Sakit itu Musibah atau Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala

9:32 PM
 
Sakit Merupakan Nikmat dan Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala
Kita semua tentu pernah mengalami sakit entah demam, pusing atau penyakit lain yang cukup berat, yang menyebabkan kita terpaksa beristirahat di rumah atau di rumah sakit.
 
Pada umumnya, orang memandang sakit atau penyakit yang dideritanya sebagai musibah semata. Pandangan itu tentu tidak ada salahnya, paling tidak karena tiga hal: pertama, orang yang sakit merasa tersiksa dengan penyakitnya; kedua, orang yang sakit harus mengeluarkan uang yang terkadang tidak sedikit jumlahnya untuk mengobati penyakitnya; ketiga, orang yang sakit tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga ia tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya.
 
Dengan alasan-alasan seperti yang diutarakan di atas, sakit memang menjadi musibah yang nyata bagi setiap orang. Akan tetapi, jika kita bijak dan pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian, maka dalam sakit pun sebenarnya terdapat nikmat atau rahmat Allah subhanahu wata’ala yang harus kita syukuri.
 
Orang yang sakit pada dasarnya sedang disayang oleh Tuhannya. Mengapa demikian? Allah subhanahu wata’ala memberi kita penyakit, biasanya karena kita melampaui batas dalam hal-hal tertentu, entah karena kita terlalu sibuk bekerja sehingga kurang istirahat, atau juga karena kita terlalu banyak memakan makanan tertentu yang tidak bisa diterima oleh organ pencernaan kita.
 
Tubuh kita sebenarnya diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala lengkap dengan mekanisme control yang otomatis. Misalnya, jika kita terlalu banyak bekerja, maka kita akan kelelahan. Jika kita terlambat makan, maka kita akan merasa lapar. Dalam keadaan-keadaan seperti itu, organ-organ dalam tubuh kita akan secara otomatis memberikan sinyal kepada kita, tanpa perlu kita ingatkan.
Jika sinyal-sinyal ini tidak kita hiraukan, maka kita akan menderita sakit. Disitulah Allah subhanahu wata’ala menyapa kita, mengingatkan kita untuk hidup teratur menurut kadar kemampuan tubuh kita. Jika kita tidak sakit, mungkin kita akan terus terjebak pada kebiasaan yang salah, sehingga kadar kerusakan yang diderita organ tubuh kita akan sangat parah nantinya.
 
Orang yang sakit sebenarnya diajak untuk berhenti sejenak dari rutinitas kesehariannya. Ia harus istirahat untuk menjadwal kembali pola hidupnya baik pola makan maupun pola kerja agar lebih tertata lagi. Selain itu, orang yang harus istirahat karena sakit, juga memiliki kesempatan yang jauh lebih banyak untuk merenungkan kembali jalan hidup yang telah dilaluinya, dibandingkan jika ia masih berjibaku dengan segala kesibukannya. Pada dataran ini, orang yang sakit sebenarnya diberikan jarak dari rutinitas yang setiap hari dilakoninya, sehingga ia memiliki obyektifitas yang lebih baik dalam memandang dirinya.
 
Pada dataran ini, orang-orang yang sakit bisa memanfaatkan masa sakitnya untuk bermuhasabah, menakar diri dan bercermin, bukan saja atas makanan dan pekerjaannya semata, tetapi juga atas hubungan sosialnya dengan sesama manusia dan hubungan pribadinya dengan Tuhannya. Oleh karena itu, jangan heran jika kita banyak menemukan orang sakit yang tampak lebih saleh dan lebih santun dibandingkan jika ia sehat. Orang-orang seperti itu bukan hanya mendapatkan masa istirahat yang cukup bagi kesembuhan fisiknya, tetapi juga bisa mengambil hikmah dari sakitnya dengan mengenal lebih dalam kebesaran Tuhannya. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon