Penyebab dan Cara Mencegah Serta Mengendalikan Marah

1:41 AM
Sebagai manusia, kiranya wajar kita bersikap marah. Banyak cara yang dilakukan orang untuk meledakkan kemarahannya. Menghancurkan barang-barang yang ada disekelilingnya, menyakiti diri sendiri, berbicara dengan nada tinggi, dan ada pula yang menyalurkannya dengan memejamkan mata alias tidur. Selain contoh-contoh tersebut, tentu masih banyak lagi ekspresi lainnya untuk melampiaskan kemarahan.
 
 Penyebab dan Cara Mencegah Serta Mengendalikan Marah
Sejujurnya, marah bukanlah perilaku yang dilarang agama. Artinya, orang marah sangatlah lumrah. Marah merupakan ungkapan bahasa hati dan tanggapan seseorang terhadap suatu hal yang tidak disenanginya. Meski demikian, seseorang tidak boleh mengumbar kemarahannya begitu saja.
 
Marah adalah nyala api yang berasal dari neraka yang dinyalakan sampai ke hati. Sehingg sifat marah berada dilipatan hati, seperti halnya bara api yang tersembunyi didalam abu. Allah subhanahu wata’ala menciptakan tabiat marah dari api dan menjadikannya insting pada manusia. Jika manusia dihalang-halangi tujuannya atau karena salah satu sebab, maka kemarahannya akan menyala dan berkobar. Selanjutnya kobaran menjadi darah hati mendidih dan tersebar ke urat-urat serta naik ke tubuh paling tinggi. Tak salah jika seseorang sedang marah permukaan kulitnya, lebih-lebih wajahnya menjadi merah, matanya menjadi nanar dan berkaca-kaca.
 
Marah tidak bisa di hilangkan sama sekali dari jiwa manusia, tapi dapat dilemahkan atau dikuasai dengan kebiasaan dan latihan. Misal, menekannya jika kemarahan itu berkobar dan tidak menuruti kemarahan yang diwujudkan dengan tindakan maupun secara lisan. Oleh sebab itu, kesabaran dan zuhun terhadap dunia sangat membantu untuk melatih diri dalam bersabar, disamping kita mengingat dan menyebut asma Allah subhanahu wata’ala.
 
Dalam pandangan penulis, penebab utama berkobarnya kemarahan pada diri seseorang diantaranya adalah karena kesombongan, senda gurau yang berlebihan, bermain-main yang melampaui batas, menertawakan orang lain, bertengkar, melanggar janji, rakus terhadap harta dan kehidupan. Cara agar dapat mengekang kemarahan, maka sebaiknya kita mematikan kesombongan dengan tawadhu (sikap rendah hati) atau bisa juga dengan mengenal dan mengoreksi diri secara istiqamah.
 
Senda gurau yang berlebihan dapat ditinggalkan dengan cara menyibukkan diri dalam urusan yang lebih penting, misalnya menekuni ilmu agama. Menertawakan orang lain dapat dicegah dengan berusaha untuk menyenangi orang lain dan tidak menyakitinya serta menjaga diri agar tidak ditertawakan mereka. Kerakusan terhadap harta dan kehidupan bisa dicegah dengan cara merasa cukup dari apa yang kita perlukan.
 
Apabila kemarahan akan berkobar atau sudah terlanjur berkobar, maka sepatutnya dikendalikan dengan ilmu dan amal yang mampu kita lakukan. Salah satunya dengan merenungkan hadits-hadits tentang keutamaan menahan marah dan belajar memaafkan orang. Dari abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

"Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang kuat adalah yang bisa menahan dirinya ketika marah." (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
 
Jika kemarahan masih belum reda, sebaiknya kita segera mengambil air wudhu dan membasahi kepala dengan air. Akan lebih afdhol (utama) lagi kalau kita mandi dan dilanjutkan dengan shalat. Sebab kemarahan adalah api dan api bisa padam jika disiram dengan air.
Rasulullah alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api, sementara api bisa dipadamkan oleh air. Karena itu, jika salah seorang di antara kalian sedang marah, hendaklah dia berwudhu." (HR Abu Dawud).
 
Sebagai catatan penutup, penulis sekedar mengingatkan, bagaimanapun marah yang kita luapkan jelas dan pasti pada akhirnya akan menyisakan penyesalan. Mudah-mudahan kita bukan termasuk golongan orang-orang yang mudah melampiaskan marah. Untuk mencapai harapan tersebut, senantiasa kita meminta perlindungan Allah subhanahu wata’ala dari godaan setan yang terkutuk. Amin. (sumber; Lukmah H, hidayah:oktober 2004)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon