Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalam

11:07 PM
Setelah Allah subhanahu wata‘ala menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan, dan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk yang diciptakan untuk beribadah, menjadi perantara antara Dzat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya – maka tibalah kehendak Allah subhanahu wata ’ala . Untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi, memeliharanya, menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam didalamnya dan berkembang biak turun temurun, waris mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalam


Kekhawatiran para malaikat

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah subhanahu wata ‘ala  akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khawatir kalau-kalau kehendak Allah subhanahu wata’ala menciptakan makhluk yang lain itu, dikarenakan keteledoran atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah subhanahu wata’ala : “Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu niscaya akan bertengkar satu dengan yang lain, akan saling bunuh membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam didalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Allah subhanahu wata’ala berfirman, menghilangkan kekhawatiran para malaikat itu: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kamu dihadapan makhluk itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah subhanahu wata ’ala, melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”
Syah dan diciptakanlah Adam oleh Allah subhanahu wata ’ala dari segumpal tanah liat, kering, dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Allah subhanahu wata’ala  kedalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia sempurna.

Iblis membangkang

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah subhanahu wata’ala  seperti para malaikat yang lain, yang segera bersujud dihadapan Adam ‘alaihissalam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah subhanahu wata ‘ala yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh diatasnya serta yang terpendam didalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama dan lebih agung dari Nabi Adam 'alaihissalam, karena ia diciptakan dari unsur api, sedang adam dari tanah dan lumpur. Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain, walaupun diperintahkan oleh Allah subhanahu wata‘ala.
Allah subhanahu wata’ala  bertanya kepada Iblis: “apakah yang mencegahmu bersujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku? Adakah Engkau menganggap dirimu besar dan agung?” Iblis menjawab: “Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau telah ciptakan aku dari api dan menciptakan dia dari lumpur.”

Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah subhanahu wata ’ala mengganjar Iblis dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan congkaknya menerima baik ganjaran Tuhan itu dan ia hanya memohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari Qiamat. Allah subhanahu wata ‘ala meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan. Iblis setelah menerima jaminan Tuhan bahwa ia akan diberi tangguhan hidup sampai hari kebangkitan, tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam, sebagai sebab terusirnya dia dari surga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk membujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan ma’siat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal saleh.

Kemudian Allah subhanahu wata ’ala  berfirman kepada Iblis terkutuk itu: “Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi Jahannam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu, walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”

Pengetahuan Adam ‘alaihissalam tentang nama-nama benda

Allah subhanahu wata’ala berkehendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam ‘alaihissalam dan meyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi., maka diajarkanlah kepada Adam ‘alaihissalam nama-nama benda yang berada di alam semesta, kemudian diperagakanlah benda-benda itu didepan para malaikat, seraya berfirman : “Cobalah sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu, jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam ‘alaihissalam.”
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tantangan Allah subhanahu wata’ala untuk menyebut nama-nama benda yang berada didepan mereka. Mereka mengakui ketidak sanggupan mereka dengan berkata : “Maha  Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali tentang apa yang Tuhan ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.

Adam Menghuni Surga

Adam diberi tempat oleh Allah subhanahu wata’ala di surga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi kebutuhan fitrahnya untuk menurunkan keturunan.
Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala dari salah satu tulang rusuk Nabi Adam ‘alaihissalam yang sebelah kiri diwaktu Ia sedang tidur, sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada disampingnya. Ia ditanya oleh malaikat: “Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang ada disampingmu itu?” “Seorang perempuan,” jawab Adam sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepadanya. “Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?” Tanya lagi sang malaikat. Adam  ‘alaihissalam menjawab: “Untuk mendampingiku, memberi kebahagiaan bagiku dan mengisi kebutuhan hidupku sesuai dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala”.

Allah  subhanahu wata’ala berpesan kepada Nabi Adam ‘alaihissalam: “Tinggalah engkau bersama istrimu di surga, rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya, cicipilah dan makanlah buah-buahan yang lezat yang terdapat didalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nafsumu. Kamu tidak akan mengalami atau merasakan lapar, dahaga atau pun lelah selama kamu berada didalamnya. Akan tetapi Aku ingatkan janganlah  makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang dzalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh istrimu, ia akan berdaya upaya membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari surga sehingga tercabutlah kebahagiaan yang kamu sedang nikmati ini.”

Iblis mulai beraksi

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah subhanahu wata’ala dari surga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam ‘alaihissalam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya, tersingkir dari singgasana kebesarannya, Iblis mulai menunjukan rencana penyesatannya kepada Adam ‘alaihissalam dan Hawa yang sedang hidup berdua di surga tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahwa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasehat dan petunjuk untuk kebaikan dan kelestarian kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapat kepercayaan Adam dan Hawa bahwa ia betul-betul jujur dalam nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuknya kepada mereka. Ia membisikkan kepada mereka bahwa larangan Allah subhanahu wata’ala kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Diulang-ulangilah bujukannya dengan sekali-kali menunjuk akan harum baunya pohon yang dilarang. Indah bentuk buahnya dan lezat rasanya, sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wata’ala mencela perbuatan mereka itu dan berfirman: “Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan makan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahwa syetan itu adalah musuhmu yang nyata.”
Adam dan Hawa mendengar firman Allah subhanahu wata’ala itu, sadarlah mereka bahwa mereka telah melanggar perintah Allah subhanahu wata’ala dan bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa yang besar. Seraya menyesal dan berkatalah mereka: “Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu, karena terkena bujukan Iblis. Ampunilah dosa kami karena niscaya kami akan tergolong dalam golongan orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami.”

Adam dan Hawa diturunkan ke bumi

Allah subhanahu wata’ala menerima tobat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan. Hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingaa terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun beracun itu.
Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah subhanahu wata’ala dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang  telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pelajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu. Harapan akan tinggal terus di surga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah subhanahu wata’ala, hidup kembali dalam pikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di surga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahwa ridha Allah subhanahu wata’ala serta rahmat-Nya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya. 

Akan tetapi Allah subhanahu wata’ala telah menentukan takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka.  Allah subhanahu wata’ala yang telah menentukan dalam takdir-Nya bahwa planet bumi yang penuh dengan tanda kebesaran dan kegagungan Tuhan, penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya, akan dikuasakan kepada manusia, keturunan Adam, memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai bibit pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu. Berfirmanlah Allah subhanahu wata’ala kepada mereka: “Turunlah kamu kebumi, sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kamu dapat tinggal tetap dan hidup disana sampai waktu yang telah ditentukan.”

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di surga yang pernah dialami dan tidak akan berulang kembali. mereka harus menempuh hidup didunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya, berbeda-beda warna kulitnya dan kecerdasan otaknya. Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa, dimana yang satu menjadi musuh bagi yang lain, saling bunuh membunuh, aniaya-menganiaya dan tindas-menindas, sehingga dari waktu ke waktu Allah subhanahu wata’ala mengutus Nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya menuntun hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai, kasih sayang di antara sesama manusia, jalan menuju kepada ridha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Kisah Adam dalam Alquran

Alquran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surat, diantaranya surat Al-baqarah, ayat 30 – 38  dan Surat Al-A’raaf, ayat 11 – 25 sebagai berikut :

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ‌ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ (٣٠) وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسۡمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٣١) قَالُواْ سُبۡحَـٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ (٣٢) قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ‌ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ (٣٣) وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٣٤) وَقُلۡنَا يَـٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٣٥) فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَـٰنُ عَنۡہَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ‌ۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ۬‌ۖ وَلَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ۬ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ۬ (٣٦) فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَـٰتٍ۬ فَتَابَ عَلَيۡهِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ (٣٧) قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡہَا جَمِيعً۬ا‌ۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدً۬ى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡہِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (٣٨)

Artinya:
30: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya  Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.”
31: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda-benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”.
32; mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
33; Allah subhanahu wata’ala berfirman: “ Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama benda-benda ini.” Maka setelah di beritahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”
34. dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” Maka merekapun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.
35. Dan Kami berfirman: “ Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu didalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada disana sesukamu. (tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk golongan orang –orang yang dzalim!”
36. Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan)ketika keduanya disana (surga). Dan Kami berfiman. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.
37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhanny, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha penerima tobat, Maha Penyayang.
38. kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS;Al-Baqarah:30-38)

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَـٰڪُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنَـٰكُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ لَمۡ يَكُن مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِينَ (١١) قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَ‌ۖ قَالَ أَنَا۟ خَيۡرٌ۬ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِى مِن نَّارٍ۬ وَخَلَقۡتَهُ ۥ مِن طِينٍ۬ (١٢) قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيہَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّـٰغِرِينَ (١٣) قَالَ أَنظِرۡنِىٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ (١٤) قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ (١٥) قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِى لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٲطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (١٦) ثُمَّ لَأَتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيہِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَـٰنِہِمۡ وَعَن شَمَآٮِٕلِهِمۡ‌ۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَـٰكِرِينَ (١٧) قَالَ ٱخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُومً۬ا مَّدۡحُورً۬ا‌ۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنۡہُمۡ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمۡ أَجۡمَعِينَ (١٨) وَيَـٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ فَكُلَا مِنۡ حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (١٩) فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّيۡطَـٰنُ لِيُبۡدِىَ لَهُمَا مَا وُ ۥرِىَ عَنۡہُمَا مِن سَوۡءَٲتِهِمَا وَقَالَ مَا نَہَٮٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَـٰلِدِينَ (٢٠) وَقَاسَمَهُمَآ إِنِّى لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّـٰصِحِينَ (٢١) فَدَلَّٮٰهُمَا بِغُرُورٍ۬‌ۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٲتُہُمَا وَطَفِقَا يَخۡصِفَانِ عَلَيۡہِمَا مِن وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ وَنَادَٮٰهُمَا رَبُّہُمَآ أَلَمۡ أَنۡہَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَـٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ۬ (٢٢) قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ (٢٣) قَالَ ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ۬‌ۖ وَلَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ۬ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ۬ (٢٤) قَالَ فِيہَا تَحۡيَوۡنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنۡہَا تُخۡرَجُونَ (٢٥)

Artinya:
11. Sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu kemudian kami katakan kepada para Malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.
12. Allah Berfirman, “ Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (Kepada Adam) diwaktu aku menyuruhmu?” Jawab Iblis: “ Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
13. Allah Berfirman, “ Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri didalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk ornag-orang yang hina.
14. Iblis menjawa, “ Beri tangguhlah saya (jangan dimatikan) sampai waktu yang dibangkitkan.
15. Allah Berfirman; “sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”
16. Iblis  menjawab; “ Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari  jalan-Mu yang lurus
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.
18. Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya  barang siapa diantara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka jahannam dengan kamu semuanya.”
19. Dan Allah berfirman: “ Hai Ada, bertempat tingallah kamu dan istrimu disurga serta makanlah olehmu (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon  ini, lalu menjadikan kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.
20 . Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)
21. Dan dia ( setan) bersumpahlah kepada keduanya, “sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.
22. Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surg. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melaran kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakana kepadamu “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”
23. Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan membari rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
24. Allah berfirman, “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) dimuka bumi sampai waktu yang ditentukan.”
25. Allah berfirman: “Dibumi itu kamu hidup dan dibumi itu kamu mati, dan dari bumi itu pula kamu akan dibangkitkan.”(QS.  Al-A'raaf:11-25).

Bebarapa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Adam ‘alaihissalam :
  1. Bahwasanya  hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah  dan larangan-larangan Allah subhanahu wata’ala dan dalam apa yang diciptakan-Nya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oleh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat, sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala di beritahu bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menciptakan manusia turunan Adam untuk menjadi khalifah di bumi, sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh, rajin beribadah, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.
  2. Bahwasanya manusia walaupun ia telah dikaruniai kecerdasan berfikir dan kekuatan fisik dan mental, ia tetap mempunyai beberapa kelemahan yang melekat pada dirinyam seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana yang telah terjadi pada diri Nabi Adam ‘alaihissalam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikaruniai kedudukan yang istimewa di surga, ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusiawi yang lemah. Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah subhanahu wata’ala kepadanya tentang pohon yang terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperosok ke dalam jala tipu dayanya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah subhanahu wata’ala.
  3. Bahwasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa, tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah subhanahu wata’ala, asalkam ia sadar akan kesalahannya dan bertobat tidak akan melakukannya kembali. Rahmat Allah subhanahu wata’ala dan maghfirah-Nya dapat mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik, bagaimanapun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesadaran bertobat dan pengakuan bersalah.
  4. Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan bagi empunya. Lihatlah Iblis yang turun dari singgasananya, dicabut kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari surga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari kiamat, karena kesombongannya dan kebanggaannya dengan asal usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dan menolak untuk bersujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon