Merenungkan Mati, Mendapatkan Bekal Kehidupan Akhirat

12:25 PM
sholat, jenazah, Merenungkan Mati, Mendapatkan Bekal Kehidupan Akhirat
Kematian adalah sebuah keniscayaan. Ia telah ditetapkan sejak manusia masih dalam kandungan. Ia pasti datang menjemput setiap makhluk yang bernyawa. Maka adalah ironi bila kita meragukan apalagi mengingkarinya.

Bila Anda ditanya, yakinkah Anda datangnya kematian? Anda tentu menjawab “ya”. Namun apa jawaban Anda bila pertanyaan itu dirubah menjadi siapkah Anda menghadapi kematian? Mungkin kebanyakan kita akan menjawab “tidak!”

Berbicara kematian, rasa-rasanya tak seorang pun siap menghadapinya. Pasalnya, kehidupan manusia di era mutakhir sekarang ini lebih mementingkan unsur-unsur duniawi ketimbang unsur-unsur ukhrawi, yang merupakan modal dasar menghadapi mati. Manusia sekarang lebih berlomba mengumpulkan harta, daripada amal kebajikan. Semua orang memang tahu bahwa kematian itu pasti terjadi. Hanya saja, masih sedikit orang yang benar-benar mau menyadari. Kebanyakan justru berusaha menghindarinya. Buntutnya, mereka menjadi pengecut yang selalu merasa takut akan resiko yang timbul dari sebuah tindakan. Atau, tidak sedikit orang yang berusaha membebaskan alam fikirnya dari bayangan maut.

Akibatnya, jalan hidup yang mereka tempuh jauh dari nilai-nilai ukhrawi, yang notabene sekali lagi modal dasar menghadapi kematian. Karena itu adalah wajar bila jalan hidup yang mereka tempuh semakin menjauhkan mereka untuk menyiapkan amal kebajikan dalam rangka menyongsong kematian. Sehingga, ketika kematian itu datang, mereka belum mempunyai persiapan apapun. Saat itulah mereka akan menyadari bahwa jalan hidup yang ia tempuh adalah keliru. Disanalah mereka menyadari bahwa usaha menghindari kematian itu sia-sia belaka.

Dalam kamus kehidupan manusia, kematian itu ibarat air. Suka ataupun tidak, setiap manusia pasti akan meminumnya. Atau, kematian itu laksana udara. Senang ataupun tidak, setiap manusia pasti akan menghirupnya, sehingga Hasan al-Bashri, seorang sufi terkemuka pernah berkata, “Aku tak pernah mendapat keyakinan yang kukuh seperti keyakinanku pada kematian.”

Kini, kematian sedang dalam perjalanan menghampiri kita. Ia tidak pernah memperlambat langkah-langkahnya, tidak pula mempercepatnya. Ia pasti datang tepat pada waktunya. Ia akan membawa manusia dari kehidupan dunia melalui sebuah prosesi bernama sakaratul Maut.
Apakah sakaratul maut itu? Ia adalah saat-saat manusia merasakan sakit yang luar biasa ketika nyawanya tercerabut dari jasad. Sakaratul maut merupakan saat-saat dimana manusia menerima balasan dari amalan yang dilakukannya.

Jika manusia gemar melakukan kebajikan, maka ia mendapat khusnul khatimah (akhir yang baik) dan tempatnya adalah surga. Namun sebaliknya, bila ia suka melakukan keburukan, maka ia mendapat su’ul khatimah ( akhir yang buruk) dan tempatnya adalah neraka.

Andai manusia merenungkan saat-saat sakaratul maut ini, niscaya ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia akan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, sehingga ketika nyawa itu melayang, dari bibirnya akan tersungging senyum kebahagiaan, dari matanya akan mengalir air mata keharuan.
Sungguh, detik-detik sakaratul maut merupakan saat yang paling mengerikan. Demikian hebatnya fenomena sakaratul maut, sehingga nabi Isa ‘alaihissalam pernah berkata kepada malaikat pencabut nyawa, “jika engkau bisa memalingkan kematian, maka palingkanlah ia dariku.”

Terkait denga fenomena sakaratul maut, Ibnu Abbas, mufassir ternama dari kalangan sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, menjelaskan, “Penderitaann terakhir yang dijumpai seorang mukmin adalah sakaratul maut.” Ungkapan ini secara implicit menegaskan bahwa bila mukmin saja menderita saat sakaratul maut, maka bagaimana halnya dengan umat-umat yang lain?

Kiranya, dalam rangka memuluskan sakaratul maut, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa mengingat atau merenungkan mati cukup membuat hati manusia bergetar. Sehingga, perasaan itu pada tahap-tahap berikutnya akan mendorong anggota tubuhnya untuk menunaikan kebajikan.

Memang, tidak semua hati akan bergetar. Tidak semua anggota tubuh akan tergerak. Hanya hati yang berhias takwa sajalah yang mampu merasakannya. Sementara hati yang keras dan membatu tidak akan mampu menangkap makna dari renungan kematian.

Kematian memang menakutkan. Ibarat penyakit, ia epidemi yang belum ada penawarnya. Ia mengancam siapa saja yang ceroboh dalam mengarungi alur hidupnya. Walau begitu, setidaknya anjuran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dapat menjadi sandaran manusia dalam menghadapi kematian. “cukuplah kematian itu sebagai nasihat.” ( HR Thabrani dan Baihaqi).

Anjuran Nabi tersebut menekankan agar manusia menjadikan mati sebagai sebuah penasihat, dan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ini artinya, dengan mengingat mati manusia akan mendapat banyak nasihat dan pelajaran.

Nasihat pelajaran yang paling berharga adalah bangkitnya kesadaran untuk mempersiapkan bekal kehidupan akhirat. Hal itu bisa ditempuh dengan meningkatkan amal kebajikan yang ditopang dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.

Dengan demikian, mengingat kematian dengan tujuan untuk memudahkan diri mempersiapkan bekal menghadapi kematian adalah perkara yang penting dilakukan setiap umat manusia. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 61 : “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon