Makam Ahlul Bait di Damaskus Syiria

11:09 PM
Tanah perkuburan Bab As-Saghir di pinggir kota damaskus merupakan salah satu pekuburan yang didalamnya terdapat makam ahlul bait, atau keluarga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejak ratusan tahun lamanya. Salah satu dari makam ahlul bait terkenal disini ialah makam Ummul Mukminin Hafsyah binti Umar bin al-Khathab.
 
Tanah perkuburan Bab As-Saghir di pinggir kota damaskus merupakan salah satu pekuburan yang didalamnya terdapat makam ahlul bait, atau keluarga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejak ratusan tahun lamanya. Salah satu dari makam ahlul bait terkenal disini ialah makam Ummul Mukminin Hafsyah binti Umar bin al-Khathab.

Hafsyah terkenal dengan sambungannya pada pengumpulan dan penyusunan Al-Qur’an untuk pertama kalinya di bawah khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan. Beliau diberi kepercayaan menyimpan Al-Qur’an yang siap terkumpul dirumahnya. Semasa pemerintahan Utsman bin Affan, Al-Qur’an yang disimpan oleh Hafsyah menjadi rujukan para sahabat yang ditugaskan untuk menyalin Al-Qur’an kembali ke dalam bentuk mushaf.

Perkawinan pertama Hafsyah dengan sabahat Nabi, Khumais bin Khuzaifah bin Qais bin ‘Adi as-Sahni al-Quraisyi berakhir dengan gugurnya Khumais di medan Uhud, ketika itu umur Hafsyah baru 18 tahun. Umar bin Khattab berduka cita melihat anaknya yang masih muda itu kehilangan suaminya. Setelah masa ‘iddah Hafsyah habis, Umar berniat mencarikan suami pengganti buat anaknya. Umar bertemu dengan sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan. Lalu menawarkan anaknya untuk dikawini oleh salah seorang di antara mereka. Akan tetapi keduanya tidak memberikan jawaban yang di harapkan. Umar begitu sangat kecewa, lalu menyuarakan perasaannya pada Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah menenangkan hati sahabatnya itu seraya bersabda, “Hafsyah akan menikah dengan laki-laki yang lebih mulia daripada Utsman, sedangkan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih mulia daripada Hafsyah.”

Sabda itu menenangkan hati Umar, karena maksudnya adalah Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam sendiri akan mengawini Hafsyah. Menjadi mertua Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Merupakan kebahagiaan yang tiada bandingannya buat Umar bin al-Khattab.

Perkawinan ini berarti memposisikan Umar setaraf dengan Abu bakar ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan yang bermenantu dan bermertuakan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Hafsyah dikawini Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam pada masa 625 M. ketika Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam. Wafat, Hafsyah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beribadah. Hafsyah meninggal dunia pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Istri baginda Nabi Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam lainnya yang di makamkan di Bab as-Shagir ini adalah Ummu salamah, ummul mukminin berbangsa Quraisy ini dari suku Bani Makhzum. Beliau berasal dari keturunan yang mulia. Ayahnya terkenal di kalangan pemuka Quraisy sebagai orang yang pemurah. Sebagaimana Hafsyah binti Umar al-Khattab, Ummu Salamah juga di timpa nasib yang sama. Suaminya, Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal mati syahid dalam pertempuran di uhud. Sebelum suaminya menghembuskan nafasnya yang terakhir, Ummu salamah berjanji tidak akan kawin lagi. Abdulla sendiri melarangnya berbuat demikian. Bahkan dia sempat berdoa semoga istrinya bisa mendapatkan suami lain yang lebih mulia di bandingkan dirinya. Doa suami yang beriman itu dikabulkan Allah subhanahu wata’ala.

Selesai iddah, Ummu salamah dilamar Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar al-Khattab, namun lamaran mereka tidak di terima. Ketika Nabi Muhammad mengirim pinangan, Ummu salamah memberikan alasan bahwa umurnya sudah cukup tua dan mempunyai beberapa orang anak. Akan tetapi Nabi sendiri tidak keberatan menerimanya. Maka berlangsunglah perkawinan Nabi dengan Ummu salamah pada bulan syawal tahun ke-4 Hijriah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan pendapat Ummu salamah karena sarannya kerap dipakai, seperti yang terjadi pada perjanjian Hudaibiyah. Ummu Salamah bersama Nabi menyaksikan perang Khaibar dan pembukaan kota Makkah (Fathu al- Makkah). Beliau turut serta dalam pengapungan Thaif, penggempuran khawazin dan Tsaqif. Beliau bersama Nabi di Makkah ketika Haji Wada’.

Allah memanjangkan umur Ummu Salamah sehingga sampai 84 tahun. Beliau merupakan istri Nabi yang terakhir meninggal dunia, yaitu sekitar tahun 63 Hijriah. Ummu Salamah di kuburkan bersama madunya, Ummu Habibah. Bersebelahan makan dengan Ummu Salamah, terdapat kubur Ramlah binti Abu Sufyan atau Ummu Habibah, seorang istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ummu Habibah juga anak Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah, seorang pemimpin musyrikkin Makkah yang sangat kuat menentang dakwah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Abu Sufyan memeluk Islam setelah Nabi berhasil menaklukkan kota Makkah pada tahun 8 Hijriah. Ibunya Hindun binti Uthbah, seorang wanita pendendam. Ketika peperangan Uhud, Hindun telah membelah dada dan mengeluarkan hati Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi, lalu dikunyah karena geram kepada Hamzah, yang membunuh bapak dan saudara lelakinya yang tewas dalam perang Badar. Walaupun begitu, anaknya Ummu Habibah, memeluk islam bersama suaminya Ubaidullah bin Yasin, yang berhijrah ke Habsyah bersama sebagian umat Islam ketika itu.

Di Habsyah terjadi sesuatu yang tidak di inginkan oleh Ummu Habibah, Ubaidullah murtad memeluk agama Nasrani sekaligus memutuskan tali perkawinan mereka. Sesungguhnya ketaqwaan Ummu Habibah benar-benar teruji. Setiap takdir ada hikmah yang tersembunyi. Dalam keadaan tidak menentu itulah, datang pinangan dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Raja Habsyah sendiri yaitu Raja Najasyi meminang untuk Rasulullah yang berada di Madinah. Raja Najasyi menyediakan uang 400 dinar sebagai mahar. Hokum itu bisa dijadikan dalil bahwa nikah bisa melalui wakil.

Ummu habibah meninggal dunia pada tahun 44 Hijriah. Kisahnya memberikan pelajaran bahwa ganjaran Allah akan diberikan setelah sabar dan taqwa benar-benar teruji. Sesungguhnya Allah memberikan hidayah buat siapa yang dikehendakinya.

Ditanah pekuburan Bab as-Saghir terdapat tidak kurang dari 10 orang keluarga Nabi, salah satunya adalah Aban bin Utsman bin Affan. Ada yang beranggapan, selain Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang lain adalah Aban bin Utsman bin Affan. Ada sejarawan yang mengatakan bahwa Aban merupakan hasil perkawinan antara Utsman dengan Anak Rasulullah, Ruqayyah. Dikatakan, Utsman menikah dengan dua anak Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum. Karena itu beliau dijuluki Dzun Nur’ain, yang artinya “Yang memiliki dua cahaya( yang menikah dengan dua putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam).

Aban adalah salah satu diantara umat Islam yang turut menyembahyangkan jenazah Ali bin Abi Thalib. Aban mendapatkan didikan agama yang sempurna dari bapaknya, Utsman bin Affan dan mendapatkan jabatan yang sangat tinggi pada masa pemerintahan Bani Umayyah.

Tanah pekuburan Bab as-Saghir Damaskus bukan saja menempatkan makam keluarga Nabi, tapi juga maka, seorang pembantu yang mulia, Fiddah, wanita terhormat. Beliau pembantu pada anak Nabi, Fatimah al-Zahrah. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Sayyidina Ali bukanlah seorang yang kaya dengan harta benda, miliknya yang paling berharga hanyalah Iman dan Islam. Karena ketaqwaan itulah beliau dipilih menjadi menantu oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mahar yang diberikan Ali buat Fatimah hanyalah sebuah baju besi yang dipakainya pada waktu peperangan Badar.

Fatimah adalah wanita biasa, sehari-harinya dihabiskan hanya untuk urusan rumah tangga tak mengenal letih dan lesu. Sayyidina Ali bukannya tidak bernah memperhatikan kesulitan yang dialami oleh istrinya, namun himpitan hidup membuatnya tidak berdaya untuk mendapatkan pembantu rumah tangga. Lalu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menghadiahkan kepada anaknya itu seorang pembantu, ternyata ia amat menggembirakan Fatimah. Walaupun Fiddah seorang pembantu, namun Fatimah melayaninya dengan sangat baik dan tidak bersikap kasar. Pekerjaan dibagikan sama rata diantara mereka berdua.

Suatu ketika cucu Rasulullah, Hasan dan Husein di timpa suatu penyakit yang tak kunjung sembuh. Fiddah kemudian bernazar jika keduanya sembuh. Begitulah cintanya Fiddah pada keluarga Rasulullah. Cintanya dibalas oleh Allah subhanahu wata’ala.

Di Bab as-Saghir, makan sayyidah Fatimah As-Sughrah adalah salah satu makam ahlul bait yang sangat ramai dikunjungi pengunjung. Makam cicit Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ini sering menjadi tumpuan para peziarah, terutama dari Negara iran. Fatimah as-Sughrah, salah seorang anak dari Husein bin Ali bin Abi Thalib. Beliau terkenal sebagai seorang yang taat bertaqwa dan kuat beribadah. Sering menjalankan shalat sunnah di malam hari dan berpuasa di siang harinya.

Fatimah dikawinkan dengan sepupunya, Hasan bin Hasan yang terkenal dengan panggilan al-Hasan al-Mutsanna. Fatimah dan suaminya turut dalam peristiwa karbala. Beliau bersama keluarganya dalam perjalanan menuju Kuffah irak dan diserang oleh 4000 tentara yang lengkap bersenjata.

Husein bin Ali di tarik ke Kuffah oleh penduduk disana untuk ditawarkan khalifah menggantikan Muawiyah bin Abi Sufyan yang telah meninggal dunia. Tuhan menakdirkan Husein dan sahabatnya meninggal di karbala.

Fatimah bukan hanya di timpa kesedihan akibat ayahnya meniggal dunia, bahkan suaminya turut mati syahid dalam tragedy 10 Muharram tahun 61 hijrah itu. Hidupnya bersama Hasan al-Mutsanna melahirkan 4 orang anak. Menurut riwayat Fatimah kemudian menikah lagi dengan Abdullah bin Amru bin Utsman dan melahirkan dua orang anak.

Fatimah binti Husein meninggal dunia pada tahun 110 Hijriah. Fatimah dianggap sebagai perawi hadits. Beliau telah meriwayatkan beberapa hadits dari pada neneknya, Fatimah al-Zahrah, bapaknya Husein dan bibinya Zaenab. Beliau juga meriwayatkan hadits dari Bilal bin Rabah, Abdullah bin Abbas, Asma bin Umayiz, dan Aisyah Ummul mukminin. Akidahnya kokoh, peranginya mulia, taqwa dan sabarnya tahan uji. Sesungguhnya keluarga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah keluarga yang di rahmati Allah subhanahu wata’ala.

Allah berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘And. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” ( QS. At-Taubah : 72).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon