Menghalau Gosip ( Ghibah), Membentengi Diri dengan Iman

11:03 PM

Lidah tidak bertulang. Itulah ungkapan yang nampaknya paling mewakili dalam mengupas persoalan gossip. Dalam islam, perihal gossip dimasukkan dalam kategori ghibah. Karena bergosip, ngerumpi, dalam prakteknya sama dengan berghibah. Yakni, sama-sama membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan. Dan umumnya pembicaraan itu menyangkut aib atau keburukan objek yang dibicarakan.

Berkata-kata adalah hal yang paling mudah dilakukan setiap manusia. Bila yang terluncur adalah kata-kata manis tentu kebaikan dan manfaat bagi dirinyalah yang akan diterimanya. Sebaliknya, jika kta-kata kotor dan akan melukai orang lain, tentu kata-kata itu dengan mudah akan menyeretnya ke dalam lubang persoalan yang pada akhirnya malah menjerumuskannya.
 
Lidah tidak bertulang. Itulah ungkapan yang nampaknya paling mewakili dalam mengupas persoalan gossip. Dalam islam, perihal gossip dimasukkan dalam kategori ghibah. Karena bergosip, ngerumpi, dalam prakteknya sama dengan berghibah. Yakni, sama-sama membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan. Dan umumnya pembicaraan itu menyangkut aib atau keburukan objek yang dibicarakan.
 
Secara bahasa ghibah adalah mengatakan sesuatu yang benar tentang seseorang di belakang dia, tetapi hal itu tidak disukai oleh orang yang dibicarakan. Ibnu katsir mengatakan dalam tafsir surah Al-Hujurat bahwa ghibah dilarang berdasarkan kesepakatan( ijma’) dan secara umum tidak ada pengecualian tentang ini kecuali pada situasi yang mendesak untuk membicarakan seseorang.
 
Dalam redaksi Hadits yang diriwayatkan Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ahmad mengatakan bahwa “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakannya itu benar ada padana?” Rasulullah menjawab: “Kalau memang benar ada padanya. Itu ghibah namanya. Jika tidak, berarti engkau berbuat dusta.”
 
Para ulama sepakat bahwa ghibah adalah sebuah perkara penting yang harus disoroti. Karena ghibah termasuk ke dalam dosa besar dan si pelaku dosa ghibah harus bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 12: “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu lah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha penyayang.”
Alasan umum berghibah
 
Pada umumnya, seseorang termotivasi untuk berghibah bila ia sedang marah dan kesal pada orang yang ‘kebetulan’ membuatnya kesal. Karena ia merasa telah dirugikan, maka ia menumpahkan beban di dadanya dengan cara bercerita kepada temannya tentang hal itu. Sebagaimana firmat Allah subhanahu wata’ala:
 
Namun ada Kaul walaupun tidak dijelaskan dalil dan pendapat yang mengemukakannya yang membolehkan ‘bergosip’ dengan alasan ‘untuk melepaskan beban dari dadanya’. Karena dengan cara demikian, sedikitnya ia bisa melepaskan api amarah dalam dadanya.
Selain itu, alasan umum yang dilakukan si pegosip adalah untuk berusaha mengangkat status diri dengan cara menjatuhkan orang lain. Dalam hal ini bisa saja seseorang berkata; “Si Anu itu bego, dungu….,” dan sebaginya. Dengan ini, ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dan lebih pandai.
 
Namun yang paling menunjukkan yang kini dekat dengan keseharian kita adalah dengan bergosip, seolah kita mampu membuat orang lain bahagia dan tertawa. Dan terkadang kita tidak menganggap bahwa gossip itu adalah dosa. Parahnya, bahkan sebagian orang mencari nafkah dengan cara bergosip, sebagaimana maraknya tayangan infotainment-infotainment seputar gossip kehidupan artis,
Dalam buku gossip, Fitnah & Taubat an-Nasuha disebutkan bahwa hal ini bahkan pernah terjadi di zaman al-Ghazali dan bahkan lebih buruk lagi di zaman sekarang dengan begitu banyak tayangan-tayangan gossip di televisi. Sebuah gaya hidup yang bahkan tidak bisa ditinggalkan banyak orang.
 
Kendati alasan-alasan diatas sangat umum dilakukan, ada juga hal-hal kecil yang sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita, bahkan kita sering melakukannya. Misalnya karena kita sering merasa cemburu dan iri hati. Sebagai contoh, ketika ada seseorang yang dipuji-puji dalam suatu pertemuan dan ia disukai oleh banyak orang, bisa jadi secara kebetulan ada orang lain yang iri hati mendengarnya. Orang yang iri hati ini kemudian menghina orang tersebut sedemikian rupa, sehingga orang itu kehilangan status yang ia sandang sebelumnya.
Semestinya, orang yang iri hati itu ingat bahwa oleh karena iri hati dan penghinaannya, orang yang menjadi korban kecemburuannya itu akan berada diatasnya, tidak hanya didunia tetapi juga di akhirat.
 
Beberapa pengecualian dibolehkannya ghibah 
Kendati membicarakan orang lain dilarang bahkan termasuk ke dalam perbuatan dosa besar, namun ada beberapa alasan dimana seseorang boleh membicarakan orang lain, yakni diantaranya adalah orang yang dianiaya.
 
Oleh karena ia di dzalimi, maka ia boleh menceritakan keburukan orang yang mendzaliminya dalam rangka menuntut haknya, sebagaimana yang tertera dalam surat an-Nisa ayat 148: “Allah tidak mencintai orang yang suka menceritakan keburukan orang lain kecuali bagi orang yang teraniaya.
 
Ayat Al-Qur’an tersebut diperkuat lagi oleh hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah! Aku punya tetangga yang menggangguku.” Rasulullah berkata, “Pergi dan taruhlah barang-barang milikmu di jalan.”kemudian orang itu pergi dan menaruh barang-barang miliknya dijalanan. Orang-orang berkumpul dan bertanya, “Ada apa denganmu?” Ia berkata, “Aku punya tetangga yang menggangguku; aku menceritakannya kepada nabi dan beliau menyuruhku untuk pergi dan menaruh barang-barang milikku dijalanan.” Mereka mulai berkata, “Ya Allah kutuklah dia! Ya Allah hinakanlah dia!” (Tetangga itu) mendengar tentang ini, maka ia datang kepada orang itu dan mengatakan kepadanya, “Pergilah kembali ke rumahmu; demi Allah, aku tidak akan mengganggumu lagi.”
 
Alasan lain dibolehkannya seseorang membicarakan keburukan orang lain adalah jika dalam pembicaraan itu bertujuan membari nasehat pada kaum muslim tentang agama dan dunia mereka. Karena nasehat, sebagaimana hadits Rasulullah shalallu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’I, Ad-Darimi, dan Ahmad, adalah ini ajaran agama.
 
Jadi, memberikan nasehat itu wajib dalam rangka memelihara kemaslahatan agama, baik yang bersifat khusus maupun umum, seperti menceritakan sifat tercela para perawi yang cacat. Dengan mengetahui beberapa celah dibolehkannya berghibah, bukan berarti kita bisa melakukannya dengan leluasa. Hal-hal yang disebutkan itu sebenarnya merupakan pengecualian pada kasus-kasus tertentu dan dalam kesempatan-kesempatan yang mendesak.
 
Namun kita harus berhati-hati bahwa bisikan setan dan hawa nafsu yang menjerumuskan akan senantiasa menghembusi jiwa seseorang. Sehingga, tatkala ia sedang ‘bergosip’ dengan alasan yang dibolehkan, malah ia akan menyalahgunakannya. Bahkan, tanpa terasa dia menjadikan alasan itu sebagai alasan dibolehkannya gossip, padahal perbuata itu pada awalnya tidak diperbolehkan syara’. Pada akhirnya ia malah terus menerus bergosip.
 
Selaraskan antara hati ucapan dan perbuatan. 
Setiap amal yang dilakukan harus dilaksanakan sesuai dengan syariat. Meski pada awalnya bermaksud baik, namun tidak memperhatikan hal lainnya, maka tidak cukup menyelamatkan seseorang dari kemurkaan Allah. Karena, kaum musyrik dan kaum kafir mengklaim bahwa mereka memiliki maksud yang baik, tetapi Allah subhanahu wata’ala memberikan status yang jelas bagi mereka di dalam Al-Qur’an: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”(Az-Zumar:3)
 
Mereka mungkin memiliki niat yang mulia yaitu untuk menjadi lebih dekat dengan Allah subhanahu wata’ala tetapi tidak menghindarkan mereka dari kecaman Rasulullah dan para sahabatnya. Mengerjakan amal yang baik untuk kebaikan-kebaikan seseorang atau masyarakat, tidak dapat dicapai dengan bergunjing tentang seseorang atau menyebarkan gossip tentang masalah-masalah pribadi mereka.
 
Dalam hal ini, langkah yang paling aman kita lakukan adalah meluruskan dan menyelaraskan antara hati, ucapan dan tindakan. Karena setiap orang yang beriman yang berfikir dengan hati nuraninya, akan mengakui bahwa tidak aka nada manfaatnya bagi kaum muslim menggosipkan seseorang apalagi berusaha membuka kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya. Wallahu ‘alam bi al shawab.


Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon