Kenapa Kita Tunda-tunda Panggilan-Nya?

11:37 PM
Muslimharian.com - Seruan Allah dengan keras memanggil kita. Lima kali seruan itu dikumandangkan di masjid-masjid. Karena seringnya orang mendengar suara itu, tidak jarang diantara mereka mengabaikannya. Bahkan ada sebagian yang merasa terganggu dengan panggilan itu. Tidak jarang mereka mengeluh kecewa, seakan mereka mendapatkan kritik dari atasannya. Mereka tidak lagi nyaman ketika seruan Allah mendayu-dayu memanggilnya. Seruan itu bukan lagi dianggap sebagai pengingat, tetapi sebagai penghambat.

Begitulah, sikap kebanyakan manusia ketika mendengar adzan. Seruan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya untuk tidak melupakan urusan akhirat. Seruan agar mereka tidak merugi. “hayya ‘alash sholah’, mari mendirikan shalat. Shalat yang membawa ketenagan jiwa dan keberkahan hidup. Hayya ‘alal falah, meri mencari kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki yang abadi kelak disurga. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “wahai bilal, dirikanlah (adzan) shalat, agar kita tenang menjalankannya. (HR. Abu Dawud).
Adzan dan shalat merupakan dua sejoli yang tidak mungkin dipisahkan dari seorang muslim. Walaupun adzan diperintahkan setelah perintah shalat, namun adzan telah menjadi salah satu syiar agama Islam. Adzan juga merupakan salah satu kebesaran Allah subhanahu wata’ala dan tanda bahwa Islam adalah agama yang diridhai-Nya. Dijelaskan bahwa kumandang adzan akan selalu mengudara dalam waktu 24 jam, tanpa henti diseluruh penjuru bumi, secara bergantian para muadzin terus menerus mengumandangkan kebesaran Allah, kalimat syahadat, menyeru shalat, dan kebahagiaan.
Tanda kebesaran Allah ini, insya Allah akan berlangsung hingga akhir zaman. Diawali ketika adzan subuh dibagian timur Indonesia dan sebelum berakhir adzan isya di benua Amerika, adzan subuh kembali berestafet dimulai dari bagian timur Indonesia. Masya Allah, begitu luar biasa panggilan Allah kepada seluruh manusia. Selama 24 jam tanpa henti.
Pertanyaannya adalah lalu kenapa manusia masih banyak yang enggan memenuhi seruan Allah yang luar biasa itu? Bahkan, walaupun sudah menjadi tetangga masjid pun, tidak pernah shalat berjamaah ke masjid. Tidakkah kita malu dengan kisah Abdullah bin Ummi Maktum? Dia adalah seorang sahabat nabi yang tua dan buta.
Suatu hari, Abdullah bin Ummi Maktum menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melaporkan keadaanya yang buta dan tidak adanya orang yang menuntunnya untuk shalat berjamaah di masjid. Padahal, rumahnya dengan masjid lumayan jauh. Untuk itulah, ia meminta keringanan agar diizinkan tidak shalat berjamaah di masjid. Mendengar penuturan itu, Rasulullah pun mengizinkannya. Namun, ketika Abdullah berpaling, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seraya bersabda, yang artinya: “ Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat?” Dia menjawab, “Ya”. Maka beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “kalau begitu, penuhilah!” (HR. Abu Dawud)
Dua hadist diatas sangat jelas menyebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan izin untuk orang yang buta tersebut meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Alasannya sederhana, karena ia masih mendengar panggilan adzan.
Untuk itu,ketika kita mendengar adzan, itu artinya kita diperintahkan untuk segera mempersiapkan diri memenuhi panggilan-Nya. Sambutlah dengan penuh cinta. Jangan sekali-kali ditunda-tunda. Karena setan pasti akan menggoda kita untuk menunda-nunda. Sambutlah dengan penuh kehangatan dan sepenuh hati, tapi tidak perlu tergesa-gesa.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “ Apabila kamu mendengar iqamah, maka pergilah kamu ke tempat shalat dan kamu harus belaku tenang dan bersikap sopan, janganlah kamu tergesa-gesa. Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah. (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).
Hasan al-Bana rahimahullah berpesan, “segera pergilah untuk shalat ketika anda mendengar panggilan adzan, dalam kondisi apapun!”
Jangan pernah kita menundanya, karena itu adalah awal kita meremehkannya dan itu adalah pintu untuk meninggalkannya.










Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon