hal-hal serupa lainnya. Mengolok-olok Allah, Rasul atau Al-Qur’an tidak mungkin keluar dari hati orang yang bertauhid. Tetapi menjadi kebiasaan orang-orang munafik atau orang kafir musyrik.
Allah ta’ala berfirman : “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman : 6).
Melalui ayat tersebut hendaknya kita berkaca, tidak takutkah kita akan azab Allah. Pantaskah kita menjadikan Allah ta’ala sebagai olokkan. Mungkin selama ini hal tersebut dilakukan seiring dengan kekhilafan. Maka dari itu amatlah perlu menjaga lisan.
Semoga pemaparan MuslimHarian.com bermanfaat dan semoga ampunan serta rahmat Allah subhanahu wata’ala selalu senantiasa terlimpah kepada kita. Amin ya robbal ‘alamin.


Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon