Inilah 5 Cara Yang Paling Dianjurkan Islam Untuk Meredakan Amarah dan Emosi

8:40 PM
Inilah 5 Cara Yang Paling Dianjurkan Islam Untuk Meredakan Amarah dan Emosi

PERNAHKAH ANDA MARAH?

Setiap orang pasti penah mengalami situasi marah atau emosi dalam hidupnya. Marah tidak dilarang dalam Islam. Marah adalah gejolak emosi yang diungkapkan dengan perbuatan atau ekspresi untuk memperoleh kepuasan.

Marah juga merupakan sifat bawaan manusia yang memiliki manfaat dan kemaslahatan tersendiri. Jika seseorang tidak bisa marah, maka dikatakan orang tersebut terdapat kekurangan pada dirinya. Oleh karena itu, orang yang kehilangan sifat ini maka ia akan menjadi bahan hinaan, ejekan dan pelecehan di antara sesamanya, hanya saja kemarahan tersebut harus diterapkan pada tempatnya. Jika melampaui batas, maka akan menimbulkan bahaya dan fitnah yang besar sehingga menjadi sifat tercela yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.

Islam adalah agama yang sempurna dan ‘arif dalam mengatur segala sendi kehidupan, mampu memberikan solusi dalam segala permasalahan. Begitu juga dengan hal emosi atau marah, Islam mengajarkan cara-cara yang baik dan santun untuk mengendalikannya agar manusia tidak terjerumus kedalam dosa besar yang diakibatkan oleh marah tesebut. Ada pun cara-cara yang dianjurkan Islam agar dapat meredakan amarah sebagai berikut:

I. MEMBACA TA’AWUDZ:

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah dari setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, ketika manusia dilanda rasa marah atau emosi maka segeralah meminta perlindungan kepada Allah dari godaan dan bisikan syetan yang dikutuk.

II. MENJAGA LISAN DENGAN DIAM

Diam dianjurkan bagi orang yang sedang marah atau emosi, karena orang yang sedang marah biasanya akan berbicara tanpa kendali, mengeluarkan perkataan kotor, sumpah serapah, bahkan bisa berujung pada perkataan syirik. Oleh karena itu, diam merupakan cara ampuh untuk meredam marah dan menghindari dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengumpat, mencaci maki, sumpah serapah yang diucapkan saat seseorang marah bisa jadi dicatat Allah sebagai dosa yang akan dihisab di yaumal qiyamah kelah. Oleh karena itu, diam dan jaga lisan sangat baik dan diharuskan bagi orang yang sedang marah agar tidak menyesal di kemudian hari baik di dunia maupun di akhirat kelak.

III. MENGINGAT KEUTAMAAN MENJAGA EMOSI DAN AKIBAT YANG DITIMBULKANNYA

Keutamaan dan manfaat menjaga emosi atau marah ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah sebagai penyemangat kita dalam menahan emosi. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan dipanggil Allah di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia kehendaki”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Ada pun akibat yang ditimbulkan dari emosi tersebut sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, diantaaranya hasad, hasud, iri, dengki, dsb.

IV. MERUBAH POSISI

Orang marah selalu merasa lebih tinggi dan benar. Dia ingin selalu dimengerti dan dituruti. Bisa saja ia melampiaskan amarahnya dengan berbagai cara. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan dan memberi saran kepada kita sebaliknya agar bisa meredam marah dengan mengambil posisi yang lebih rendah.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW menasehatkan,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad)

Dari hadist di atas dapat diambil kesimpulan bahwa saat seseorang marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ambil posisi serendah-rendahnya dengan cara duduk dan jika emosi belum reda maka ambil posisi berbaring.

V. BERWUDHU ATAU MANDI

Marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan api tersebut dengan air yang dingin.

Dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, mengatakan,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Amarah itu seperti api. Ketika seseorang marah, dia menampilkan sifat setan., setan adalah makhluk Allah yang sombong. Sebagaimana dalam Al Qur`an Surat Al A’raf ayat 12: “Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah.”

Ketika marah melanda seseoran, maka muncul percikan api di dadanya yang kemudian memnbakaar dan memdidihkan darah, kemudian mengalir melalui pembuluh darah, naik ke bagian atas tubuh seperti naiknya air yang mendidih ke bagian atas wajan yang dibakar.

Oleh karena itu, hendaklah mengambil air wudhu atau mandi saat kemarahan muncul agar kita selamat dari tercampurnya sifat setan dalam diri dan dapat menentramkan hatinya.

Demikian ulasan mengenai cara merdakan amarah menurut syari’at Islam. Semoga kita mampu memanage emosi yang ada dalam diri kita dan semata-mata hanya mencari ridho Allah SWT.

Semoga taufiq dan hidayah Allah senantiasa menyertai langkah kita. Aamiin 

(Lastri Susanti, S. Kom, I/ muslimharian.com)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Terima kasih untuk tidak berkomentar SPAM dan SARA. Untuk menghindari hal tersebut kami mengaktifkan verifikasi kata dan moderasi komentar. EmoticonEmoticon