Ketika Umat Nabi Muhammad Memasuki Pintu Neraka

12:20 AM
Siapakah yang dapat menjamin seorang ‘abid ( ahli Ibadah) terbebas dari petaka neraka? Apakah ketika si ‘abid sudah menunaikan shalat, puasa, zakat, haji atau membaca Al-Qur’an secara rutin, maka dia akan terlepas dari pintu-pintu azab Allah subhanahu wata’ala?

Siapakah yang dapat menjamin seorang ‘abid ( ahli Ibadah) terbebas dari petaka neraka? Apakah ketika si ‘abid sudah menunaikan shalat, puasa, zakat, haji atau membaca Al-Qur’an secara rutin, maka dia akan terlepas dari pintu-pintu azab Allah subhanahu wata’ala?

Imam ‘Alauddin Az-Zindusti menulis dalam kitabna Raudhatul Ulama, bahwa Sa’ad bin Muhammad al-Astarusyni, seorang ahli fikih yang zahid, mendapat cerita dari Kalabi, dari Abi Shalib, dan dari Ibnu Abbas, bahwa sebuah ayat Al-Qur’an dipertanyakan kepada Nabi yang berbunyi : “Kerap kali orang-orang kafir itu ingin menjadi orang muslim.” (QS.AlHijr:2)

Dan Nabi pun menjawabnya. Yakni sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, pernah bersabda, “Ketika berkumpul para ahli neraka termasuk didalamnya para ahlul qiblah (mereka yang shalat menghadap kiblat alias orang Islam). 

Bertanyalah orang kafir kepada ahli kiblat itu:

“Bukankah kau orang Islam?”

“Ya,” jawab mereka.

“ Lalu apa guna Islammu jika kau ternyata berkumpul dengan kami disini?”

“Kami punya dosa-dosa yang sangat banyak kepada Allah, maka kami di azab disini.”

Tapi Allah murka mendengar ada ahli kiblat tinggal di neraka. Allah lalu mengampuni mereka berkat keutamaan-Nya dan kasih sayang-Nya. Lalu Dia memerintahkan kepada semua ahli kiblat yang ada di neraka untuk keluar. Dan, mereka pun keluar.

Pada saat itulah orang kafir ingin sekali menjadi orang Islam. Ibnu ‘Abbas berkata, “Kelak, di hari kiamat, akan digiring dari umat ini satu kelompok di atas sirath (titian). Dan itu karena yang pertama kali masuk surga, selain para Nabi, adalah umat ini (Umat Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam). Sedang orang yang terakhir adalah orang yang seharusnya masuk neraka, tapi Nabi lalu melihat bahwa mereka itu umatnya, berkat tanda cemerlang pada anggota tubuh mereka yang selalu terkena air wudhu.

Nabi lalu berkata: “Wahai Jibril! Mengapa ada umatku yang di tahan di atas Shirath?”
Yang menjawab adalah Allah: “Singkirkan mereka dilembah-lembah kiamat, hingga Muhammad masuk surga.” Maka ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memandang kiamat, beliau mengira semua umat beliau telah habis masuk surga lebih dahulu. Dan ketika Nabi memasuki surga, Allah berfirman kepada malaikat Zabaniah (Malaikat Pengazab): “Giringlah mereka, serahkan kepada Malik ( Malaikat penjaga Neraka).”
Dan ketika Malik melihat ahli neraka itu, ia berkata, “Wahai kelompok orang-orang celaka, siapa kalian, dari umat mana? Saya tidak menyangka kalian akan menjadi penghuni neraka. Biasanya yang masuk kemari, diikat, dibelenggu dengan rantai, dikumpulkan dengan para setan, dengan wajah hitam legam dan mata member. Kalian tidak. Kaki dan tangan kalian tidak di borgol. Wajah kalian tidak hitam dan mata kalian tidak membiru. Kalian datang kemari berjalan kaki seperti biasa? Dari umat siapa kalian?”

Mereka menjawab: “Jangan bertanya tentang itu, Malik, Kami malu mengatakannya, kepadamu. Tapi, kami adalah orang-orang yang menghafal Al-Qur’an, berpuasa di bulan Ramadhan, yang naik Haji, berperang di jalan Allah, menunaikan zakat, menghormati para anak yatim, selalu mandi dari janabat ( Mandi karena hadats Besar) dan selalu mengerjakan shalat yang lima.”

“Lho! Bukankah Qur’an akan menabirimu dari maksiat, dan menjagamu dari kemungkinan masuk kemari?”

“Wahai malik, jangan mencemooh kami begitu. Kami telah selamat dari cemooh Allah,” Kata mereka.

Kemudian terdengar suara, “Hai Malik, masukkan mereka ke pintu teratas neraka.”

“Mendengarkan kalian suara itu?” Malik bertanya.

“Ya.” Jawab mereka. “Tapi, biarkan dulu kami sesaat meratapi diri.”

“Tidak mungkin,” jawab Malik.

Tiba-tiba bergema lagi suara, “Hai Malik, biarkan mereka menangis dan meratapi diri. Lalu kumpulkan mereka yang menghafal Al-qur’an dalam kelompok sendiri. Yang berhaji dalam kelompok sendiri, yang bejihad dalam kelompok sendiri. Juga kaum wanita kau sendirikan.”

Mereka lalu melolong meratapi nasib diri. Begini ratap mereka, “Bagaimana kami kuat didera siksa neraka, padahal kami tak kuat tempaan panas sang surya. Bagaimana kami kuat mengenakan aspal yang panas, sedang yang kami pakai biasanya baju yang nyaman dan lembut. Bagaimana kami kuat memakan arang dan minum air mendidih, sedang kami biasanya makan makanan lezat dan minum-minuman sejuk.”

“Nah, kalian dengar?” Tanya Malik. “Kalian mengerti suara itu”

“ya”

“Dari umat mana kalian ini ?” Malik bertanya.

“sungguh kami malu menyebutkannya,” jawab mereka.

Malik lalu menggiring mereka kedalam neraka. Yang tua dijajaran paling depan. Lalu menyusul yang muda. Kemudian para wanita, hingga semua tiba di bibir jahannam. Malaikat yang garang dan keras pun muncul segera. Malaikat ini diciptakan Allah tanpa kalbu, tak merasa kasihan kepada siapapun Ia menyiksa tanpa ampun tanpa kompromi. Seribu malaikat zabaniah mengeroyok setiap orang dari mereka. Mereka lalu dilemparkan kedalam neraka; ada yang di pegang pergelangan kakinya, atau lututnya, pinggangnya, dan ada pula yang dijerembabkan pada dadanya.

Ketika api neraka akan menjilat mereka; terdengar suara gemuruh lagi dari arah ‘Arasy, “Hai Malik, urapkan api ke muka dan hati mereka. Orang-orang ini pernah ikrar kepada-Ku dengan lidah mereka. Sudah mengenal Aku dengan hati mereka, dan pernah sujud dalam hidup mereka dalam dunia.”

Mendengar suara begitu serta merta mereka melolong: “Wahai Muhammad, wahai Abu Qosim ( salah satu gelar panggilan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam). Artinya; bapak si Qosim; salah seorang putra Nabi, wafat dimasa kanak-kanak, adalah al-Qasim), wahai Muhammad yang selalu berbuat baik kepada para janda dan yatim piatu, wahai orang yang paling mulia di hari kiamat, wahai pembebas bangsa-bangsa, wahai pembuka pintu surga, wahai penutup pintu neraka umat-umatnya, wahai penolong umat-umat, kami orang-orang lemah dari umatmu yang tak tahan lagi dengan siksa neraka. Selamatkan kami dari neraka, berikan kepada kami syafa’at Tuan !”

Lalu muncul seseorang yang meletakkan kedua tangannya pada kedua telinganya seperti hendak menyerukan adzan, dan berteriak: “Kami dari umat Muhammad!”

Mendengar pekikan itu, Malik segera berangkat ke surga dan menemui Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Nabi sendiri kala itu sedang menikmati kehidupan surga.

“Muhammad, Tuan senang disini, padahal umat Tuan yang dhaif meminta pertolongan Tuan. Berilah pertolongan; mereka benar-benar lemah dan tak mampu lagi tinggal dalam neraka.

Ketika mendengar berita yang di bawa Malik, Muhammad serta merta meninggalkan kursinya dan mencari Buraq untuk dikendarai.

“Cepat Buraq! Cepat! Umatku yang lemah sudah tak kuat lagi menahan siksa neraka,” Kata Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. 

Buraq lalu meletakkan kaki depannya persis dimulut neraka jahannam. Benar. Nabi mendengar suara umat beliau dan pekikan rintih yang mengiringi siksa mereka. Nabi menangis mendengar kesemuanya.

“Malik, keluarkan meraka dari neraka,” Nabi meminta.

“Saya tidak bisa melakukannya, Ya Muhammad, kecuali ada perintah Allah.

Muhammad lalu turun dari Buraq dan menangkap kaki ‘Arasy, kemudian ia bersujud. Ia mengadu kepada Allah.

“Tuhanku, beginikah kiranya janji-Mu kepadaku untuk tidak menyiksa umatku dalam neraka?”

“Wahai Muhammad, mereka sudah melupakanmu waktu hidupnya. Mereka meninggalkan syari’atmu, maka aku juga melupakan syafaatmu kepada mereka. Sekarang berilah mereka syafaat,” Jawab Allah.

Nabi Muhammad lalu memberi syafa’at dan Allah pun menyelamatkan mereka, mengeluarkan mereka dari neraka. Tinggallah orang-orang kafir di situ. Kala itulah orang-orang kafir pada merintih, “Seandainya kami dulu mau menjadi muslim, tentunya kami juga dikeluarkan seperti mereka. “
Ibn ‘Abbas lalu mengutip ayat Al-Qur’an: “Kerap kali orang-orang kafir itu ingin menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr:2) berdasarkan kisah diatas, ada dua hal yang layak kita cermati.

Pertama, bahwa menjadi muslim yang senantiasa beribadah belumlah menjamin dirinya itu benar-benar terlepas dari pintu neraka. Hal ini mungkin karena ibadah si muslim dilakukan bukan karena hati yang ikhlas tapi karena sesuatu diluar itu. Dalam kisah tersebut, beruntung Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam masih berkenan memintakan syafaat untuknya. Namun, coba kita bayangkan bila Rasulullah tidak meluluskannya. Neraka akan menunggu kita. Naudzubillah. Hal ini bisa saja terjadi sebab kita tidak tahu apakah kita yang termasuk ahli yang mendapat syafaat beliau atau tidak.

Kedua, penyesalan selalu datang diakhir cerita. Begitulah yang dirasakan orang-orang kafir dalam kisah diatas. Karena itu adalah perkara mutlak bagi kita untuk terus beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya hingga kita tidak menyesal di hari pembalasan nanti. Amin. Wallahu ‘alam bil Shawab.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
22 Desember 2017 09.05 delete

Aku sedih menangis membaca cerita diatas...kitapun tidak lepas dari tipu daya Allah SWT.
Tobat diakhir hidup lebih mulia drpd melupakan ajaran Nabi saw.

Reply
avatar

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon