Kisah Habiel dan Qabiel Kedua Putera Nabi Adam ‘Alaihissalam

10:14 PM
Tata cara hidup suami istri Adam dan Hawa, bumi mulai tertib dan sempurna tatkala Hawa bersiap-siap untuk melahirkan anak-anaknya yang akan menjadi bibit pertama bagi umat manusia didunia ini. Siti Hawa melahirkan kembar dua pasang. Pertama lahirlah pasangan Qabiel dan adik perempuannya yang diberi nama “Iqlima”, kemudian menyusul pasangan kembar kedua Habiel dan adik perempuannya yang diberi nama “Labuda”.

burung gagak menggali tanah


Kedua orang tua, Nabi Adam ‘alaihissalam dan Siti Hawa, menerima kelahiran keempat putra-putrinya itu dengan senang dan gembira, walaupun Hawa telah menderita apa yang lumrahnya diderita oleh tiap ibu yang melahirkan bayinya. Mereka mengharapkan dari keempat anak pertamanya ini akan menurunkan anak-cucu yang akan berkembang biak untuk mengisi bumi Allah subhanahu wata’ala dan menguasainya sesuai dengan amanat yang telah dibebankan diatas pundaknya.

Dibawah naungan ayah ibunya yang penuh cinta dan kasih sayang bertumbuhlah ke empat anak itu dengan cepatnya melalui masa kekanak-kanakan dan menginjak masa remaja. Yang perempuan sesuai dengan kodrat dan fitrahnya menolong ibunya mengurus rumah tangga dan melakukan hal-hal yang menjadi tugas wanita, sedang yang laki-laki, masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Qabiel berusaha dalam bidang pertanian, sedang Habiel dibidang peternakan.

Penghidupan sehari-hari keluarga Adam dan Hawa berjalan tertib, sempurna diliputi oleh rasa kasih sayang, saling mencintai, menghormati, masing-masing mendudukkan dirinya dalam kedudukan yang wajar, sang ayah terhadap istri dan putra-purtinya, sang istri terhadap suami dan anak-anaknya. Demikian pula pergaulan diantara ke empat bersaudara berlaku harmonis, damai, dan tenang, saling bantu-membantu, hormat-menghormati, dan bergotong royong.

Ke empat anak Adam memasuki masa remaja

Ke empat putra putri Adam mencapai usia remaja dan memasuki masa puber, di mana syahwat mereka makin hari makin nyata dan tampak pada wajah dan sikap mereka, hal mana terjadi pemikiran kedua orang tuanya dengan cara bagaimana menyalurkan syahwatnya itu agar terjaga kemurnian keturunan dan menghindari hubungan bebas diantara putra-putrinya.
Kepada Nabi Adam ‘alaihissalam Allah subhanahu wata’ala memberi ilham dan petunjuk, agar kedua putranya dinikahkan dengan kedua putrinya. Qabiel dinikahkan dengan adik Habiel yang bernama Labuda dan Habiel dengan Adik Qabiel yang bernama Iqlima.

Cara yang telah diilhamkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi Adam ‘alaihissalam disampaikan kepada kedua putranya sebagai putusan sang ayah yang harus dipatuhi dan segera dilaksanakan untuk menjaga kelestarian suasana damai dan tenang yang meliputi keluarga dan rumah tangga mereka. Akan tetapi tiada diduga dan disangka, rencana yang diputuskan itu ditolak mentah-mentah oleh Qabiel dan menyatakan bahwa ia tidak mau menikahi Labuda, adik Habiel dengan mengemukakan alasan bahwa Labuda adalah jelek dan tidak secantik Iqlima. Ia berpendapat bahwa ia lebih patut mempersunting adiknya sendiri Iqlima sebagai istri dan sekali-kali ia tidak rela menyerahkannya untuk dinikahkan dengan Habiel. Dan memang demikianlah kecantikan dan keelokan paras wanita selalu menjadi fitnah dan rebutan pria yang kadang-kadang menjurus kepada pertentangan dan permusuhan yang sampai mengakibatkan hilangnya nyawa dan timbulnya rasa dendam dan dengki diantara sesama keluarga dan sesama suku.

Karena Qabiel tetap keras kepala tidak mau menerima putusan ayahnya dan mengotot minta dinikahkan dengan adik kembarnya sendiri, Iqlima, maka Nabi Adam seraya menghindari penggunaan kekerasan atau paksaan yang dapat menimbulkan perpecahan diantara sesama saudara, serta mengganggu suasan damai, yang meliputi keluarga, beliau secara bijaksana mengusulkan agar menyerahkan masalah perjodohan itu kepada Allah subhanahu wata’ala untuk menentukannya, dengan catatan bahwa barang siapa diantara kedua saudara itu diterima qurbannya ialah yang berhak menentukan pilihan jodohnya.

Qabiel dan Habiel menerima baik jalan kompromi yang ditawarkan oleh ayahnya. Habiel keluar dan kembali membawa seekor kambing yang paling dicintai diantara binatang-binatang peliharannya, sedang Qabiel datang dengan sekarung gandum yang dipilihnya dari hasil panennya yang paling jelek, kemudian ditaruhlah kedua qurban itu, kambingnya Habiel dan gandumnya Qabiel, diatas sebuah bukit, lalu pergilah keduanya menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi atas dua macam qurban itu.

Kemudian dengan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga Nabi Adam ‘alaihissalam yang menantikan dengan hati yang berdebar apa yang akan terjadi diatas bukit dimana kedua barang qurban itu ditaruh, terlihatlah api besar yang turun dari langit menyambar kambing, binatang qurbannya Habiel yang seketika itu musnah termakan oleh api, sedang karung gandum kepunyaan Qabiel tidak tersentuh sedikit pun oleh api dan tetap tinggal utuh.
Maka dengan demikian keluarlah Habiel sebagai pemenang karena diterima qurbannya oleh Allah subhanahu wata’ala sehingga ialah yang mendapat prioritas untuk memilih siapakah diantara kedua gadis, saudaranya itu yang akan dipersunting menjadi istrinya.

Pembunuhan pertama dalam sejarah manusia

Dengan telah jatuhnya putusan dari Allah subhanahu wata’ala yang menerima qurban Habiel dan menolak qurban Qabiel, maka pudarlah harapan Qabiel untuk mempersunting Iqlima. Ia tidak puas denga putusan itu, namun tidak ada jalan untuk menolaknya. Ia menyerah dan menerimanya dengan rasa jengkel dan marah sambil menaruh dendam terhadap Habiel yang akan dibunuhnya pada kesempatan pertama dikala ayahnya tidak berada ditempat.

Ketika Nabi Adam ‘alaihissalam hendak bepergian dan meninggalkan rumah, beliau menitipkan rumah tangga dan keluarganya kepada Qabiel. Ia berpesan kepadanya agar menjaga baik-baik ibu dan saudara-saudaranya selama sang ayah tidak ada di tempat. Ia berpesan pula agar kerukunan keluarga dan ketenangan rumah-tangga terpelihara baik-baik, jangan sampai terjadi hal-hal yang mengeruhkan suasa atau merusak hubungan kekeluargaan yang sudah akrab dan intim.
Qabiel menerima pesan dan amanat ayahnya dengan kesanggupan akan berusaha sekuat tenaga melaksanakan amanat ayahnya dengan sebaik-baiknya dan menjamin bahwa bila ayahnya datang kembali dari bepergiannya akan mendapatkan segala sesuatu dalam keadaan beres, normal dan menyenangkan. Demikianlah kata-kata dan janji yang keluar dari mulut Qabiel, namun dalam hatinya ia berkata ia telah diberi kesempatan untuk melaksanakan niat jahatnya dan melampiaskan dendam dan dengkinya terhadap Habiel, saudaranya.

Tidak lama setelah Nabi Adam ‘alaihissalam meninggalkan keluarganya, datanglah Qabiel menemui Habiel ditempat peternakannya. Berkata ia kepada Habiel : “Aku datang kemari untuk membunuhmu. Saatnya telah tiba untuk aku enyahkan engkau dari atas bumi ini.”
“Apakah salahku?” Tanya Habiel, “dan dengan alasan apakah engkau hendak membunuhku?”
Qabiel berkata: “ialah karena qurbanmu diterima oleh Allah, sedang qurbanku ditolak, yang berarti bahwa engkau akan menikahi adikku Iqlima yang cantik molek itu dan aku harus menikahi adikmu yang jelek dan tidak mempunyai gaya yang menarik itu.”

Habiel berkata: “Adakah berdosa aku, bahwa Allah telah menerima qurbanku dan menolak qurbanmu? Tidak kah engkau telah menyetujui cara penyelesaian yang diusulkan oleh ayah sebagaimana telah kami laksanakan? Janganlah tergesa-gesa, wahai saudaraku, memperturutkan hawa nafsu dan ajakan setan! Kekanglah emosimu fikirlah matang-matang akan akibat dari perbuatanmu kelak! Ketahuilah bahwa Allah hanya menerima qurban dari orang-orang yang bertaqwa yang menyerahkan qurbannya dengan tulus ikhlas dari hati yang suci dan niat yang murni. Adalah mungkin sekali qurban yang engkau serahkan itu, engkau pilihkannya dari gandummu yang telah rusak dan membusuk dan engkau berikannya secara terpaksa bertentangan dengan kehendak hatimu, sehingga ditolaknya oleh Allah subhanahu wata’ala. Berlainan dengan kambing yang aku serahkan sebagai qurban yang sengaja aku pilihkan dari peternakanku yang paling sehat dan paling kucintai, dan kuserahkannya dengan tulus ikhlas disertai permohonan dapat diterimanya oleh Allah subhanahu wata’ala.

Renungkanlah wahai saudaraku, kata-kata ini dan urungkan niat jahatmu yang telah dibisikkan kepadamu oleh Iblis itu, musuh yang telah menyebabkan turunnya ayah dan ibu dari surga dan ketahuilah bahwa jika engkau tetap berkeras kepala hendak membunuhku, tidaklah akan aku angkat tanganku untuk membalasmu, karena aku takut kepada Allah dan tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diridhainya. Aku hanya berserah diri kepada-Nya dan kepada apa yang ditakdirkan bagi diriku.”
Nasehat dan kata-kata mutiara Habiel itu didengar oleh Qabiel, namun masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri dan sekali – kali tidak sampai menyentuh lubuk hatinya yang penuh rasa dengki, dendam dan iri hati, sehingga tidak ada tempat lagi bagi rasa damai, cinta dan kasih sayang kepada saudara sekandungnya.

Qabiel yang dikendalikan oleh Iblis, tidak diberinya kesempatan untuk menoleh kebelakang mempertimbangkan kembali tindakan jahat yang direncanakan terhadap saudaranya, bahkan bila api dendam dan dengki didalam dadanya mulai akan padam, dikipasinya kembali oleh Iblis agar tetap menyala-nyala dan ketika Qabiel bingung tidak tahu bagaimana ia harus membunuh Habiel saudaranya, menjelmalah Iblis dengan seekor burung yang dipukul kepalanya dengan sebuah batu sampai mati. Contoh yang diberikann oleh Iblis itu diterapkannya atas diri Habiel dikala ia sedang tidur dengan nyenyaknya dan jatuhnya Habiel sebagai korban keganasan saudara kandungnya sendiri dan sebagai korban pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Penguburan jenazah Habiel 

Qabiel merasa gelisah dan bingung menghadapi mayat saudaranya. Ia tidak tau apa yang harus diperbuat dengan tubuh saudaranya yang makin lama makin membusuk itu. Diletakkanlah tubuh itu disebuah peti yang dipikulnya seraya mondar-mandir oleh Qabiel dalam keadaan sedih melihat burung-burung sedang beterbangan diatas hendak menyerbu tubuh jenazah Habiel yang membusuk itu.

Kebingungan dan kesedihan Qabiel tidak berlangsung lama, lalu Allah subhanahu wata’ala menolong Qabiel dengan memberi contoh bagaimana ia harus mengubur jenazah saudaranya. Allah subhanahu wata’ala Yang Maha pengasih lagi Maha bijaksana tidak rela melihat mayat hambanya yang saleh dan tak berdosa it terlunta-lunta dan tersia-sia demikian rupa, maka dipertunjukkanlah kepada Qabiel bagaimana seekor burung gagak menggali tanah dengan paruh dan kakinya lalu menyodokkan gagak lain yang sudah mati dalam pertarungan, kedalam lobang yang telah digalinya dan menutupinya kembali dengan tanah. Melihat contoh dan pelajaran yagn diberikan oleh burung gagak itu, termenunglah Qabiel sejenak, lalu berkata pada dirinya sendiri. “alangkah bodohnya aku, tidakkah aku dapat berbuat seperti burung gagak itu dan mengikuti caranya mengubur mayat saudaraku.”

Setelah Nabi Adam kembali pulang dari perjalanan jauhnya. Ia tidak melihat Habiel diantara putra-putrinya yang sedang berkumpul. Bertanyalah ia kepada Qabiel: “Dimana Habiel berada? Aku tidak melihatnya sejak aku datang kembali dari berpergianku.” Qabiel menjawab: “Entah, aku tidak tahu dia kemana! Aku bukan budak Habiel yang harus mengikutinya kemana saja ia pergi.”
Melihat sikap yang angkuh dan jawaban yang kasar dari Qabiel, Adam mendapat kesan bahwa telah terjadi sesuatu atas diri Habiel, putranya yang saleh bertaqwa dan bakti terhadap kedua orang tua itu. Kesan mana pada akhirnya terbukti bahwa betul Habiel telah mati dibunuh Qabiel pada waktu ia tidak berada di tempat. Ia sangat sesalkan perbuatan Qabiel yang ganas dan kejam dimana rasa persaudaraan, ikatan darah dan hubungan keluarga dikesampingkan sekedar untuk memenuhi hawa nafsu dan bisikan iblis yang menyesatkan.

Menghadapi musibah itu, Nabi Adam ‘alaihissalam hanya berpasrah kepada Allah subhanahuwata’ala menerimanya sebagai takdir dan kehendak-Nya seraya memohon dikaruniai kesabaran dan keteguhan iman baginya dan kesadaran bertobat dan beristighfar bagi putranya Qabiel.

Kisah Qabiel dan Habiel dalam Al-qur’an

Al-qur’an mengisahkan cerita kedua putra Nabi Adam ini dalam surah “Al-Maaidah” ayat 27 – 32 sebagai berikut:

۞ وَٱتۡلُ عَلَيۡہِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَىۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانً۬ا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأَخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَ‌ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٢٧) لَٮِٕنۢ بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِى مَآ أَنَا۟ بِبَاسِطٍ۬ يَدِىَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَ‌ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٢٨) إِنِّىٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ بِإِثۡمِى وَإِثۡمِكَ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلنَّارِ‌ۚ وَذَٲلِكَ جَزَٲٓؤُاْ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٢٩) فَطَوَّعَتۡ لَهُ ۥ نَفۡسُهُ ۥ قَتۡلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ ۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ (٣٠) فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابً۬ا يَبۡحَثُ فِى ٱلۡأَرۡضِ لِيُرِيَهُ ۥ كَيۡفَ يُوَٲرِى سَوۡءَةَ أَخِيهِ‌ۚ قَالَ يَـٰوَيۡلَتَىٰٓ أَعَجَزۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِثۡلَ هَـٰذَا ٱلۡغُرَابِ فَأُوَٲرِىَ سَوۡءَةَ أَخِى‌ۖ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّـٰدِمِينَ (٣١) مِنۡ أَجۡلِ ذَٲلِكَ ڪَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ أَنَّهُ ۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَڪَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعً۬ا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَڪَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعً۬ا‌ۚ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَـٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرً۬ا مِّنۡهُم بَعۡدَ ذَٲلِكَ فِى ٱلۡأَرۡضِ لَمُسۡرِفُونَ (٣٢)


Artinya :
27. “ Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam(Habiel dan Qabiel) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima sari salah seorang dari mereka berdua (Habiel) dan tidak diterima dari yang lain. Ia (Qabiel) berkata: “Aku pasti membunuhmu”. Berkata (Habiel): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.
28. Sunggguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam
29. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim.
30. Maka hawa nafsu Qabiel menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.
31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali dibumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabiel) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata (Qabiel): “ Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini! Karena itu jadilah ia seorang diantara orang-orang yang menyesal
32. Oleh karena itu, kami tetapkan (sesuatu hukum) bagi bani israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di atas bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Habiel dan Qabiel

1. Bahwasanya Allah subhanahuwata’ala hanya menerima qurban dari seseorang yang menyerahkannya dengan tulus ikhlas, tidak dicampuri dengan sifat-sifat riya, takabur atau ingin dipuji. Pun barang atau binatang yang diqurbankan harus yang masih baik dan sempurna dan dikeluarkannya dari harta dan penghasilan yang halal. Jika qurban itu berupa binatang sembelihan, harus yang sehat, tidak mengandung penyakit ataupun cacat. Dan jika berupa bahan makanan harus yang masih segar, baik, dan belum membusuk.
2. Bahwasanya penyelesaian jenazah manusia yang terbaik adalah dengan cara penguburan sebagaimana telah diajarkan oleh Allah subhanahuwata’ala kepada Qabiel. Itulah cara yang paling sesuai dengan martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan dan diberi kelebihan oleh Allah subhanahuwata’ala di atas makhluk-makhluk lainnya, menurut firman Allah subhanahuwata’ala dalam surat “al-Isra” ayat 70 yang artinya : “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka didaratan dan dilautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon