Cukuplah Allah dan Saat Berjanji Wajib Ucap "Insya Allah"

11:01 PM
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta temannya agar memberinya utang sebesar 1000 dinar. Temannya itu bersedia memberikan pinjaman dengan syarat didatangkan saksi untuk menyaksikan transaksi utang piutang tersebut.
 
Cukuplah Allah dan Saat Berjanji Wajib Ucap "Insya Allah"
Namun si pengutang menjawab. “Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!” orang yang mengutangi kemudian meminta didatangkan seorang penjamin untuk menjamin utang tersebut, tetapi si pengutang kembali berkata. “Cukuplah Allah yang menjaminku!”
 
Orang yang mengutangi tersebut akhirnya membenarkan apa yang dikatakan si pengutang. Terjadilah transaksi itu dan si pengutang berjanji akan membayar utangnya sesuai waktu yang mereka sepakati.
Beberapa waktu telah berlalu, si pengutang mengadakan perjalanan dengan kapal layar karena ada suatu keperluan di pulau lain. Cukup lama orang itu berada di pulau lain hingga tanpa terasa jatuh tempo waktu pembayaran utangnya hampir tiba. Ia pun bergegas menuju dermaga untuk kembali ke tempat asalnya, karena ia telah berjanji akan membayar utangnya. Namun sayang, tidak ada satu kapalpun yang dapat mengantarkannya.
 
Hari jatuh tempo pembayaran utangnya telah tiba, namun ia tetap tidak bisa menemukan kapal yang bisa membawanya. Akhirnya, ia mengambil sepotong kayu dan melubangi kayu tersebut, kemudian memasukkan uang 1000 dinar kedalamnya serta sebuah surat yang ditujukan kepada orang yang telah memberinya utang. Tidak lama kemudian kayu berisi uang dan surat itu dihanyutkannya ke laut. Sebelum melemparkannya, ia berkata, “ Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada temanku 1000 dinar. Ia memintaku untuk mendatangkan seorang penjamin, maka aku katakan cukuplah Engkau sebagai penjaminku, dan ia pun menyetujuinya. Ia juga meminta kepadaku menghadirkan saksi, dan ia pun bersedia. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mencari kapal agar bisa kembali untuk membayar utangku, tetapi aku tidak menemukan sebuah kapalpun. Oleh karena itu, aku titipkan uang ini kepada-Mu.” Kayu itupun dilemparkannya ke laut.
 
Orang yang pernah memberikan utang dulu ternyata juga pergi ke dermaga untuk menunggu kapal temannya yang akan membayar utang. Namun sayang, kapal yang diharapkan tak kunjung tiba. Pada saat menuggu itulah, ia melihat sebuah kayu mengapung di pantai. Ia pun mengambil kayu itu untuk dijadikan kayu bakar. Karena kapal yang dinantinya tetap tidak kunjung datang, ia pun memutuskan pulang sambil membawa kayu bakar itu.
 
Sesampainya dirumah, kayu tersebut dibelahnya dengan kapak. Ia sungguh terkejut ketika menemukan kantong uang dan sepucuk surat dalam kayu itu. Betapa bahagianya ia mengetahui bahwa uang dan surat tersebut berasal dari temannya yang dulu meminjam uang kepadanya.
 
Beberapa waktu berlalu sejak peristiwa itu. Si pengutang sudah mendapatkan kapal untuk pulang. Suatu hari, ia mengunjungi temannya dengan maksud hendak membayar utangnya. Ketika bertemu dengan temannya, ia berkata, “Demi Allah, aku terus berusaha bisa pulang untuk membayar utangku kepadamu, tetapi tidak ada satu kapalpun yang bisa aku tumpangi. Baru sekarang ada kapal yang bisa membawaku kesini!”
 
Orang yang mengutanginya berkata, “Bukankah engkau telah mengirimkan uang yang engkau pinjam menggunakan sepotong kayu.” Orang itu kemudian menjelaskan, “ Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu.
 
Iman kepada Allah subhanahu wata’ala merupakan pondasi dasar keimanan seseorang. Di utusnya para Nabi dan Rasul tidak lain tugas utamanya adalah untuk mengajarkan tauhid kepada manusia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
 
“ Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, ‘ Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku. Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’”(QS Al-Anbiya:25)
 
Ketika seseorang telah mengikrarkan diri bahwa tidak ada ilah selain Allah, maka ia berlepas diri dari selain-Nya dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah subhanahu wata’ala.
“ Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” ( QS Al-An’am:162)
 
Konsekuensi dari keimanan adalah ketaatan dan kepatuhan dalam menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi larangan-Nya. Salah satu tanda orang yang beriman adalah menjaga janji dan amanah yang diembankan kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala.,
“… dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra’:34)
 
Jika seseorang telah berjanji, maka harus ditunaikan janji yang telah terucapkan karena berdasarkan ayat di atas, semua janji akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, apabila seseorang berjanji, maka harus diikuti dengan ucapan “Insya Allah”. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Alqur’an:
 
“ Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (QS Al-Kahfi:23-24)
 
 Dalam sebuah riwayat, berapa orang Quraisy mendatangi Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, untuk menanyakan tentang Roh, kisah ashhabul kahfi ( penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian meminta mereka untuk datang keesokan harinya agar beliau bisa menjelaskan tentang permasalahan tersebut, Rasulullah yakin bahwa besok akan datang wahyu yang menjelaskan perkara tersebut. Akan tetapi, ketika keesokan harinya beberapa orang Quraisy mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, untuk meminta jawaban atas pertanyaan mereka karena wahyu belum turun. Maka turunlah surat Al-Kahfi ayat 23-24 diatas sebagai pelajaran kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar selalu mengucapkan insya Allah ketika berjanji.
 
Pada zaman sekarang, banyak orang-orang yang suka berjanji, terutama mereka yang berusaha memperoleh jabatan tertentu. Akan tetapi, setelah mereka memperoleh jabatan yang diinginkan, mereka lupa atau dengan sengaja melupakan janjinya. Hal ini merupakan salah satu ciri-ciri orang munafik, yaitu apabila berjanji mereka berdusta. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya dia berkhianat.”
 
Dan tempat bagi orang munafik adalah tingkatan neraka yang paling bawah dalam hal ini Allah subhanahu wata’ala berfirman:
 
“sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS An-Nisa:145)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon