Ustadz Pun Harus Belajar Ikhlas Dalam Berdakwah

9:34 PM
Pernah kita mendengar pendapat sebagian orang dalam mengkritisi seorang ustadz. Terutama yang sudah populer di layar kaca. Para ustad itu layaknya seorang artis dengan bayaran yang tinggi. Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini , wajar-wajar saja karena mengingat program televisi juga didanai oleh sponsor dalam menayangkannya. Akan tetapi bagaimana jika seorang ustadz ini berdakwah di tengah masyarakat diluar media televisi, Seenaknya memasang tarif yang tinggi diluar sewajarnya? bukankah kita diperintahkan untuk berdakwah tanpa mengharap imbalan apapun ? Berikut pemaparannya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi agar amal ibadah kita di terima oleh Allah subhana hu wata’ala. Yaitu pertama niat ikhlas karena Allah. Kedua, beramal harus sesuai dengan ketentuan syariat. Ikhlas adalah pokok ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan kunci deterimanya sebuah amal di sisi Allah subhanahu wata’ala. ( Ibnu Taimiyah, Majmu fatawa 10/49)

Ikhlas memiliki makna memurnikan seluruh niat amal kebajikan dan aktivitas yang akan, sedang, dan telah kita kerjakan, semata hanya karena Allah subhanahu wata ‘ala. Seseorang yang ikhlas karena amalnya harus berani memerdekakan dirinya dari segala harapan selain kepada allah subhanahu wata’ala. Ia hanya menjadi hamba Allah yang menciptakannya. Orang yang ikhlas harus pula berani membebaskan dirinya dari segala bentuk intervensi apapun yang bisa memperkeruh kemurnian amalnya. Orang yang ikhlas akan terus beraktivitas dalam kebaikan, baik dipuji atau di cela. Karena dia hanya mengharapkan balasan dari Allah. Untuk mencapai tahap itu, perlu latihan untuk mencapai puncak keihklasan.

Pernah kita mendengar pendapat sebagian orang dalam mengkritisi seorang ustadz. Terutama yang sudah populer di layar kaca. Para ustad itu layaknya seorang artis dengan bayaran yang tinggi. Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini , wajar-wajar saja karena mengingat program televisi juga didanai oleh sponsor dalam menayangkannya. Akan tetapi bagaimana jika seorang ustadz ini berdakwah di tengah masyarakat diluar media televisi, Seenaknya memasang tarif yang tinggi diluar sewajarnya? bukankah kita diperintahkan untuk berdakwah tanpa mengharap imbalan apapun ? Berikut pemaparannya.



Perjuangan Berat Seorang Ustadz Ikhlas dalam Berdakwah

Ada sebuah kisah dari seorang ustadz di solo. Ia bercerita suatu saat di undang untuk menghadiri ceramah agama di suatu tempat yang cukup jauh dari kediamannya. Karena yang menelepon adalah orang yang sudah dikenal dan minta untuk segera, maka tak banyak pikir ia pun naik taksi. Setelah menyampaikan dakwahnya, sang Ustadz pun pulang dengan naik taksi.

Ketika taksi sudah sampai tujuan, ia pun berniat untuk membayar ongkos taksi dengan membuka amplop yang di berikan oleh panitia. Ketika melihat isi amplop, ia pun merasa kebingungan bercampur sedih. Sebab isi amplop sangat tidak cukup untuk membayar taksi pulang pergi. Hatinya merasa hancur dan ingin sekali menangis, kalau saja tidak malu kepada sopir taksi. Untung di dompetnya masih ada uang yang cukup untuk membayar taksi.

Ketika saya Tanya, “ Kenapa Ustadz begitu sedih dan ingin menangis? Apa karena isi amplopnya yang sedikit?” Ia menjawab “Sungguh aku menangis bukan karena isi amplop, tetapi aku sedih karena ternyara ikhlas itu butuh perjuangan jauh lebih berat daripada perjuangan dakwah itu sendiri.”

Tidak dipungkiri, ustadz atau mubaligh adalah profesi yang sangat luhur. Karena itu setan tidak pernah membiarkan mereka terbebas dari berbagai macam penyakit hati, seperti riya, ujub, bahkan kesombongan. Kualitas keikhlasan pun terkadang bisa naik turun tergantung tebal tipisnya amplop yang di terima, atau tergantung penghargaan orang kepada kita. Maka pantas jika Allah mengingatkan kita agar selalu ikhlas dalam semua amal karena setan tidak akan mampu menipu orang-orang yang ikhlas. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya :

“Iblis menjawab : ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Mu yang mukhlis di antara mereka. “ (QS: Shad:82-83)

Kiat Menjaga Keikhlasan Dalam Beramal

Diantara kiat kita dalam menjaga keikhlasan dalam beramal adalah menanyakan pada diri kita, mengapa kita mengerjakan hal tersebut, apa tujuannya? Yang kedua adalah menyiapkan hati menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, baik ketika mendapatkan respon positif maupun yang negative. Yang ketiga, jangan memberi celah kepada nafsu kita dengan mengharapkan sesuatu dari apa yang kita lakukan. Jika kita tidak mampu menetralisir godaan setan dari diri kita, maka hati-hatilah dari tersia-sianya amal kita. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” ( QS: Al-Furqaan:23)

Belajar ikhlas dalam berdakwah tanpa mengharap Imbalan

Sudah menjadi kewajiban seorang Ustadz atau muballigh untuk menyampaikan cahaya kebenaran islam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan [nya]?" (QS Hud:51).

Ia harus ikhlas dan professional dalam menunaikannya. Karena dengan keikhlasan itulah, kebenaran dakwah akan mampu menerobos dinding-dinding kegelapan dengan mudah. Disisi lain, telah menjadi kewajiban pihak panitia atau pengundang sesuai kemampuan yang ada untuk memberikan pelayanan terbaik. Karena para Ustadz bukanlah tamu biasa. Mereka adalah tamu yang akan menunjukkan jalan kebaikan. Bukankah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita sebagai orang beriman untuk menghormati tamu?

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya :

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Karena itu penghormatan dan pelayanan kita kepada mereka, jangan sampai kalah dengan pelayanan kepada para artis. Dengan demikian, dengan izin Allah, kita pun dapat membantu menjaga keikhlasan sang ustadz. Wallahu a’lam bish-shawab.


sumber foto : flickr dengan lisensi comercial allowed



Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon