Ust.Muhammad Utsman Anshori : Ternyata Islam Lebih Rasional dari Agama Yang Dianut Ayahku

9:57 PM
“bagaimana mungkin aku harus menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemaslahatan apa-apa bagiku? Patung adalah patung . ia hanya bongkahan batu yang dipahat sedemikian rupa hingga menjadi berbagai bentuk. Setelah jadi pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap membisu. Mana mungkin hasil pahatan manusia bisa menjelma menjadi Tuhan melebihi pembuatnya sendiri?’’



Demikianlah kira-kira pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Liem Hai Thai ketika mendapati ketidak-logisan agama yang dianutnya sebelum menyatakan masuk Islam. Ia menangkap bahwa apa yang selama ini diagung-agungkan ayahnya tidak lebih dari benda-benda padat lainnya yang tetap diam seribu bahasa. Dia tak akan bergerak manakala tidak ada yang menggerakkan, dan akan rusak manakala tertimpa sebuah benda atau benturan lain. Betapa benda tak bernyawa tersebut sangat naïf untuk disembah-sembah. Kepada Herry Munhanif dari Majalah Hidayah, ia menuturkan perjalanan rohaninya menemukan islam berikut ini:


Pengalaman menarik


Aku dilahirkan di Dumai Riau pada tanggal 17 Januari 1979. Aku merupakan anak ke-7 dari 10 bersaudara. Nama pemberian orang tua ku Liem Hai Thai. Bagi keturunan Tionghoa, Liem adalah marga tertinggi. Semua anggota keluargaku semula menganut agama Buddha, namun perkembangan selanjutnya beragam agama tumbuh di lingkungan keluargaku. Kini, lima dari sepuluh diantaranya telah memeluk islam, termasuk aku empat Buddha dan satu katolik.


Dulunya aku juga penganut Buddha, mengikuti jejak orang tuaku. Karena itu, sejak kecil aku dikondisikan dan dididik di lingkungan Buddha. Ayahku, Liem Guan Ho, seorang biksu Buddha. Sedang ibuku, Lai Hua adalah sosok yang bisa mengerti anak-anaknya. Tak mengherankan, jika sejak lahir nilai-nilai Buddha telah ditanamkan dalam keluargaku. Hal ini bisa dilihat dari pernik-pernik sesembahan, hio dan dupa yang menghiasi rumahku.


Didalam rumahku terdapat tiga patung yang menjadi sesembahan. Dan semua anggota keluarga diharuskan bersembahyang di hadapannya minimal sehari sekali dan dilakukan menjelang petang( sebelum Maghrib). Ketiga patung yang dianggap Tuhan adalah Taupekong ( Tuhan yang terbesar), Caushekong (Tuhan yang sedang), dan Kuantekong ( Tuhan yang terkecil). Cara penyembahannya dimulai dari yang terbesar, sedang, baru kemudian yang terkecil. Anehnya, kewajiban sembahyang ini bisa dilakukan jika didalam rumah terdapat patung. Jika tidak ada, maka tak ada keharusan bersembahyang.


Dengan mencermati hal itu, tentu orang bisa menyimpulkan bahwa nuansa Buddha memang kental dalam lingkungan keluargaku. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, orang tuaku sebenarnya bersikap lebih toleran dan tidak kaku. Mereka tak mempersoalkan bagaimana anak-anaknya bergaul dan bersosialisasi denga lingkungan sekolah maupun masyarakat. Mereka juga tidak membatasi ruang komunikasi dengan siapapun. Semua anaknya pun dibebaskan memeluk agama apa saja sesuai dengan keyakinannya asalkan bukan agama Islam.


“silakan memeluk agama apa saja, tapi jangan sekali-kali agama Islam.” Begitu peringatan yang ditegaskan ayahku. Jika ini terjadi, maka jangan salahkan ancaman fisik dan deraan mental menerpa. Ini pernah dialami kakakku nomor dua, Liem Hai Seng (Muh abdul Nasir). Kenapa tidak diperbolehkan menganut agama islam? Aku tidak tahu pasti alasannya. Dalam hatiku memang tertanam kebiasaan Buddha, namun itu taklid semata pada orang tua. Esensi ajaran Buddha, belum bisa aku tangkap. Barang kali karena umurku yang masih belia dan belum tahu apa yang semestinya.






Justru pengekangan inilah membuatku lebih penasaran. Aku merasa termotivasi untuk mencari jawabannya. Aku semakin tertantang untuk mengetahui dan mempelajari Islam. Ada apa dengan Islam. Kok sampai orang tua ku melarang keras pada anak-anaknya sementara selain agama itu boleh-boleh saja.


Oleh karenanya, ketika disekolahku, SDN 014 Dumai Riau, ada mata pelajaran agama Islam, aku coba menyimak penjelasan dari guruku. Aku ingin tahu, Islam itu seperti apa. Padahal aku diberikan dispensasi untuk tidak mengikuti mata pelajaran agama Islam karena aku beragama Buddha. Bahkan dianjurkan untuk belajar di Vihara atau Klenteng biar nilai agama Buddha ku bagus.


Suatu ketika, guruku pernah bilang. “Bagi yang tidak beragama Islam boleh keluar ruangan.” Kebetulan satu kelas, ada empat siswa keturunan Tionghoa beragama non-muslim, aku tetap tinggal di kelas. “Bu, saya amu mendengarkan. Saya mau membandingkan pelajaran yang saya terima di Vihara dengan pelajaran di sekolah,” begitu jawabku waktu itu.


Aku juga masih ingat, tatkala Ibu Saniati menceritakan kisah Ibrahim yang berlainan keyakina dengan Azar, ayahnya. Nantinya, begitu aku masuk Islam dan telah menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Roudhotul Muhsinin pada tahun 1999-2001, baru aku tahu, ternyata kisah itu diceritakan dalam surat Al-An’am. Setelah masuk Islam, aku jadi berfikir, Nabi Ibrahim dilahirkan bukan dari keluarga Islam, kenapa isa bisa mendapatkan hidayah?


Cerita yang dipaparkan Ibu Saniati itu persis yang di alami keluargaku. Bedanya, Azar adalah pembuat berhala, sementara ayahku adalah penyembah berhala. Inilah yang cukup berkesan dihatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap menyimak agama Islam. Bermula dari situ, aku mulai mengerti bahwa Islam mengajarkan konsep Ketuhanan Yang Esa, Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wata’ala. Hanya Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Dan kepada-Nya kita memohon pertolongan, bukan kepada yang lain.


Berbeda dengan Buddha yang memerintahkan para pemeluknya untuk menyembah patung sambil memegangi Hio. Ritual seperti inilah yang mengganjal pikiranku. Kenapa manusia harus menggantungkan dan memuja-muja patung meski tak bernyawa sekalipun. Bukankah manusia lebih unggul daripada patung? Bagiku penyembahan terhadap patung sungguh tak bisa dinalar. Lha wong kepda patung, kok kita mengharapkan keselamatan hidup dan kedamaian dunia.


Perjalanan mencari kebenaran


Sebelum menjadi muallaf, aku melakukan pencarian panjang, belajar agama dari satu orang ke orang yang lain. Mulanya, kau menggeluti agama Buddha melalui tradisi Buddha yang dicontohkan orang tuaku, seperti sembahyang menjelang Maghrib. Sayangnya, tetap tak kudapatkan sesuatu yang bisa menentramkan hatiku. Bahkan lama-kelamaan kejemuan dan tak bersemangat yang kurasakan. Belajar di Vihara, justru membuatku bingung karena bukan ajaran isi kandungan kitab Tripitaka yang diajarkan, tetapi malah sejarah sang Buddha (sidharta Gautama). Oleh karena itu, secara berkala aku mengabaikan pelajaran-pelajarannya. Hinga aku hanya bertahan 12 pertemuan (sekitar 3 bulan).


Keraguan demi keraguan membuatku melalaikan tradisi-tradisi Buddha. Aku mulai berani meninggalkan sembahyang. Bila orang tua ku menanyakan kenapa tidak sembahyang, maka segudang alasan aku utarakan. Aku mulai tidak percaya pada Tuhan yang disimbolkan dalam ketiga patung dalam rumahku. Mustahil, patung-patung itu bisa mendengar keluh-kesah ku apalagi memberikan pemecahan atas persoalan yang menderaku.


Sebaliknya, aku mulai rajin mengikuti pelajaran agama Islam di bangku SD. Dari sinilah, awal perkenalanku dengan Islam. Saat itu memang belum ada keinginan masuk Islam. Terbatas baru sekedar simpati. Yang mengherankan, setiap kali ada acara-acara keislaman, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Muharram dan lainnya, aku selalu menghadirinya. Aku senang mendengarkan ceramah Islam yang disampaikan oleh para Muballigh di masjid walaupun itu aku dengar dari luar. Maklumlah, banyak temanku yang berkomentar sinis terhadapku. Menurut mereka aku masih najis, jadi tidak boleh masuk masjid dan kalau masuk masjid mesti Islam dulu.


Aktivitas “mencuri-curi” ilmu tersebut, tentu aku lakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab kalau ayahku tahu, sudah pasti kemarahan, caci-maki, tamparan aku terima.selain itu jika kakakku silaturahim ke rumah juga sering menceritakan azab kubur, hari kiamat, serta kisah para Rasul. Bagaimana azab kubur itu ditimpakan kepada manusia, bagaimana keadaan manusia nanti tatkala hari kiamat itu datang dan bagaimana pula perjuangan para Rasul dalam menyampaikan dakwah kepada umatnya. Hingga tidak jarang, kami terlibat obrolan-obrolan kecil sambil mengingatkan kembali pelajaran yang ku dapat di sekolahan.


Meski simpati, aku belum berani terang-terangan menyatakan keislamanku, karena masih takut menghadapi reaksi ayah dan kerabat keluarga. Akan tetapi rasa ingin tahuku tak pernah berhenti. Terus berlanjut sampai masuk sekolah lanjutan di SMP YLPI Mutiara Riau Duri, seiring dengan bergulirnya waktu, keinginan mendalam untuk masuk Islam mulai kurasakan. Namun Aku masih menunggu waktu. Ada satu jawaban yang belum ku peroleh jawabannya tatkala aku membaca sebuah ayat yang tertera dalam muqaddimah buku tuntunan shalat, yang kebetulan dibawa kakakku. Ayat itu artinya: “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran[3]:85).


Usai membaca ayat ini, selama lima hari aku berpikir. Lantas kutanyakan pada kakakku, “Bang… apakah benar ayat ini firman Tuhan?”


“Benar.ayat ini merupakan firman Allah yang tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya.”


“kalau demikian, agama yang saya anut tidak diterima disisi Allah?”


“Iya”


Diskusi-diskusi ringan dengan kakakku itu dan pelajaran agama dari sekolahan makin memperteguh keyakinanku untuk masuk Islam. Lalu setelah menimang-nimang dengan matang, kukatakan bahwa aku benar-benar siap masuk islam. Rasanya kebenaran telah aku dapatkan di agama ini. Niatku ini lantas diikuti saudaraku Liem Cien Cien dan Liem Hai Shon.


Sebenarnya Ibu berat melepaskan anak-anaknya, terlebih pindah ke agama Islam. Tapi ibu tak mau membaut kami kecewa. Akhirnya ia merelakan sembari berpesan:”Kalau sudah masuk Islam, tolong jangan lupakan ibu! Masuk Islam-lah secara total! Jangan setengah-setengah !


Menyadari bakal ada tekanan dan ancaman dari ayah yang sedari awal paling anti terhadap Islam, maka proses pengislamanku berada diluar. Bukan di Dumai tempat kami tinggal. Tanpa sepengetahuan ayahku, kami betiga hijrah ke Duri ikut sang kakak. Seminggu sebelum masuk islam, kami bertiga di Khitan lebih dulu. Tepat pada tanggal 21 Juli 1994 ba’da Isya’, secara resmi aku dan kedua saudara ku mengucapkan dua kalimah syahadat. Ikrar itu diucapkan dihadapan H.Arwan, Ketua BAKORISMA ( Badan Koordinasi Remaja Islam Mandau) dan beberapa tokoh masyarakat sekitar dengan disaksikan ribuan jamaah di Masjid Raya Pasar Duri Riau. Sejak saat itu namaku berganti Muhammad Utsman Anshori.


Ternyara hijrahku menjadi muslim kemudian diketahui ayah. Beliau begitu terkejut dan amat kecewa atas kepindahanku ke agama Islam. Aku dianggapnya sebagai anak yang tak tahu di untung, tak tahu bakti dan balas budi. Larangan yang sejak awal ditegaskan, justru aku langgar. Setelah aku memeluk Islam, hubunganku dengan ayah semakin renggang. Ayah tetap tak terima. Serta merta, ayahku berupaya memaksa agar kembali ke agamaku semula. Tantangan bukan saja datang dari ayahku, namun juga cemoohan, kebencian dan rasa permusuhan yang dibangun oleh saudara dari ayahku (paman dan bibi). Baru tiga bulan masuk Islam kau dipanggil bibiku kerumahnya dan ia menawarkan uang Rp. 3 juta. Tentu, uang sebesar itu merupakan jumlah yang besar. Tujuannya adala mengiming-imingi agar aku meninggalkan Islam. Aku tak goyah. Keyakinanku sudah mantap.


Pergulatanku masuk Islam telah aku jalani selama 7 tahun. Dari SD sampai SMP. Dan aku telah mantap, memasuki dan siap melakuka kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah menjadi keyakinanku, aku tak mau pindah begitu saja. Sama juga bohong, jika kembali lagi ke agama semula. “Jangankan uang 3 juta. Andaikan rumah ini dijadikan emas lalu di berikan kepada saya agar saya meninggalkan Islam, maka demi Allah saya tidak akan keluar dari Islam,” Kataku. Jawabanku membungkam bibiku.


Aku sadar, resiko lebih besar bakal aku terima jika tetap bertahan didalam rumah. Maka kuputuskan untuk tidak kembali ke rumah. Semula ikut kakak, tapi Alhamdulillah, ada yang berbaik hati menerimaku. Mereka Adalah Bapak HM.Ali Muhsin, BA dan Ibu Hj. Nurbaiti. Keduanya menampungku di tengah kegalauanku. Bahkan mereka menyemangati agar aku meneruskan pendidikan agama ke jenjang lebih tinggi. Selepas lulus SMP YLPI Mutiara Duri Riau tahun 1995, aku melanjutkan Ke MAN sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Dar el Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang Banten. Aku ingin belajar sungguh-sungguh. Persoalannya bukan karena tidak ingin mengecewakan orang tua asuhku, tapi semata-mata ingin mendalami Islam lebih serius.


Tujuh tahun setelah masuk Islam, aku mampu menghafal Al-Qur’an dalam tempo 20 bulan di pesantren Roudhotul Muhsinin Bululawang Malang Jatim pada tahun 1999-2001. Banyak teman heran, kenapa seorang muallaf dalam waktu relative singkat dapat menyelesaikan hafalan Al-qur’an genap 30 Juz.


Dorongan untuk menekuni islam tidak berhenti sampai disitu. Aku merasa ilmu yang aku ketahui barulah sejengkal. Aku baru mencapai satu titik didepan yang mesti aku tapaki kemudian aku memberanikan diri untuk mengikuti pendidikan kader Muballigh KODI ( Koordinasi Dakwah Islam) Tanah Abang Jakarta Pusat tahun 2001-2002. Dari tempat inilah, setidaknya pengetahuan dakwahku kian terasah.


Beberapa tahun melanglang buana dalam pencarian ilmu membuatku semakin dewasa. Aku harus mengamalkan ilmu yang kudapat. Keinginanku kedepan, berjuang mengibarkan panji Islam sembari mengabdi di pesantren Duri Riau bersama Bapak KH. Ali Muhsin, BA. Beliaulah yang berjasa besar membimbingku untuk menekuni Islam secara utuh.


Kini sikap ayahku tidak sekaku dulu. Sudah mulai lunak. Ia bisa menerima keberadaanku. Tak lagi mencerca dan menampakkan wajah garangnya didepan anak-anaknya yang muslim, tapi sebaliknya meperlihatkan rasa kasih sayang. Dan yang tak boleh ku lupakan, harapanku semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan hidayah-Nya kepada kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku yang belum muslim. Dakwah Nabi mulai dari keluarga dekat dulu, itulah yang menjadi peganganku.




sumber: disarikan dari majalah hidayah. edisi oktober 2004

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon