Bagaimana Allah Memberikan Rezeki Kepada Makhluk-Nya

3:31 PM Add Comment
Bagaimana Allah Memberikan Rezeki Kepada Makhluk-Nya
 

Apa Itu Rezeki?

هُوَ كُلُّ مَا تَنْتَفِعُ بِهِ مِمَّا اَبَاحَهُ اللهُ لَكَ سَوَاءٌ كَانَ مَلْبُوْسٌ اَوْ مَطْعُوْمٌ … حَتَّى الزَّوْجَة رِزْق، الاَوْلاَدُ وَ البَنَاتُ رِزْقٌ وَ الصِّحَةُ وَ السَّمْعُ وَ العَقْلُ …الخ

“Segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu, baik berupa pakaian, makanan, sampai pada istri (pasangan). Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau anak peremupuan termasuk rezeki. Termasuk pula padanya kesehatan, pendengaran dan penglihatan.”

Rezeki berarti penghidupan,, segala sesuatu yang bermanfaat, segala hal yang berdaya guna bagi makhluk. Rezeki Allah SWT berarti penghidupan atau tiap-tiap yang berguna bagi kehidupan makhluk, semuanya berasal dari Allah swt. Rezeki juga berarti anugrah, karunia atau pemberian dari sisi Allah SWT bagi seluruh makhluk-Nya.

Jangan Khawatirkan Rezekimu!


Seringkali kita merasakan sempitnya jalan mendapatkan rezeki dan lebih banyak hanya menunggu dibandingkan berikhtiar maksimal, tetapi kita lupa bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki bagi kita dan banyak cara Allah memberikan rezeki tersebut kepada makhluk-Nya. Janganlah khawatirkan, karena rezeki kita sudah Allah jamin untuk semua makhluk yang hidup di muka bumi ini. .

Sebagaimana firman Allah SWT:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْء سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَا
 
Artinya: “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”. (Ar-Rum : 40

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT telah menghidupkan manusia, dengan jaminan memberi rezeki untuk penghidupannya, mematikan dan menghidupkan mereka kembali.
 
Juga dalam Firman-Nya:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ


"Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu di muka bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupa bagimu. Tetapi amat sedikit sekali kamu bersyukur." (Al-A’raf: 10)
 
Lalu mengapa kita khawatir dengan rezeki yang bukan menjadi hak kita? Rezeki adalah hak prerogatif Allah. Dia akan memberikannya kepada mereka yang pantas untuk diberi dan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah sudah menuliskan jatah kita dan itulah yang akan kita terima.. Di samping itu pula kita wajib mensyukuri nikmat yang Allah berikan sebagai pengakuan atas kelemahan sebagai makhluk ciptaan_Nya dan atas Maha Pengasih dan Maha Dermawan Allah terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi.

Simak pula uraian indah berikut dari Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah:

"Fokuskanlah fikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Janganlah menyibukkan dengan rizki yang sudah dijamin untukmu. Karena rizki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin Allah. Selama masih ada ajal, rizki pasti datang. Jika Allah dengan hikmahNya berkehendak menutup salah satu jalan rizkimu, Dia pasti dengan rahmatNya membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu." (Al-Fawaid, hal 57)

Dari uraian indah di atas, janganlah terlalu memfokuskan diri hanya untuk mencari rezeki, tetapi lupa berserah diri kepada Allah. Karena rezeki itu di tangan Allah. Kita akan diberi sesuai jatah dan kebutuhan, bukan sesuai dengan keinginan kita. Allah Maha Tahu apa yang kita inginkan tapi juga Maha Mengerti apa yang kita butuhkan.

Cara-Cara Allah Memberikan Rezeki Kepada Makhluk-Nya 

Dalam Al-Qur'an diterangkan, ada empat cara Allah SWT memberi rezeki kepada makhluk-Nya:

1. Rezeki yang dijamin oleh Allah

“Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semua dijamin oleh Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Artinya Allah memberikan jaminan rezeki kepada seluruh makhluk hidup yang bernyawa di dunia ini tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Ini merupakan janji Allah SWT berikan kepada makhluk yang diciptakan-Nya.

2. Rezeki yang didapat sesuai dengan apa yang diusahakan

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Allah akan memberikan rezeki sebanding dengan apa yang telah dikerjakannya. Allah tidak pandang apakah ia muslim atau kafir. Jika ia bekerja lebih lama, lebih giat, lebih berilmu, maka ia akan mendapat rezeki lebih banyak dari yang lainnya.

Ketahuilah, menjemput rezeki adalah kewajiban setiap mahluk, maka kerja keras yang kita jalani adalah cara untuk menggapai rezeki tersebut.

3.Rezeki lebih bagi orang-orang yang pandai bersyukur


“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu, tapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Orang-orang yang pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadany, maka ia akan dapat merasakan kasih sayang Allah dan mendapat rezeki yang lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukur adalah mereka yang dapat hidup bahagia, damai, dan sejahtera. karena Allah tambahkan selalu rezeki untuknya di dunia dan barang siapa yang kufur maka ia akan mendapatkan azab Allah di dunia dan akhirat

4. Rezeki yang tidak disangka-sangksa

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan baarang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS At Thalaq: 2-3)

Rezeki istimewa ini diberikan Allah khusus bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Tidak semua orang bisa meraih rezeki istimewa tersebut. Allah SWT janji memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka di saat seorang hamba sangat membutuhkan. Rezeki ini hanya diberikan kepada hamba yang bertakwa sebagai rasa cinta Allah kepadanya. Tidak hanya rezeki yang Allah SWT berikan, tetapi juga jalan keluar dari setiap kesusahan yang sedang dialaminya.

Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa meningkatkan iman dan ketaqwaan kita agar Allah SWT senantiasa menolong kita dan menyelamatkan kita dari azab-Nya yang amat pedih.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembacanya khususnya bagi penulis. Dengan berharap, semoga hidayah dan taufiq senantiasa menyertai kita semua. Aamiin

Waallau A’lamu

Dikutip dari berbagai sumber

Apa Hukumnya Meminum Air Mani Pasangan Kita Dalam Islam

2:58 PM Add Comment
 
Apa Hukumnya Meminum Air Mani Pasangan Kita Dalam Islam
 
Islam adalah agama yang memberikan rahmat bagi manusia dan seluruh alam semesta. Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk yang diciptakan dengan berbagai potensi dan tujuan yang sangat mulia, yaitu sesuai dengan hakikat penciptaan manusia itu sendiri. Tujuan penciptaan manusia salah satunya adalah untuk menjadi khalifah. Pengatur dan juga pemimpin alam semesta. Oleh karenanya dibuatlah aturan-aturan yang menuntun manusia untuk mencapai hakikat dan tujuan tersebut. Al Quran diturunkan bagi umat manusia berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman untuk mencapai hal tersebut.

Perubahan zaman telah membuat banyak berubah dalam sendi kehidupan, hal baru dan menuntut banyak keputusan hukum. Salah satunya adalah perihal hubungan suami istri yang juga semakin berubah. Termasuk salah satunya adalah perilaku menelan sperma atau air mani yang kemungkinan juga dipraktikkan oleh sebagian dari umat Islam.

Di era yang sangat maju dalam segala hal seperti saat ini, sangatlah penting untuk kembali belajar tentang hal-hal yang mungkin kita sudah lupa, atau bahkan kita belum mengetahuinya karena kesibukan sehingga kita tidak punya waktu untuk mengingat dan mempelajarinya.

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan dalam hal ini adalah berkenaan dengan bagaimanakah hukum menelan sperma tersebut? Apakah dia dibolehkan atau diharamkan?

Mengenai menelan sperma maka ada pendapat yang menyatakan bahwa hal ini menyehatkan bagi wanita. Karena sperma mengandung zat-zat penting dan nutrisi bagi kesehatan tubuh. Akan tetapi belum ada penelitian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan yang menyatakan demikian. Dengan melihat dari beberapa sudut pandang kita akan mencoba untuk melakukan analisis terhadap perilaku tersebut. Setidaknya kita bisa melihat dari sudut pandang berikut:

Sperma dalam agama Islam tidak terhitung Najis. Beberapa hadist menjelaskan hal tersebut diantaranya:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ اَلْمَنِيَّ, ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى اَلصَّلَاةِ فِي ذَلِكَ اَلثَّوْبِ, وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ اَلْغُسْلِ فِيهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Diriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mencuci baju yang terkena mani, lalu beliau keluar melaksanakan sholat dengan mengenakan baju tersebut dan aku melihat bekas cucian itu.” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Dari riwayat Muslim disebutkan dengan lafazd, “Aku pernah menggosok mani tersebut dari kain Rasulullah SAW lalu beliau memakainya untuk sholat.”

Dalam riwayat lain Muslim mencantumkan,”Aku pernah mengerik dengan kukuku mani yang sudah kering dari kain beliau.”

Terdapat riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa mani tidak wajib dicuci dari pakai secara mutlak, baik basah maupun kering, tetapi untuk menghilangkannya cukup dengan sehelai kain, rumput idzkir, dan semisalnya berupa kayu dan rumput. Hadis ini dijadikan argumen oleh sebagian ulama bahwa mani itu suci.

As-Syaukani berkata, bernilai ibadah dalam menghilangkannya baik dengan cara mencuci, menggosok, mengusap, mengupas, memotong maupun mengeriknya. Ini juga bukan berarti bahwa mani tersebut najis, hanya saja diperintahkan untuk , menghilangkannya dengan cara yang syari’

Dari hadist ini ulama fiqih mengatakan sepakat bahwa sperma itu tidak najis. Akan tetapi tentu sangat di anjurkan agar tidak sampai tertelan. Bila itu pun terjadi karena sebagian ulama fiqih mengatakan bahwa karena tidak najis maka tidak ada masalah, namun sebagai seorang muslim hendaklah kita menjauhi hal-hal yang belum jelas manfaatnya.

Demikian penjelasan tentang menelan air mani (sperma) oleh istri. Semoga taufik dan hidayah senantiasa tercurah untuk kita. Aamiin

Wallahu A’lam 

(Dikutip dari Kitab Syarah Bulughul Marah, Bab III tentang Menghilangkan Najis dan keterangannya. halaman 40 yang di tulis oleh Al- Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani, syarah dan ta'liq oleh syaikh Shafiyurahman al-Mubarakfury)

Jangan Rampas Kegembiraan "Malaikat" Kecil Di Masjid

12:18 PM Add Comment
Jangan Rampas Kegembiraan "Malaikat" Kecil Di Masjid

Anak adalah “Malaikat” Kecil Kita

Anak merupakan anugerah Allah SWT bagi setiap orang tua dan kehadirannya selalu dinanti oleh setiap pasangan yang sudah menikah. Anak-anak ibarat benih yang dapat tumbuh dengan baik apabila dididik dengan baik. Salah satunya adalah dengan membiasakan mereka datang ke masjid. Dalam hal ini, Islam sangat peduli dengan anak-anak, dan memerintahkan para ayah dan orang tua juga kerabat yang bertanggungjawab atas mereka untuk menyuruh dan mengajak shalat sejak umur tujuh tahun. Dan tempat yang benar dalam mengajarkan anak-anak shalat serta membaca Al-Qur`an juga belajar tentang agama Islam adalah Masjid.

Namun, banyak diantara jamaah atau pengurus masjid tidak sabar menghadapi anak-anak. Mereka khawatir kebiasaan ribut anak-anak tersebut mengganggu kekhusukkan orang yang sedang beribadah. Sehingga tidak jarang mereka dimarahi atau diusir untuk keluar, namun Islam melarang memarahi anak-anak di masjid. Ada banyak dampak buruk yang akan dialami anak ketika orang tua melakukan hal tersebut. Mereka akan malas datang kembali ke masjid. Tidak hanya saat masih kecil saja, efeknya akan mereka rasakan hingga dewasa. Nabi Muhammad SAW justru mengajarkan kita, beliau berinteraksi dengan anak-anak di masjid saat shalat.

Sebagai orang dewasa, janganlah membuat anak-anak kita bingung dan kecewa. Anak-anak kecil saat mengaji selalu dinasihati ustadznya, "Jika adzan sudah berkumandang, segeralah pergi ke masjid untuk sholat berjamaah". Nasihat tersebut menjadi dasar mengapa anak-anak selalu riang gembira di dalam masjid.

Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita bagaimana seharusnya memperlakukan anak-anak saat mereka berada di masjid: 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، قَالَ أَبِي: فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»(رواه النسائي والحاكم وصححه ووافقه الذهبي)

Teman dekat Nabi yang bernama Syaddad ra. meriwayatkan, kalau Rasulullah SAW datang – ke masjid- ingin solat Isya atau Dzuhur atau Asar sembari membawa -salah satu cucunya- Hasan atau Husein, lantas Nabi maju kedepan untuk mengimami solat serta menempatkan cucunya di sebelahnya, lalu nabi mengangkat takbiratul ihram memulai sholat. Ketika sujud, Nabi sujudnya begitu lama serta tak umumnya, jadi saya diam-diam mengangkat kepala saya untuk lihat apa kiranya yang berlangsung, serta benar saja, saya lihat cucu nabi tengah menunggangi belakang nabi yang tengah bersujud, sesudah lihat peristiwa itu saya kembali sujud berbarengan makmum yang lain. Saat usai sholat, beberapa orang repot ajukan pertanyaan,

“Wahai Rasulullah, baginda sujud begitu lama sekali tadi, hingga kami pernah menduga sudah berlangsung apa-apa atau baginda tengah terima wahyu. ” Rasulullah menjawab, “Tidak, tak, tak berlangsung apa-apa, hanya tadi cucuku mengendaraiku, serta saya tidak ingin memburu-burunya hingga dia merampungkan mainnya dengan sendirinya.” (H. R. Nasa’i serta Hakim)

Jika anak-anak muslim berlari, riang gembira di masjid, ingatkanlah mereka dengan lemah lembut dan kasih sayang. Sebenarnya mereka adalah “Malaikat” yang sedang bergembira dan memakmurkan rumah Robb-Nya.

Kalau pun sebagian anak-anak yang datang ke masjid sering menjadi gangguan bagi orang-orang yang sedang shalat, baik karena suara tangisan mereka dan kegaduhannya, hendaklah jamaah atau pengurus masjid merespon dan mengingatkan mereka dengan kasih sayang dan bijaksana.

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّيْ لَأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَزُ فِيْ صَلاَتِيْ مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّة وَجدِ أمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ

Dari Anas bin Malik, bahwasannya Nabi SAW pernah bersabda “Sungguh aku akan memulai shalat (berjama’ah) dan aku ingin memperpanjangnya. Namun tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bayi. Maka aku memperingan (memperpendek) shalatku, karena aku mengetahui betapa cintanya (gelisahnya) ibunya terhadap tangis (anak)-nya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Muhammad Al fatih Sang Penakluk Konstantinopel pernah berkata: “Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid, maka waspadalah! Saat itu kalian dalam bahaya.”

Allah memerintahkan kita agar meneladani Rasulullah dalam segala hal, baik terkait urusan dunia maupun akhirat, sehingga sudah selayaknya kita mengikuti dan meneladani Rasulullah dalam membiasakan anak-anak kita untuk mendatangi masjid dan bermain di masjid, serta tidak membiarkan mereka melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sehingga siapapun tidak boleh mengusir anak-anak dari masjid, sebab mereka adalah pemuda-pemuda harapan masa depan.

Hikmah dari hal ini adalah untuk membiasakan mereka dalam ketaatan kepada Rabb semesta alam, menghadiri sholat berjamaah mulai sejak kecil, karena sesungguhnya pemandangan yang mereka lihat dan dengar saat di masjid seperti: dzikir, bacaan qur’an, takbir, tahmid, dan tasbih itu memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, tanpa mereka sadari hingga dewasa nanti. Maka dari itu, biasakan anak kita mengenal masjid dan ajak mereka untuk sholat di masjid.
( Lastri Susanti, S. Kom,I/muslimharian.com)

Sumber Ilustrasi :chinatimes.com

Inilah 5 Cara Yang Paling Dianjurkan Islam Untuk Meredakan Amarah dan Emosi

8:40 PM Add Comment
Inilah 5 Cara Yang Paling Dianjurkan Islam Untuk Meredakan Amarah dan Emosi

PERNAHKAH ANDA MARAH?

Setiap orang pasti penah mengalami situasi marah atau emosi dalam hidupnya. Marah tidak dilarang dalam Islam. Marah adalah gejolak emosi yang diungkapkan dengan perbuatan atau ekspresi untuk memperoleh kepuasan.

Marah juga merupakan sifat bawaan manusia yang memiliki manfaat dan kemaslahatan tersendiri. Jika seseorang tidak bisa marah, maka dikatakan orang tersebut terdapat kekurangan pada dirinya. Oleh karena itu, orang yang kehilangan sifat ini maka ia akan menjadi bahan hinaan, ejekan dan pelecehan di antara sesamanya, hanya saja kemarahan tersebut harus diterapkan pada tempatnya. Jika melampaui batas, maka akan menimbulkan bahaya dan fitnah yang besar sehingga menjadi sifat tercela yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.

Islam adalah agama yang sempurna dan ‘arif dalam mengatur segala sendi kehidupan, mampu memberikan solusi dalam segala permasalahan. Begitu juga dengan hal emosi atau marah, Islam mengajarkan cara-cara yang baik dan santun untuk mengendalikannya agar manusia tidak terjerumus kedalam dosa besar yang diakibatkan oleh marah tesebut. Ada pun cara-cara yang dianjurkan Islam agar dapat meredakan amarah sebagai berikut:

I. MEMBACA TA’AWUDZ:

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah dari setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, ketika manusia dilanda rasa marah atau emosi maka segeralah meminta perlindungan kepada Allah dari godaan dan bisikan syetan yang dikutuk.

II. MENJAGA LISAN DENGAN DIAM

Diam dianjurkan bagi orang yang sedang marah atau emosi, karena orang yang sedang marah biasanya akan berbicara tanpa kendali, mengeluarkan perkataan kotor, sumpah serapah, bahkan bisa berujung pada perkataan syirik. Oleh karena itu, diam merupakan cara ampuh untuk meredam marah dan menghindari dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengumpat, mencaci maki, sumpah serapah yang diucapkan saat seseorang marah bisa jadi dicatat Allah sebagai dosa yang akan dihisab di yaumal qiyamah kelah. Oleh karena itu, diam dan jaga lisan sangat baik dan diharuskan bagi orang yang sedang marah agar tidak menyesal di kemudian hari baik di dunia maupun di akhirat kelak.

III. MENGINGAT KEUTAMAAN MENJAGA EMOSI DAN AKIBAT YANG DITIMBULKANNYA

Keutamaan dan manfaat menjaga emosi atau marah ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah sebagai penyemangat kita dalam menahan emosi. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan dipanggil Allah di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia kehendaki”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Ada pun akibat yang ditimbulkan dari emosi tersebut sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, diantaaranya hasad, hasud, iri, dengki, dsb.

IV. MERUBAH POSISI

Orang marah selalu merasa lebih tinggi dan benar. Dia ingin selalu dimengerti dan dituruti. Bisa saja ia melampiaskan amarahnya dengan berbagai cara. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan dan memberi saran kepada kita sebaliknya agar bisa meredam marah dengan mengambil posisi yang lebih rendah.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW menasehatkan,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad)

Dari hadist di atas dapat diambil kesimpulan bahwa saat seseorang marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ambil posisi serendah-rendahnya dengan cara duduk dan jika emosi belum reda maka ambil posisi berbaring.

V. BERWUDHU ATAU MANDI

Marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan api tersebut dengan air yang dingin.

Dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, mengatakan,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Amarah itu seperti api. Ketika seseorang marah, dia menampilkan sifat setan., setan adalah makhluk Allah yang sombong. Sebagaimana dalam Al Qur`an Surat Al A’raf ayat 12: “Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah.”

Ketika marah melanda seseoran, maka muncul percikan api di dadanya yang kemudian memnbakaar dan memdidihkan darah, kemudian mengalir melalui pembuluh darah, naik ke bagian atas tubuh seperti naiknya air yang mendidih ke bagian atas wajan yang dibakar.

Oleh karena itu, hendaklah mengambil air wudhu atau mandi saat kemarahan muncul agar kita selamat dari tercampurnya sifat setan dalam diri dan dapat menentramkan hatinya.

Demikian ulasan mengenai cara merdakan amarah menurut syari’at Islam. Semoga kita mampu memanage emosi yang ada dalam diri kita dan semata-mata hanya mencari ridho Allah SWT.

Semoga taufiq dan hidayah Allah senantiasa menyertai langkah kita. Aamiin 

(Lastri Susanti, S. Kom, I/ muslimharian.com)